Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Berpegang pada tiga pesan

Oleh Yulina Hastuti
Berpegang pada tiga pesan

Pemilihan saya sebagai Direktur Utama TIKI bukan semata karena saya adalah pewaris perusahaan. Tetapi juga karena saya dianggap mampu berkontribusi dan menaikkan omzet perusahaan selama menjadi direktur pemasaran 2012-2014.

Ayah dan ibu pasti memiliki pertimbangan masak-masak sebelum menunjuk saya sebagai Direktur Utama TIKI ketimbang saudara saya yang lain.

Meski baru empat tahun berkecimpung di perusahaan ini, saya telah mengenal bisnis dari orang tua sejak kecil. Apalagi, usia perusahaan ini sama dengan usia saya.

Saya pertama bergabung di TIKI pada tahun 2012. Saya diangkat menjadi Direktur Pemasaran TIKI.

Merasa butuh pencerahan dari banyak pihak, saya memutuskan untuk terjun langsung ke lapangan dan melihat langsung bagaimana para pegawai bekerja. Dari situ, saya belajar mengenai usaha ini, bagaimana proses pekerjaannya, serta masalah apa saja yang ada dan dihadapi selama ini.

Intinya, saya tak pernah ragu untuk belajar atas apapun yang belum saya ketahui. Status saya sebagai anak pendiri perusahaan tidak membuat saya mendapat pekerjaan yang lebih ringan ketimbang yang lain.

Ada tiga amanah yang diberikan oleh ayah saya dalam menjalankan tugas sebagai direktur utama. Yakni, bekerja secara jujur, memikirkan kelangsungan hidup karyawan, dan memberi sumbangan kepada anak yatim. Pesan ini selalu saya pegang.

Ada sekitar 1.700 jumlah sumber daya manusia dan pegawai di TIKI yang kini menjadi tanggung jawab saya. Menjadi tanggung jawab yang bukan main-main dan harus dijalani dalam mengembangkan TIKI. Tetapi saya belajar cepat, mengerti proses, mampu membenahi sistem, serta dibantu oleh karyawan yang baik dan loyal.

Itulah yang membuat saya fokus untuk mengembangkan dan menaikkan omzet TIKI. Saat fokus dan gencar menaikkan omzet dan mengembangkan TIKI, ada satu kejadian yang membuat saya terpukul. Yaitu saat ayah meninggal pada 23 Juni 2015 karena sakit. Disitu saya terpukul dan sedih sehingga tidak fokus dalam bekerja.

Tetapi pesan yang selalu disampaikan dan sempat merekam video ayah yang memberi wejangan saat saya bekerja di TIKI membuat saya kembali bangkit untuk meneruskan TIKI.

Perlahan tapi pasti, saya pun melakukan banyak perubahan dan meningkatkan sistem yang ada di TIKI. Berbagai inovasi yang sudah dijalankan dan akan terus dikembangkan seperti member toast yang memberi banyak keuntungan dari pengiriman barang pelanggan.

Di samping itu juga, ada self service machine yaitu mesin untuk pelanggan bisa melakukan pengiriman barang secara mandiri. Jadi, pelanggan memasukkan data dan tinggal membawa nomor kode yang mereka terima kepada kasir. Kemudian nanti akan ada TIKI prioritas untuk ruang tunggu bagi member toast.

Semua kinerja dan kelangsungan TIKI tidak lepas dari kinerja 1.700 pegawai TIKI. Karena loyalitas pegawai membuat omzet TIKI naik 11% dari tahun sebelumnya. Tahun depan, saya berharap bisa menaikkan omzet 15% sampai 20%.

Saya sendiri saat ini tengah giat menyasar pasar usaha online atau e-commerce yang banyak digeluti anak muda sebagai ladang pemasukan TIKI. Saya juga ingin memberi inovasi dan pelatihan karyawan terus agar menjadi pegawai profesional.

 

Sumber: Harian KONTAN edisi 4 Februari 2017