Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Bekerja untuk melayani

Oleh Wahyu
Bekerja untuk melayani

Memimpin sebuah perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti PT pertani bukanlah pekerjaan mudah. Pasalnya, ketika saya masuk, perusahaan ini mewarisi utang sekitar Rp 1 triliun. Padahal perusahaan ini tak punya piutang ke pihak lain sepeser pun. Saya menilai jelas, ini butuh perbaikan dan usaha yang luar biasa.

Saya berupaya menerapkan prinsip bekerja untuk melayani sebagai jurus utama untuk memperbaiki kondisi perusahaan. Jujur, prinsip dan filosofi bekerja untuk melayani ini baru saya pelajari dan implementasikan ketika ditunjuk menjadi Direktur Pengadaan Perum Bulog pada Juli 2015 silam atau belum terlalu lama.

Saya memetik filosofi yang bagus ini karena Bulog ketika itu memang sedang konsolidasi agar semua jajaran direksi bekerja maksimal. Apalagi, sebagai perusahaan BUMN atau wakil pemerintah, tugas pemimpin dan para direksi adalah melayani publik.

Dengan bekerja untuk melayani berarti ada upaya untuk membuat terobosan. Karena melayani tak hanya sekedar memberikan pelayanan tetapi juga agar tercipta kepuasan yang baik bagi pemberi pelayanan dan penerima layanan itu sendiri.

Di Bulog, budaya bekerja untuk melayani ini berkembang karena Bulog selaku pemasok beras untuk rakyat miskin (raskin) selama ini dianggap tak lebih dari sekedar penyalur beras. Padahal, sejatinya ada fungsi pelayanan masyarakat di sana.

Jadi, Bulog memberikan beras kepada rakyat miskin dengan seluruh aspek standar pelayanan minimum terpenuhi. Nah, inilah yang sedang dikembangkan ketika saya di Bulog dan saya coba bawa ke pertani karena fungsi pertani juga melayani masyarakat sama seperti Bulog.

Saya menilai prinsip yang saya bawa ini saya coba tularkan ke para karyawan pertani. Saat saya tiba di sini bulan November 2016, saya menilai karyawan seperti tak ada harapan karena kondisi keuangan perusahaan membuat semangat kerja mereka rendah.

Karyawan menjadi pihak yang paling penting untuk mengetahui maksud prinsip bekerja untuk melayani. Hal ini karena sebagai karyawan BUMN, mereka adalah pelayan masyarakat sama seperti para pimpinan perusahaannya.

Saya yakin dengan mengedepankan prinsip ini, maka pola komunikasi baik internal dan eksternal perusahaan akan terasa baik dan otomatis bisa berpengaruh pada kinerja perusahaan. Selain itu, dengan melayani berarti karyawan hingga pimpinan perusahaan berarti mau mendengar apapun dari masyarakat yang dilayaninya sebagai bahan evaluasi dan perbaikan ke depan.

Dari situ, semua jajaran di perusahaan bisa sama-sama berpikir tentang ide dan terobosan yang harus dilakukan agar masyarakat selaku konsumen yang dilayani merasa diakomodir.

Jika seluruh komponen perusahaan sudah menyadari makna dari prinsip ini, saya yakin kinerja perusahaan tak lagi merah. Mengingat visi dari perusahaan sudah harmonis dan dinamika yang terjadi bisa diselesaikan dengan baik.

Selain itu, harus dipastikan bahwa pengorbanan untuk melayani dilakukan sepenuh hati, bukan sekadar komitmen kata, tetapi juga tindakan. Hal ini penting karena pertani berkiprah di bidang pertanian yang erat kaitannya dengan petani.

Mayoritas petani bukanlah sosok yang betah berlama-lama diberikan penjelasan lewat kata melainkan juga lewat kerja nyata di lapangan. Petani selaku mitra strategis pertani menginginkan pelayanan yang mudah , cepat, dan tidak rumit.Sumber: Harian KONTAN edisi 18 Februari 2017