: WIB    —   
indikator  I  

Harus terbuka, utamakan diskusi

Oleh Loemongga Hoemasan
Harus terbuka, utamakan diskusi

Bisnis properti mengharuskan kita disiplin dalam operasional. Sebab, banyak pihak yang terkait dalam bisnis kami, mulai dari desain hingga konstruksi. Dengan begitu, manajemen proyek harus rapi dan on time.

Berbekal pendidikan di bidang finance serta berpengalaman menjadi auditor, saya bergabung dengan Asiana pada tahun 2011. Kami mengawalinya dengan membangun perumahan atau kluster-kluster.

Dalam memimpin Asiana, saya tak pernah datang dengan kalimat: "Pokoknya saya ingin bikin ini, titik!" Tidak begitu. Saya lebih mengutamakan keterbukaan dan mengalir saja. Diskusi menjadi pilihan saya dalam kepemimpinan. Dengan begitu, proyek apapun yang kami bangun atau kembangkan merupakan hasil diskusi.

Saya sangat yakin bahwa semua orang memiliki kreativitas. Mereka memiliki ide yang harus saya dengar. Makanya, ini menjadi pegangan saya dalam memimpin. Bahwa mulai pemilihan bahan, setiap individu di Asiana bebas mengusulkan lahan yang menurutnya cocok.

Tentu saja, seperti perusahaan umumnya, usulan akan masuk ke divisi business development. Dari sanalah, ide itu digodok, ditambang untung ruginya, peluangnya. Ada SWOT analysis-nya.

Jika sudah lengkap, ide ini terlebih dulu dipresentasikan ke semua pihak. Dengan cara ini, timbangan untung rugi, peluang serta hambatan akan lebih terukur karena semua pihak urun suara.

Saat pemilihan arsitek semisal, kami bisa voting lo, meski kemudian putusan final tetap ada di tangan saya. Namun, itu semua sudah melalui rentetan proses yang panjang, transparan dan matang. Jadi sebagai pemimpin, saya tidak serta merta memutuskan segala sesuatu tanpa mendengar pandangan dari orang lain.

Bagi saya, tidak ada ide yang terlalu bodoh untuk ditampung. Makanya, ide sekecil apapun harus kita tampung, kita timbang. Bagi saya kreativitas seseorang tak boleh dipotong tapi harus kita rangkul, tampung dan timbang. Sebab, terkadang ide itu datang dari karyawan yang tidak terduga lo.

Seorang office boy semisal, ia melihat tanah di sekitar rumahnya terbengkalai, padahal di dekat tanah itu ada infrastruktur transportasi yang mantap. Dan, ternyata setelah kita cek kemudian cocok, dan kemudian menjadi proyek. Hal-hal seperti itu, bisa datang dari siapa saja.

Lewat keterbukaan itulah, karyawan atau staf Asiana bebas menyampaikan ide-idenya dan kami tampung, kami timbang usulan tersebut. Jangan salah lo, lewat keterbukaan pula, kami juga makin dekat dengan karyawan.

Meski kami dekat, bukan berarti saya toleran terhadap kesalahan apa pun. Jika karyawan semisal lupa kala disuruh atau sejenisnya, itu saya anggap honest mistake.

Hanya, kalau kesalahan menyangkut fraud, tidak ada ampun. Kami pasti langsung akan mengeluarkan karyawan itu. Sebab, sifat tidak jujur itu bahaya, dan menular. Peluang terjadi fraud di bisnis properti itu terbuka lebar.

Sebagai pemimpin, pada dasarnya, saya tidak menuntut banyak dari karyawan. Kualitas yang saya harapkan untuk karyawan Asiana adalah jujur, dinamis dan kreatif dalam berbagai hal. Namun, yang utama adalah kejujuran. Dunia properti rentan sekali kecolongan akibat ulah orang-orang yang tidak jujur.

Lewat interaksi yang intens, kepekaan kita akan semakin terlatih. Dengan begitu, apa yang menjadi misi dan visi Asiana bisa tercapai. Dengan cara itu pula, target kami tercapai.

 

Sumber: Harian KONTAN edisi 11 Februari 2017


Close [X]