Open
Close(X)


EXECUTIVE CORNER CEO TALK
Executive Corner
Tanpa pesaing, Kagum tak akan berkembang

Tanpa pesaing, Kagum tak akan berkembang

Tanpa pesaing, Kagum  tak akan berkembang

Bermula dari berbisnis pakaian dan jins di Bandung, kini Kagum Group telah jauh berkembang. Selain fashion, Kagum Group juga terjun ke bisnis properti, apartemen, dan penerbangan. Nah, apa kiat dan rencana ekspansi berikutnya dari kelompok bisnis ini? Wartawan KONTAN Fransiska Firlana mewawancarai Henry Husada, Presiden Direktur Kagum Group, di kantornya di Kota Kembang, Kamis (19/1) pekan lalu.

Semua berawal ketika saya menyalakan korek api. Benda sekecil itu ternyata mampu menyimpan energi luar biasa yang mampu mengobarkan api yang besar. Saya ingin seperti korek api, biar kecil tapi punya pengaruh yang besar. Saya ingin “membakar” Cihampelas dengan KOREK API yang saya maknai dengan Kemajuan Organisasi Ritel dengan Efektivitas, Kreativitas, Aktualitas, Produktivitas, dan Inovatif.

Tahun 1991, setelah gagal membangun bisnis mebel, saya membuka toko ukuran 40 meter persegi di sisi kanan Jalan Cihampelas dan sepi sekali. Di toko yang saya namai Korek Api Jeans itu, saya hanya menjadi penonton orang jualan. Pemasok barang menertawai karena saking sepinya toko saya.

Bukan sakit hati, kala itu, saya justru berambisi untuk menguasai toko-toko di Cihampelas. Saya juga termotivasi untuk mencari kesalahan saya berbisnis. Dan ternyata, saya menemukannya.

Ternyata, pengunjung Cihampelas lebih suka parkir di kiri jalan dan toko di posisi itu selalu ramai. Dari situ, saya mencoba menyewa toko di sisi kiri jalan Cihampelas. Hasilnya, omzet bisnis saya memang terus berkembang, outlet Korek Api Jeans terus bertambah.

Untuk menarik wisatawan datang ke Bandung dan meramaikan Jl. Cihampelas, kami mencoba menghadirkan nuansa lain daripada yang lain. Toko-toko pakaian atau yang dikenal dengan factory outlet (FO) jaringan Korek Api saya namai dan beri sentuhan desain superhero. Ada Superman, Batman, Spiderman, sampai Hulk.

Tahun 2000, karena jaringan FO sudah banyak, saya membuat usaha dengan nama Kagum Group. Kagum sendiri bermakna Korek Api Guna Mandiri.

Saya tak mau berpuas diri, tahun 2005, ketika hotel-hotel di Bandung banyak yang tutup, saya justru mencoba membangun hotel. Bukan tanpa perhitungan. Kala itu, dicanangkan proyek jalan tol Cipularang untuk memudahkan akomodasi acara Konferensi Asia Afrika alias KAA. Dengan akses tersebut, warga Jakarta yang ingin ke Bandung tentu lebih mudah. Dengan adanya KAA, tentu tingkat kunjungan ke Bandung juga banyak.

Tak mau kehilangan momentum, saya membangun Hotel Grand Serela. Saya dianggap gila, karena justru dengan adanya tol itu, menurut banyak orang, pelancong dari Jakarta bakal cenderung melakukan perjalanan pulang pergi dari Jakarta-Bandung dalam sehari. Alhasil, bisnis hotel akan sepi. Tapi saya punya pemikiran, sekalipun ada pengunjung Bandung yang pulang ke Jakarta, pasti akan ada yang memilih untuk bermalam di Bandung.

Kagum Group menargetkan dalam waktu lima tahun, antara periode 2005 hingga 2010, harus bisa membangun 10 hotel dengan tingkat hunian cukup tinggi, sampai 80%. Hotel yang kami bangun rata-rata bintang 4 supaya bisa dijangkau semua segmen. Hingga sekarang, Kagum Group memiliki 12 hotel, tak hanya di Bandung, tetapi juga
di Bali dan Cirebon.

Hotel yang kami miliki antara lain Grand Seriti, Banana Inn, Golden Flower, Carradin, Amarossa, Gino Feruci, Verona Palace, Grand Serena Kuta, Malaka, dan Grand Tjokro.

Bisnis fashion dengan hotel tentu saling bersinergi satu sama lain untuk mendukung Bandung sebagai kota tujuan wisata. Kagum pun mengembangkan sayap bisnis lain untuk mendukung pariwisata Bandung, yaitu bisnis kuliner. Kagum punya King Dynasty, Zombue Cafe, dan The Centrum sebagai cabang bisnis kuliner.

