: WIB    —   
indikator  I  

Bisnis Jasa adalah bisnis tak mudah

Oleh Bambang Setiobudi Madja
Bisnis Jasa adalah bisnis tak mudah

Proyek terbaru kami adalah apartemen non-APG bernama Apartemen Mustika Golf Residence, yang terletak di Jababeka, Bekasi, yang memiliki sebanyak 300 unit. Proyek ini sudah berjalan selama tiga bulan.

Lalu saat ini, Inner City juga memiliki lini bisnis secondary market atau leasing. Para pemilik apartemen bisa menggunakan jasa kami dalam menyewakan atau menjual unit apartemennya. Kemudian, ada juga bisnis engineering lift dan escalator services.

Kami juga sudah bekerja sama dengan Himpunan Bank Negara (Himbara) dalam hal penerapan uang elektronik atau e-money.

Jadi, kami menambah fungsi access card dengan e-money sehingga fungsinya tak hanya supaya penghuni bisa masuk unit, tetapi juga bisa digunakan sebagai e-money.

Penerapannya saat ini masih dalam tahap uji coba di Apartemen Season City, Jakarta Barat.

Dalam mengelola apartemen, kami juga tidak abai dengan penghuni. Maksudnya, tidak sekadar memberikan pelayanan yang baik, melainkan juga berusaha menghidupkan suasana di dalam apartemen tersebut.

Caranya? Dengan membantu membentuk pengurus penghuni serta rutin mengadakan kegiatan-kegiatan yang membuat penghuni saling berinteraksi.

Misalnya, dengan berkebun bersama serta mengadakan senam. Selain itu, ada juga kegiatan-kegiatan yang diprakarsai penghuni namun kami bantu memfasilitasi seperti klub menyulam dan pelajaran bahasa.

Semua ini kami lakukan agar sifat individualisme tidak kental dalam apartemen yang dikelola Inner City.
Menjadi contoh

Kendala dalam bisnis pengelolaan apartemen, menurut saya, adalah soal konsistensi. Maksudnya, seringkali SDM di bidang ini kesulitan menjaga konsistensi, bahkan dalam hal paling sederhana sekalipun, seperti menyapa dan tersenyum.

Makanya, perlu adanya pelatihan yang terus-menerus untuk menjaga konsistensi.

Saya boleh dibilang galak atau tegas untuk urusan menjaga konsistensi ini. Saya terus mengatakan kepada karyawan Inner City untuk menjaga konsistensi serta menegur manakala ada karyawan yang berbuat salah.

Saya harus bersikap tegas karena apa yang kami kerjakan adalah menjual jasa. Jadi, kami harus terus memberikan performa yang terbaik.

Untuk memastikan karyawan mengerti betul soal pentingnya menjaga konsistensi performa ini, saya terus mengirimkan mereka ke ICLC, training terus untuk mengingatkan mereka.

Selain itu, di Inner City juga ada koordinasi mingguan dan bulanan, plus ada pula audit SOP serta audit customer care.

Saya dulu sering turun ke lapangan. Cuma sekarang tidak karena di ruangan saya sudah ada monitor yang memantau. Jadi, kalau ada karyawan yang datang telat atau mangkir, saya bisa langsung tahu.

Gaya kepemimpinan saya sebenarnya sederhana, yaitu memberikan contoh. Saya dari dulu selalu bekerja di bidang yang mengharuskan saya berinteraksi dengan banyak orang, sehingga memberikan contoh itu cara yang paling pas untuk memotivasi orang lain.

Caranya dimulai dengan hal yang sederhana, seperti tidak pernah telat dan melakukan tugas dengan sungguh-sungguh.

Sebagai pimpinan, saya tidak mungkin hanya memberikan tuntutan tapi tidak mampu memberikan contoh yang baik. Sebab, sebagai pimpinan kalau tidak mampu menjadi panutan maka kinerja perusahaan secara keseluruhan pun akan tidak baik.

Bagaimana mungkin pimpinan tidak dihormati apabila tindakannya berlawanan dengan apa yang ia ucapkan.

Kalau pimpinan tidak dihormati, performa karyawan pun juga akan jelek atau tidak maksimal. Kalau sudah begitu, yang dirugikan perusahaan secara keseluruhan.

* Artikel ini sebelumnya sudah dimuat di Tabloid KONTAN edisi 4 Desember-10 Desember 2017.. Selengkapnya silakan klik link berikut: "Bisnis Jasa adalah Bisnis Tak Mudah"