Open
Close(X)


EXECUTIVE CORNER KOPI PAGI
Executive Corner
Comfort zone itu bisa menjadi penyakit

Comfort zone itu bisa menjadi penyakit

Comfort zone itu bisa menjadi penyakit

Berada dalam comfort zone adalah tantangan terbesar dalam bisnis. Tak hanya bagi Indovision, tapi juga perusahaan lainnya. Lebih enak  berusaha menjadi nomor satu ketimbang mempertahankan nomor satu.

Cerita Kodak menjadi pelajaran penting.  Dulu, Kodak identik dengan kamera, bukan merek kamera. Saking terkenalnya, ketika kita bepergian, selalu ditanya, sudah bawa Kodak? Sekarang berubah, mereka bukan market leader.   

Inilah yang harus kita perhatikan dalam bisnis. Ketika kita berada di comfort zone dan menikmati keberhasilan secara berlebihan,  kita lupa bahwa pertumbuhan masih panjang.

Kita lupa bahwa orang lain yang berada di belakang kita tak diam, mereka akan habis-habisan mencapai keberhasilan.    

Hal inilah yang harus kita perhatikan bila kita dalam posisi market leader dan harus menjadi challenge Indovision agar jangan sampai semua jajaran fall into comfort zone.

Orang bisa fall into comfort zone bila mimpinya berhasil diraih terlalu cepat dari yang dipikirkan. Tahu-tahu mereka bilang: Oh, sudah enak begini. Akhirnya apa? Mereka menikmati keberhasilan itu dan cenderung melupakan bahwa perjalanannya masih panjang.

Saya kerap ditanya, Anda sudah sukses, apa challenge-nya ? Watching my people very carefully agar mereka tidak stay dalam comfort zone.

Jika seluruh jajarannya comfortable, bonus bagus, senior dapat MSOP, dapat mobil, SOP dan stay bisa disalip orang lain. Jadi comfort itu bisa menjadi penyakit.

Benar, perusahaan tak mundur itu mungkin. Namun pihak lain dapat lebih cepat bergerak. Dengan begitu, secara komparatif,  perusahaan kita mundur.

Menikmati keberhasilan itu boleh. Yang tak boleh, menikmati berlebihan. Jadi kita harus menikmati keberhasilan dengan tetap melihat ke belakang agar tak disalip.

Ketidakberhasilan orang lain, itu bukan ukuran keberhasilan saya. Sebaliknya, keberhasilan kita tak diukur dari ketidakberhasilan orang lain. Tapi keberhasilan kita diukur dari bagaimana kita meng-capture potensi yang ada. Kalau potensi 15 juta, saya 10 juta atau sudah 71%, apakah saya berhasil? Kalau kenyataan marketnya berkembang terus,  itu belum.

Hal seperti inilah yang harus  kita sadari agar memacu orang tak berhenti di comfort zone. Seseorang boleh berhenti di comfort zone  jika dia sudah optimalkan  potensinya. 

Ada lima filosofi yang jadi pegangan saya dalam berbisnis, yakni lima P. Pertama, passion. Tidak ada hasil maksimal yang bisa kita capai bila tanpa  passion. Jika orang bekerja agar dapat gaji, dia tidak akan pernah berhasil. Ini faktor sukses terbesar.

Kedua, positive mindset. Ini akan selalu mengarah pada potensi. Misal, salesman harus menjual dua per hari, dari satu. Jika dia bilang susah karena naik dua kali lipat, itu salah. Orang yang positive mindset selalu menanggapi hal-hal dengan positif.

Ketiga, proactive behavior. Kita tidak melihat tanggung jawab siapa. Segala sesuatu yang bisa mempengaruhi hasil kerja saya adalah urusan saya, walau itu bukan tanggung jawab saya. Itu akan membuat kita tak mengatakan 'itu bukan salah saya.

Keempat persistence. Air bisa mengikis karang karena sifat persistence dari ombak. Kawan saya usaha restoran, pernah bangkrut 22 kali sebelum akhirnya berhasil.

Kelima, prayer. Semua orang beriman diminta berusaha maksimal, tapi kita bukan Tuhan. Kita tak bisa melakukan segala sesuatu. Doa akan membantu.



Komentar