: WIB    —   
indikator  I  

Fokus kami penerapan smart airport

Oleh Muhammad Awaluddin
Fokus kami penerapan smart airport

Bandara udara merupakan gerbang suatu negara. Itulah sebabnya, pengelola bandara berusaha bertransformasi agar bisa menjadi wajah Indonesia. Kepada Jurnalis Tabloid KONTAN Merlinda Riska, Presiden Direktur PT Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin menceritakan proses transformasi yang dijalankan.

Saya menerima penugasan sebagai Presiden Direktur Angkasa Pura (AP) II pada bulan September 2016.

Sebelumnya, saya memiliki pengalaman lebih dari 25 tahun di bidang information, communication and technology industry (ICT).

Buat saya, sebetulnya pengetahuan dasar antara telekomunikasi dengan transportasi itu sama, yakni traffic management. Manajemen trafik ini adalah proses memindahkan sesuatu dari satu titik ke titik lain.

Di dunia telekomunikasi yang dipindahkan adalah data, suara, video, dan gambar. Media yang dipakai adalah fiber optik, tembaga, transmisi radio, dan lain-lain. Nah, di transportasi, yang dipindahkan adalah orang dan barang.

Mediumnya bisa lewat transportasi udara, darat, laut, kereta api. Karena yang dipindahkan orang dan barang, industri transportasi ini lebih dinamis. Repot seandainya orangnya berhasil dipindahkan, tapi barangnya ketinggalan.

Yang saya pelajari selama 10 bulan di sini, stakeholders lebih banyak, sehingga kami harus bisa menyinergikan semuanya.

Stakeholders di bandara ini ada 15 yang terbagi dalam empat garis besar, yakni airport operator, airlines providers atau maskapai penerbangan, air navigation yang punya menara untuk mengatur trafik, dan authority yakni otoritas bandara, bea cukai, imigrasi, dan karantina tumbuhan dan hewan.

Jika dianalogikan dengan bermain musik, peran AP II adalah menjadi dirigen dari para stakeholders agar harmoninya sama, seirama, harus bisa menghasilkan suara atau irama yang cantik dan indah.

Konsep operasi di bandara ini sangat luar biasa dinamis, sehingga semua stakeholders tersebut harus saling bersinergi.

Contohnya, saat pesawat landing, dia harus ditangani oleh ground handling company karena pesawat mau parkir, lalu orang keluar, barang harus dijemput, bagasi harus diurus, kapan bagasi diterima, semuanya ada ukuran waktu.

Untuk itu, iramanya harus diatur dan ditata. Keluar terminal, penumpang harus ketemu dengan bus, taksi. Jangan sampai penumpang datang, taksi dan bus tidak ada.

Atau sebaliknya, seharusnya pesawat landing, tapi tidak bisa karena di runway masih ada pesawat. Jadi memang harus didirigen dengan baik dan rapi.


Close [X]