: WIB    —   
indikator  I  

Ada perubahan pola konsumsi milenial

Oleh Medina Latief
Ada perubahan pola konsumsi milenial

 

Jadi, saya tidak mau membuat sekat atau tembok antara saya dan bawahan. Kalau Anda perhatikan, pintu ruangan saya selalu terbuka.

Itu artinya kan saya tidak membuat jarak dengan karyawan, mereka bisa masuk untuk bertemu saya untuk berdiskusi. Open door policy kalau boleh dibilang, itu yang saya lakukan.

Mendorong forum yang interaktif juga terus saya lakukan, dengan membangun komunikasi dua arah yang baik dan fair tentunya.

Saya selaku pimpinan kan harus membuat keputusan terkait sesuatu hal dan untuk mendapat masukan pastinya saya akan meminta pendapat dari rekan-rekan di board of director.

Mereka tentunya punya pendapat yang berbeda dan saya sebagai pimpinan harus menimbang.

Ketika saya mengambil satu keputusan, itu bukan masalah ego dan saya juga pasti transparan kenapa saya mengambil keputusan tersebut.

Dalam melakukan pekerjaan, saya akan memonitor namun tidak akan mengarahkan. Jadi, saya punya visi, kemudian key people yang ditunjuk dibriefing dan menerjemahkan dalam rencana bisnis. Dia nantinya akan mewujudkan dengan terlebih dahulu menyepakati KPI.

Setiap bulan mereka akan memberikan progres dan setiap dua minggu mereka akan memberikan laporan kepada saya apa yang terjadi.

Jadi, saya memberikan kebebasan kepada seseorang, dia akan melakukan sesuai dengan caranya serta kreativitasnya. Namun, ia pun harus bertanggung jawab terhadap kebebasan yang diberikan.

Saya juga percaya setiap orang pantas mendapatkan kesempatan dan kalaupun berbuat salah, saya akan memberikan kesempatan kedua. Selama memang itu untuk kepentingan perusahaan.

Cuma, bagi saya yang paling penting adalah kejujuran dan intentions atau niat. Itu yang terutama. Kalau sudah niatnya buruk, apakah itu tidak jujur, manipulasi atau tidak punya integritas. Seberapa pun pintar orang itu, lebih baik keluar.

Kalau orang punya niat baik dan jujur, itu kan artinya dia mau berusaha melakukan sesuatu. Walaupun salah, tapi jika dia melaksanakan dengan niat yang baik, sesuai dengan koridor yang berlaku dan demi kepentingan perusahaan, itu sangat saya hargai dan pasti akan saya beri kesempatan kedua.

Orang yang jujur, memiliki integritas tinggi serta disiplin jauh lebih baik ketimbang seseorang yang ahli namun punya attitude yang buruk.

Skill itu bisa dipupuk seiring dengan lama kita bekerja, namun yang namanya kejujuran dan kedisiplinan itu sudah karakter. Jadi, saya mengharapkan seluruh karyawan Pasaraya untuk memiliki kualitas tersebut.

Tapi, saya juga akan memberikan warning kepada orang yang tidak memenuhi kualitas yang saya harapkan. Kualitas tersebut adalah kedisiplinan. Kedisiplinan ini saya nilai dari yang paling kecil, yakni melihat absensi.

Mengapa absensi? Karena Pasaraya ini kan buka pukul 10.00. Artinya, staf pukul 09.00 sudah harus ada di kantor atau di tempat untuk preparation, bahkan di beberapa area mereka bisa harus ada pukul 08.00.

Jika absensi saja tidak disiplin, bagaimana performa bisa bagus? Tentu fair bila saya memberikan warning. Sebaliknya, kala ada karyawan berprestasi dan mampu menjaga kedisiplinan, pasti akan saya beri reward.

Saya ingin fair kepada kinerja karyawan, karena saya pernah merasakan rasanya menjadi karyawan. Kinerja saya pun pernah dinilai. 

* Artikel ini sebelumnya sudah dimuat di Tabloid KONTAN edisi 13 November 2017. Selengkapnya silakan klik link berikut: "Ada Perubahan Pola Konsumsi Milenial"