Cukup sampai di situ? Oh, tentu tidak.

Saya mengoleksi ratusan patung gajah bukan tanpa maksud. Filosofi gajah itu kuat dan tangguh, saya ingin Kagum menjadi perusahaan yang kuat dan tangguh serta mampu menyedot peluang bisnis menjadi kenyataan. Oleh karenanya, untuk mendukung dan mempertahankan kelanggengan bisnis fashion, hotel, dan kuliner kami harus membuka bisnis pendukung lainnya.

Membangun sebuah bisnis itu mudah dibandingkan mempertahankannya. Harus ada akses kemudahan menikmati wisata belanja di Bandung.

Saya berpikir, saat ini bukan zamannya lagi meeting antarkota, tapi meeting antarnegara. Orang Jakarta sudah banyak ke Bandung.

Nah, sekarang, kita harus bisa menggaet wisatawan dari luar negeri. Paling tidak dari Malaysia dan Singapura.

Caranya? Kagum Group membeli dua pesawat BAe 146 yang diberi nama Heritage Air dengan rute penerbangan Bandung–Malaka dan Kuala Trengganu.

Dengan kemudahan transportasi dan magnet pendukung wisata, turis pun tertarik datang. Naik pesawat kita, belanja dan makan di kita, dan menginap juga di hotel kita. Cocok, bukan?

Artinya, ketika saya berambisi mendukung Bandung sebagai kota wisata belanja, langkah itu harus saya ikuti dengan inovasi yang bisa mendukung terwujudnya cita-cita itu. Pada prinsipnya, saya berkarya dan harus bermanfaat bagi orang banyak. Yang ramai bukan hanya bisnis milik Kagum, tapi juga semua orang merasakan dampak positif dengan majunya pariwisata Bandung.

Saya senang pesaing bermunculan. Dengan banyaknya pemain di bidang fashion, hotel, atau kuliner, tentu hal itu akan semakin meramaikan Bandung. Wisatawan lokal atau mancanegara akan lebih senang karena banyak pilihan.

Seandainya tidak ada pesaing, Kagum tidak akan berkembang seperti ini.

Agresif di properti dan hotel

Karena ingin berkarya dan bermanfaat untuk orang banyak, Kagum hadir dengan membangun apartemen untuk kalangan menengah. Apartemen yang kami miliki antara lain City Light Hotel, Grand Asia Afrika Residence, Grand Dago Apartment, The Jarrdin Apartment, dan MT Haryono Residence. Harga yang ditawarkan sekitar Rp 200 juta.

Sejak tahun 2010, saya menyerahkan divisi fashion Kagum Group pada Resti Stephanie Husada, anak kedua saya. Tak ada target soal penambahan FO. Yang jelas, kami akan fokus dan mengoptimalkan 23 FO yang sudah ada, supaya hasilnya lebih optimal.

Demikian pula dengan bisnis penerbangan. Belum ada ekspansi yang signifikan. Kami fokus memaksimalkan dua pesawat kami.

Tahun ini saya sedang menyiapkan suatu gebrakan baru dalam bisnis transportasi yang akan memberikan kemudahan akses bagi semua orang Indonesia. Tunggu saja, saya belum bisa mengungkapkan sebelum semuanya siap. Yang jelas, kejutan itu akan hadir tahun ini juga.

Tahun ini, saya juga akan fokus untuk mengembangkan bidang properti dan hotel. Setidaknya, akan ada 13 hotel baru yang akan dibuka tahun ini dan awal tahun depan. Dari jumlah itu, enam hotel di Bandung dan tujuh hotel di Bali.

Lagi-lagi, saya tidak mau kehilangan momentum. Tahun 2013, di Nusa Dua Bali akan diselenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi APEC. Saya mengejar pembangunan hotel di sana supaya bisa selesai tepat waktu. Total akan dibangun 600 kamar dengan investasi sebesar Rp 800 juta per kamar.

Di bisnis apartemen, kami akan menambah 10.000 unit tahun ini di empat lokasi di Bandung, masing-masing lokasi berisi 2.500 unit dengan nilai jual Rp 200 juta per unit. Artinya, target omzet satu lokasi sebesar Rp 500 miliar.

Saat ini, Kagum fokus dalam pengembangan bisnis di dalam negeri, karena memang ingin menarik wisatawan asing ke dalam negeri. Kami aktif berpromosi ke luar, dan hasilnya tamu hotel kami tidak hanya dari Malaysia dan Singapura, tetapi juga dari negara di wilayah Asia Tenggara dan Timur Tengah.



Komentar