: WIB    —   
indikator  I  

Berani menerima tantangan baru

Oleh Dendy Kurniawan
Berani menerima tantangan baru

Dalam menjalani karier pekerjaan, saya berprinsip untuk selalu berani mencoba tantangan baru. Bahkan, sekalipun saya tidak memiliki latar belakang pendidikan dan pengalaman di bidang tersebut.

Saya sendiri seorang sarjana teknik industri, tapi awal berkarier saya justru bergabung dengan perusahaan konsultan ekonomi dan keuangan bernama Econit Advisory Group di Jakarta.

Selanjutnya, saya keterusan berkarier di bidang keuangan. Terakhir saya memimpin Quant Capital Management, perusahaan manajer investasi.

Dari bidang keuangan dan pasar modal, saya lompat ke sektor energi dengan bergabung di PT Geo Dipa Energi (Persero) sebagai direktur keuangan. Ini juga sektor yang sangat baru. Sebelumnya saya sama sekali tidak punya pengalaman di sektor ini.

Tapi saya menerimanya sebagai tantangan yang harus dijalani. Lima tahun saya berkarier di Geo Dipa dan selanjutnya saya masuk lagi ke sektor yang baru, kali ini industri penerbangan.

Saya ditawari pemilik AirAsia Group, Tony Fernandes untuk bergabung di perusahaannya. Dengan prinsip berani menerima tantangan baru, ya saya ambil.

Saya bergabung di PT Indonesia AirAsia X pada Mei 2014 sebagai direktur keuangan. Tujuh bulan kemudian, saya diangkat menjadi CEO AirAsia Indonesia X.

Bisnis penerbangan merupakan bisnis berisiko tinggi, baik dari sisi keuangan, operasional, dan pemasaran. Hal ini terlihat dengan banyaknya maskapai yang tumbang di Tanah Air.

Toh, amanah ini memacu saya untuk bekerja lebih keras dan membuktikan diri layak berada di posisi ini. Karena saya suka tantangan yang diberikan, setiap proses pekerjaan saya lakukan.

Termasuk ketika diangkat menjadi CEO AirAsia Group Indonesia pada September 2016. Pesan Pak Tony harus profitable dan jadi perusahaan terbuka tahun 2017.

Saya selalu optimistis ketika diminta memegang tanggung jawab CEO. Memang tidak mudah. Oleh karena itu diperlukan perencanaan matang dan strategi untuk mencapainya.

Saya memiliki siasat untuk membuat AirAsia Indonesia menjadi perusahaan yang tidak kaku dan terbuka bagi para pegawai. Dalam memimpin ribuan orang pegawai AirAsia, saya mempunyai dua cara.

Pertama, seluruh karyawan dibebaskan untuk berkreasi dan mengeluarkan ide kreatif. Tidak berarti melanggar aturan yang ada, melainkan saya menerapkan agar cara berpikir karyawan bebas dan tidak dibatasi.

Kedua, setiap jabatan yang diberikan oleh pimpinan harus dipertanggungjawabkan. Bagi saya, setiap pegawai yang sudah diberi posisi atas harus bisa mengayomi dan melindungi anak buah.

Pemimpin harus memberi ketenangan bukan hanya menyuruh dan menyalahkan. Dan sebagai role model, saya juga memberi contoh untuk bisa menghadapi level menteri maupun menghadapi setiap masalah.

Selain itu, saya juga menerapkan pola pemberian reward dan punishment kepada para pegawainya. Tujuannya agar pegawai yang memiliki kinerja baik terus ditingkatkan dan yang lain terpacu untuk bersaing.

Sumber: Harian KONTAN 7 Januari 2017


Close [X]