EXECUTIVE CORNER KOPI PAGI
Executive Corner
Belajar dari Pak Met

Belajar dari Pak Met

Belajar dari Pak Met

Awal karier saya adalah sebagai bankir, tepatnya sebagai investment banker. Mulai berkarier di Bank of America dan posisi terakhir sebagai Managing Director di Standard Chartered Bank Indonesia.

Saya pada gilirannya berkarier ke sektor riil karena dua alasan. Pertama, saya memiliki passion dengan pekerjaan ini. Sangat menyenangkan rasanya mengerjakan sesuatu yang kita cintai.

Faktor kedua, saya terinspirasi oleh seseorang. Awal mulanya begini.

Profesi sebagai bankir investasi ini menuntut saya untuk terus mencari berbagai perusahaan potensial. Sebab, tugas investment banker adalah mencarikan tempat investasi. Ada perusahaan yang bagus, kami masuk dengan modal investasi.

Secara langsung, profesi ini mengantarkan saya berjumpa dengan banyak pengusaha, sekaligus mengenal perusahaannya. Dari sekian perusahaan yang saya temui, beberapa di antaranya membuat saya terkesan. Di antara yang sedikit itu, Grup Tiara Marga Trakindo (TMT), induk usaha ABM Investama, termasuk di dalamnya.

Perusahaan yang lebih dikenal dengan nama Trakindo ini dikendalikan oleh keluarga Hamami. Pada mulanya, jarang sekali orang yang mengenal siapa pemilik Grup Trakindo. Meskipun banyak yang tahu bahwa Trakindo adalah distributor alat berat  merek Caterpillar.

Sampai beberapa waktu lalu, orang masih asing dengan nama Ahmad "Met" Hamami. Baru belakangan ini, terutama setelah Forbes memasukkannya sebagai orang terkaya Indonesia di peringkat 10, nama Met Hamami mulai muncul ke permukaan. Orang pun faham, pemilik Trakindo adalah Pak Ahmad "Met" Hamami.

Apa yang membuat saya terkesan dengan pria ini? Dia orang yang humble. Pak Met juga low profile, sementara  semangatnya patut ditiru.

Pak Met selalu mengatakan: make it happen. Wujudkan apa yang menjadi keinginan kita. Tidak ada sesuatu yang mustahil diraih kalau kita mau melakukannya.

Pak Met juga lebih banyak memberi contoh daripada kata perintah. Sebagai misal, meski berumur 83 tahun dan boleh dibilang nyaris buta, dia tetap memiliki semangat bekerja. Setiap hari Pak Met datang ke kantornya pukul 7.40 WIB dan pulang dari kantor jam lima sore.

Nah, bayangkan, sang pendiri yang sudah berusia tua, dengan segala keterbatasannya saja masih punya semangat seperti ini, mengapa yang muda-muda tidak?

Begitu pula dalam urusan memberi manfaat bagi orang lain. Selama 40 tahun perusahaan ini berdiri, tidak pernah sekali pun Pak Met Hamami meminta pembagian dividen dari keuntungan perusahaan. Justru yang Pak Met katakan adalah berapa banyak jumlah pegawai yang sudah berhasil ditambah oleh Grup TMT.

Seringkali kita menjumpai orang-orang yang inspiratif, memberikan motivasi dan pengaruh besar bagi komunitasnya. Tidak selalu berstatus pemimpin resmi. Banyak orang biasa, bukan siapa-siapa, namun inspiring bagi sekelilingnya.

Mengapa bisa demikian? Biasanya orang itu memiliki integritas (kejujuran) dan kerendahan hati.

Orang berintegritas lebih mudah dipercaya. Dia juga menjadi panutan karena satunya perbuatan dengan perkataan. Pepatah di Amerika menyatakan: walk the talk, satunya kata dan perbuatan.

Kita tidak bisa meminta orang lain mengikuti kita, sementara kita sendiri tidak melakukannya.

Sikap rendah hati juga memberikan semacam garansi bahwa kita aman berada di sekitarnya. Perbuatannya tak mungkin menyakiti sesamanya.

Perusahaan yang memiliki atau dikendalikan orang-orang berkarakter seperti ini niscaya perjalanannya akan lebih positif.  



Komentar