: WIB    —   
indikator  I  

Bisnis Jasa adalah bisnis tak mudah

Oleh Bambang Setiobudi Madja
Bisnis Jasa adalah bisnis tak mudah

 

Tahun 2006, kami mencanangkan core strategy, yaitu melakukan kolaborasi secara win win atau kolaborasi yang saling menguntungkan.

Sebab, kami tidak bisa mengurus semua sendiri. Kami memerlukan rekan atau mitra yang paham betul atau spesialis di bidang-bidang, seperti engineering services, cleaning service, sampai jasa keamanan.

Kolaborasi ini juga kami sandarkan pada information, communication dan telecommunication (ICT).

Kami juga menggandeng ahli-ahli di bidang hospitality dari Universitas Indonesia dan Universitas Trisakti. Tapi, perlu saya tegaskan, mereka tidak mewakili institusi atau universitas, melainkan mewakili diri mereka sendiri.

Para ahli di bidang pendidikan hospitality yang kami rangkul ini menjadi cikal bakal berdirinya Inner City Learning Center (ICLC).

Semua pegawai Inner City harus melewati ICLC ini, terutama front liner karena mereka yang paling banyak jumlah dan persentasenya. Pelatihan di ICLC ini akan tercipta keseragaman standar pelayanan di semua properti yang dikelola Inner City.

Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, Inner City saat ini sudah mengelola sekitar 150.000 unit. Dari jumlah unit ini, sekitar 80% merupakan properti milik APG, sedangkan sisanya merupakan non-APG.

Ya, kami pun mengelola properti non-APG, utamanya karena kami diminta untuk itu.

Awalnya, kami memang hanya mengelola properti APG. Namun, dalam perjalanannya, banyak pengembang lain yang menyerahkan pengelolaan apartemennya ke Inner City.

Mungkin mereka melihat, manajemen properti yang dilakukan Inner City sangat baik, sehingga juga akan berdampak pada image mereka sebagai pengembang. Selain itu, para pembeli unit apartemen pengembang tersebut juga terlayani dengan baik.

Awal kami masuk dalam pengelolaan properti non-APG adalah melalui design review. Kami melihat, mempelajari, serta memberikan masukan atas desain dari suatu properti.

Terkait design review ini, kami bisa melihat apa saja yang bisa dikurangi sehingga pengembang bisa menghemat tanpa mengurangi unsur kenyamanan dan keamanan.

Kami memiliki kapasitas untuk hal tersebut karena kami sudah berpengalaman. Misalnya, untuk urusan listrik saja, kami bisa melakukan penghematan hingga 30%.

Ini merupakan suatu penghematan yang berharga bagi pengembang. Caranya, dengan memilih perlengkapan yang tepat.

Dalam mengelola suatu properti, kami selalu mencatat semua yang dialami, terkait dengan apa saja kekurangan serta masalah yang timbul, dan bagaimana cara mengatasinya. Nah, semua yang kami catat ini menjadi data empiris yang bisa kami jual.

Setelah kami melakukan review, ternyata banyak pengembang lain yang datang untuk menawarkan kerjasama untuk design review. Setelah itu, datang pula tawaran untuk mengelola unit properti.

Konsep pengelolaan yang kami kerjakan ini dalam bentuk kontrak yang diperbarui setiap tiga tahun. Jasa yang ditawarkan kebanyakan paket karena untuk pengelolaan antar-bagian itu berkaitan satu sama lain.

Jadi, tidak mungkin hanya menyewa kami untuk mengelola satu bagian saja. Jasa pengelolaan apartemen ini tidak mahal, berkisar antara Rp 50 juta sampai Rp 100 juta per bulan.

Saat ini, Inner City mengelola sekitar 50 apartemen di berbagai kota di Indonesia. Mayoritas ada di Jakarta, yakni sebanyak 42, sedangkan sisanya ada di Cikarang, Bandung, Batam, Balikpapan, dan Medan.

Jika dilihat dari jumlah unit apartemennya, ada ratusan ribu unit apartemen yang dikelola. Di Kalibata City saja itu, unit apartemennya mencapai 13.600 unit.

Inner City sudah mendapatkan banyak tawaran untuk mengelola apartemen baru, di luar APG. Hanya saja, sebelum menambah apartemen yang dikelola ini, Inner City harus persiapkan terlebih dulu sumber daya manusianya (SDM).

Soalnya, bisnis ini merupakan bisnis jasa yang tidak mudah, menangani ribuan orang pemilik apartemen. Untuk itu, SDM yang akan ditempatkan di site kelolaan harus disiapkan terlebih dulu.