Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Bekerja dengan Hati

Oleh Yanti Parapat
Bekerja dengan Hati

Di tengah sengitnya kompetisi, sebagai pimpinan saya selalu menekankan pentingnya bekerja dengan hati. Ketika kita bekerja dengan hati, hal-hal yang sulit akan terasa mudah. Meski dibebankan target yang tinggi sekalipun, pikiran kita akan melihatnya sebagai sesuatu yang tidak mustahil untuk dilakukan.

Selain itu, dengan hati pula kita jadi tidak hitung-hitungan, alhasil kerja tim pun bisa terwujud dengan baik. Bekerja dengan hati pada akhirnya mendorong budaya inovasi.

Nah, di era digital seperti sekarang, yang namanya inovasi menjadi suatu keharusan dan kecepatannya pun tak bisa seperti dulu lagi.

Inovasi tidak akan bisa tumbuh dalam diri seseorang jika pikirannya terlalu terbebani dengan tantangan yang diberikan. Bekerja dengan hati pula yang membuat mata kita lebih tajam terhadap kesempatan atau opportunity.

Itu yang saya tekankan di Axa Life, serta memandang pekerjaan sebagai passion. Jadi datang ke kantor juga perlu siapkan hati, siapkan pribadi kita bahwa hari demi hari bersama-sama membawa perubahan, produk-produknya semakin inovatif, membawa kemudahan bagi nasabah serta menguatkan team work.

Oh, iya. Team work memang sangat penting. Tapi saya tetap mengharapkan adanya karyawan yang menonjol kinerjanya, sehingga bisa menjadi pemimpin.

Keberadaan karyawan yang mampu menjadi pemimpin, mampu memberi inspirasi kepada kawan-kawannya itu harus ada dalam setiap perusahaan, termasuk di Axa Life. Kebersamaan yang pasif juga tentu tidak baik bagi perusahaan.

Saya pun dalam bekerja dan memimpin juga disertai dengan hati, tanpa mengabaikan ketegasan bahkan cara keras. Sebab hal ini penting untuk membangun dan menjaga kedisiplinan.

Bekerja dengan hati bisa "diembuskan" lewat motivasi atau dari percakapan sehari-hari. Namun yang namanya kedisiplinan itu merupakan karakter yang melekat dan harus ditegaskan.

Kedisiplinan ini tak hanya terwujud dari datang ke kantor tepat waktu. Tapi diwujudkan pada konsistensi mengikuti aturan perusahaan serta standar operasi perusahaan serta mampu mencapai target yang ditentukan dengan cara-cara yang sesuai etika. Artinya tidak melakukan fraud.

Kalau ada yang tidak mencapai target tentu ada sanksi. Sebaliknya jika mampu mencapai target atau bahkan melebihi target ya pastinya ada reward menanti.

Untuk urusan fraud atau memantau karyawan agar mengikuti standar operasi yang ada, kami memiliki yang namanya sales quality team atau SQT. Tugasnya adalah, memantau kualitas tenaga pemasaran kami.

Karena kami mengandalkan telemarketing, tentu percakapannya juga bisa dipantau. Jika ada yang tak sesuai dengan aturan yang kami terapkan, akan dikenai teguran mulai dari teguran pertama sampai ketiga. Jika sampai teguran ketiga tidak ada perubahan maka lebih keluar.

Ini bukan saya tega apalagi kejam. Tidak seperti itu.

Saya selalu mempercayai adanya kesempatan, bahwa jika seseorang melakukan kesalahan maka ia berhak mendapatkan kesempatan untuk memperbaikinya. Makanya, saya memberikan kesempatan sampai tiga kali kan, terwujud dari teguran yang bisa sampai tiga kali.

Kalau lewat dari itu, ya, berarti orang tersebut yang tidak mau berubah. Artinya, ia tidak bekerja dengan hati dan keberadaannya bisa mengganggu seluruh tim.

 

Sumber: Harian KONTAN edisi 1 April 2017