: WIB    —   
indikator  I  

Anak-anak muda jadi tulang punggung BCA

Oleh Jahja Setiaatmadja
Anak-anak muda jadi tulang punggung BCA

Menjadi bank swasta terbesar di negeri ini membuat langkah PT Bank Central Asia (BCA) selalu menjadi sorotan. Bagaimana strategi dan transformasi BCA ke depan?

Pada Jurnalis KONTAN Cipta Wahyana dan Agung Jatmiko, Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk berbagi pandangan.

Kinerja BCA sampai kuartal III 2017 bagus. Kami tetap mencatatkan pertumbuhan. Kami berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp 16,8 triliun, naik 11,3% dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 15,1 triliun. Pendapatan operasional juga tumbuh 5,2% menjadi Rp 41,7 triliun.

Memang di beberapa anak usaha, misalnya di sekuritas, kami agak slow down. Yang perlu saya tegaskan, fokus BCA di bidang pasar modal adalah korporasi, meski kami juga menggarap segmen ritel.

Nasabah korporasi besar kami ada sekitar 300, belum lagi nasabah kami yang saat ini statusnya perusahaan menengah, tapi memiliki potensi jadi besar.

Periode 2011 sampai 2014 memang pasar begitu bagus. Tapi sejak tahun 2015 dan 2016, pasar mengalami perlambatan, mulai dari underwriting untuk obligasi dan penjaminan emisi agak slowdown.

Inilah mengapa BCA Sekuritas agak slow down. Wacana terjun ke bisnis aset manajemen memang sempat muncul di permukaan, namun saya rasa itu masih nanti. Sebab, tidak mudah mencari produk dan orang yang mampu mengelola produk tersebut.

Untuk lini lain seperti teknologi finansial (tekfin), kami sudah link dengan beberapa perusahaan tekfin sebagai mitra bisnis. Tren tekfin saya rasa akan terus berkembang.

Maka, kami menyiapkan modal ventura untuk mengembangkan bibit-bibit tekfin baru yang bisa dipadukan dengan produk-produk perbankan kami. Makanya, sekarang ini kan sudah ada Sakuku dan Click Pay.

Kalau untuk internet banking, kami sudah punya dan terus kami tingkatkan. Kami mengharapkan aplikasi kami menjadi pondasi dari platform baru bagi nasabah kami.

BCA saya rasa akan selalu mengikuti perubahan zaman. Sebab, kami tidak mau seperti banyak perusahaan yang abai terhadap perubahan, kemudian hilang.


Close [X]