Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Harus benar-benar telanjang*

Oleh Elisa Lumbantoruan
Harus benar-benar telanjang*

Pernah berada di tampuk tertinggi di beberapa perusahaan, membuat saya semakin berusaha untuk menjadi orang bodoh. Berubah pekerjaan tiap lima tahun membuat saya menjadi orang yang paling bodoh di lingkungan itu. Ini memacu saya menjadi orang yang paling mau belajar di lingkungan itu.

Bagi saya, hal yang paling gampang membuat saya masuk ke dalam lingkungan baru adalah tidak menjadi orang yang sok tau. Dengan cara yang sama, saya juga akan mendorong lingkungan untuk terbuka, untuk belajar. Dengan begitu, akan terbangun learning organization.

Sebab, pada dasarnya untuk menjawab tantangan masa depan, kita harus membuka diri untuk belajar. Alhasil, learning organization adalah sebuah kebutuhan dan keharusan.

Keuntungan lain menjadi orang paling bodoh dan tidak sok tau adalah menjadikan kita tergantung dengan orang lain untuk menyelesaikan masalah. Dengan cara itu juga, akan terbentuk team work yang solid.

Bagi saya, pilihan yang paling bagus bagi setiap pimpinan di perusahaan adalah dengan menjadi seorang yang benar-benar naked. Apa yang kita tampilkan di depan, di belakang, apa yang ditampilkan di luar perusahaan, apa yang ditampilkan di dalam perusahaan, akan sama.

Saat saya masuk lingkungan baru, hal yang paling mudah yang saya lakukan adalah mempercayai semua orang di lingkungan kerja saya. Kedua membangun sistem yang memungkinkan setiap orang bisa berbicara terbuka. Di ISS Indonesia, sistem ini kami sebut: speak up. Semua orang diberikan garansi untuk bebas berbicara dan berpendapat.

Langkah selanjutnya adalah empowering people, memberdayakan semua orang di perusahaan. Tak ada keberhasilan yang berdiri sendiri tapi selalu ada campur tangan orang lain. Makanya, semua orang harus berdaya guna, sesuai dengan porsinya. Seyogyanya, semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin sedikit keputusan yang bisa ia ambil sendiri.

Di ISS Indonesia, karyawan harus memilik integritas. Ini yang kami bangun. Kami memulainya dengan semua orang di ISS bisa kami percaya. Semua orang memiliki integritas tinggi di bidangnya. Dengan demikian, kita akan bisa mempercayai tugas atau tanggung jawab ke orang-orang di lingkungan kerja.

Dalam perjalanannya, saya sangat yakin bukti kredibilitas dan integritas seseorang diawali dengan trusted society. .

Lama sekali masyarakat mempunyai stigma negatif atas bisnis outsourcing. Ini yang tengah saya dan manajemen ISS ubah. Kami ingin mengubah perspektif orang-orang tentang tentang bisnis outsourcing. Mulai dari gaji yang tak sesuai dengan upah minimum, mempekerjakan orang tanpa jaminan kesehatan, hingga ada manajemen fee. Itu yang ingin kami ubah.

ISS adalah jasa service operator yang memberikan kesejahteraan layak karyawannya. Setiap bulan*, kami merekrut 2.000 lulusan baru untuk disalurkan bekerja.

Mereka tanggung jawab penuh kami, mulai dari gaji sesuai upah minimum provinsi, memiliki jaminan kesehatan dan ketenagakerjaan. Ini menjadi tantangan besar kami bisa memberikan kesejahteraan yang layak.

Kami berani memulainya. Kalau perusahaan yang memakai jasa kami tak mau dengan syarat-syarat gaji dan jaminan, kami berani mengatakan tidak. Awalnya, ada penurunan pekerjaan. Namun, secara perlahan kembali lagi, bahkan lebih banyak lagi.

Bagi kami, keberhasilan sebagai sebagai operator bisnis jasa adalah karyawan bangga akan pekerjaannya.

Sumber: Harian KONTAN edisi 3 Desember 2016

*Ralat (4/1/2017): Terdapat kesalahan pada artikel sebelumnya, di alinea 11 tertulis: "Setiap tahun, kami merekrut 2.000 lulusan baru untuk disalurkan bekerja. Seharusnya,  "Setiap bulan, kami merekrut 2.000 lulusan baru untuk disalurkan bekerja."

Ralat ini kami lakukan berdasar Surat Klarifikasi dari Elisa Lumbantoruan, CEO PT ISS Indonesia, yang isi selengkapnya bisa dibaca di link berikut Klarifikasi Artikel Kopi Sabtu Pagi.