Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Harga membangun kedisiplinan

Oleh Eko Taufik Wibowo
Harga membangun kedisiplinan

Waktu saya masuk PT Berdikari awal tahun 2016, jujur saja kondisi perusahaan ini cukup parah. Utang perusahaan mencapai Rp 250 miliar kepada perbankan.

Di sisi lain, tujuan penggunaannya tidak jelas dan utang ini macet. Tak heran jika kepercayaan bank terhadap perusahaan ini akhirnya hilang.

Saat ditunjuk menjadi direktur utama pada Desember 2016, saya membuat konsep rekondisi dan restrukturisasi bisnis perusahaan. Analisa saya waktu itu, perusahaan ini tidak fokus.

Perusahaan peternakan tapi menjalankan bisnis lain, seperti penyaluran pupuk subsidi dan logistik. Ironisnya, bisnis di luar bisnis inti perusahaan ini dikelola tanpa manajemen yang baik.

Padahal, seandainya perusahaan ini fokus pada bidang bisnis peternakan dan dikelola dengan baik, potensinya sangat mumpuni. Sebab Berdikari mempunyai aset yang luar biasa besar untuk menjalankan bisnis peternakan dengan baik.

Oleh karena itu, saya memulai pembenahan dari hal yang paling mendasar. Yakni menghentikan penyimpangan di perusahaan ini, serta menciptakan tata kelola perusahaan yang benar.

Awal mulanya, saya bisa dibilang babak belur juga karena resistensi datang dari kanan dan kiri, terutama dari para karyawan senior di perusahaan ini.

Itu harga yang harus saya tanggung untuk melakukan pembenahan. Tapi saya tak mau kalah atau menyerah melawan mereka.

Salah satu upaya pembenahan ini adalah dengan membuat Standar Operasional Prosedur (SOP) yang jelas bagi semua elemen perusahaan.

SOP ini menjadi filter dan seleksi karyawan yang bisa dioptimalkan dan yang harus dipinggirkan. SOP ini juga menerapkan kedisiplinan tanpa kenal pilih kasih.