Open
Close(X)


EXECUTIVE CORNER CEO TALK
Executive Corner
Kami akan fokus garap kawasan industri

Kami akan fokus garap kawasan industri

Kami akan fokus garap kawasan industri

Kota Deltamas di wilayah Kabupaten Bekasi berhasil menjelma menjadi kawasan permukiman, komersial, dan industri terpadu yang dilirik banyak orang. Tak terkecuali perusahaan pelat merah asal China yang memborong lahan seluas 200 hektare untuk disulap menjadi Kawasan Industri Terpadu Indonesia-China.

Ke depan, anak usaha Sinarmas Group ini akan fokus menggarap kawasan komersial dan industri. CEO PT Pembangunan Deltamas Teky Mailoa menuturkan strateginya kepada wartawan KONTAN Azis Husaini dan Harris Hadinata, Selasa (29/3) pekan lalu.

Sebelum Kota Deltamas kami bangun, sebenarnya, area ini adalah sawah tadah hujan atau lahan yang tidak produktif. Saat itu, untuk menempuh kawasan yang akan kami siapkan menjadi Kota Deltamas, jalan harus memutar selama satu jam.

Namun, setelah pembangunan tahun 2002, kami merasa harus ada jalan cepat menuju kawasan tersebut, maka kami membangun simpang susun pintu tol di Km 37 jalan tol Cikampek sehingga kawasan kami langsung terhubung dengan jalan tol.

Setelah simpang susun atau interchange itu jadi, kami mulai melakukan pemasaran properti perumahan pertengahan tahun 2002. Sementara, pemasaran kawasan industri baru di tahun 2009. Saat itu, banyak kawan saya yang bilang, untuk apa membangun kawasan industri di Kota Deltamas? Soalnya, di Bekasi dan Karawang sudah banyak berdiri kawasan industri, seperti Jababeka, Lippo Cikarang, Bekasi Fajar, Megalopolis Manunggal 2100, dan EJip.

Itu sebabnya, teman-teman saya beranggapan kawasan industri Kota Deltamas tidak akan laku. Apalagi, kompetitor pasti memberikan harga yang sama. Ini tentu saja sebuah tantangan bagi saya, bagaimana caranya supaya investor lebih memilih kawasan kami yang merupakan pemain baru di kawasan industri.

Namun tentunya, kami memiliki konsep yang berbeda dengan kompetitor. Misalnya, kami membuat sebuah divisi bisnis relasi. Tugas dari divisi ini adalah menjaring para investor dan melindunginya. Kami menyebut pembeli dengan kata klien, setiap yang membeli tentu akan kami lindungi.

Contoh, investor yang membeli ruko beberapa unit dan ingin menyewakan kembali, kami akan bantu mencarikan penyewa. Jadi, ruko itu tidak dibiarkan begitu saja.

Selain itu, kami juga akan menata tata ruang bisnis yang tidak saling merugikan. Ambil contoh, tidak boleh ada SPBU yang terlalu berdekatan. Yang juga penting adalah desain dan interior bangunan yang menarik dan tentu saja bahan bangunan yang memiliki kualitas.

Komitmen inilah yang selalu kami jaga agar para investor lebih memilih Kota Deltamas. Kawasan industri dengan permukiman dibatasi oleh bentang alam berupa sungai. Zonasi-zonasi sudah kami atur dengan baik sehingga tidak saling mengganggu. Tapi, akses menuju ke sana sangat mudah.

Di lahan seluas 3.000 hektare, baru sekitar 20% yang telah kami bangun. Di antaranya, ada kawasan industri, komersial, dan permukiman. Untuk kawasan industri ada dua, Greenland dan Greenland Internasional Industrial Center (GIIC). Total luasnya 1.050 hektare, dan yang sudah terjual 310 hektare.

Greenland yang punya luas hanya 50 hektare sudah habis terjual, dan sekarang berdiri 166 pabrik. Sedangkan, GIIC seluas 1.000 hektare baru terjual 260 hektare, 200 hektare di antaranya dibeli badan usaha milik daerah (BUMD) Pemerintah Guangxi, China, yang menamakan wilayah itu Kawasan Industri Terpadu Indonesia-China (KITIC). Nantinya, di KITIC, akan dibangun pabrik otomotif, bahan bangunan, dan pergudangan.

Sedang untuk permukiman, kami sudah membangun sekitar 5.000 rumah dengan harga berkisar antara Rp 100 juta sampai Rp 1,5 miliar per unit.

Untuk fasilitas pendidikan, kami sedang menyelesaikan pembangunan Institut Teknologi Sains Bandung (ITSB). Kami juga akan membangun Kampus Riset Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Korean University yang akan menempati lahan total seluas 110 hektare.

Sejak tahun 2005, pusat pemerintahan Kabupaten Bekasi juga pindah ke kawasan kami yang luasnya 40 hektare.
Ke depan, saya memiliki strategi untuk mendatangkan lebih banyak lagi investor.

Pertama, tahun ini, kami menyiapkan investasi sebesar Rp 400 miliar untuk membangun sarana dan prasarana, kawasan komersial, dan kawasan industri. Jadi, pada tahun 2011 ini kami akan fokus ke tiga produk tersebut. Sebab, saya melihat penjualan kawasan komersial dan industri sangat cepat ketimbang residensial.

Kedua, kami tetap akan menjual lahan dengan standar business class dan first class. Artinya, kami membangun sebuah bangunan dengan memadukan unsur-unsur alam. Kami bakal menanam pelbagai macam tanaman yang membuat sejuk kawasan Kota Deltamas.

Karena itu, kami sangat selektif dalam memilih sebuah perusahaan yang akan membangun di sini. Mereka harus ramah lingkungan. Nah, untuk mendukung pembangunan berkonsep alam itu, kami juga berencana membangun apartemen dan perkantoran.

Ketiga, kami tetap berkomitmen membangun pusat pendidikan, mulai TK sampai perguruan tinggi di sini. Dari sekolah Jepang, Korea, China, hingga lokal. Beberapa sekolah sudah berdiri dan yang lainnya menyusul.

Namun, bukan cuma sekolah formal saja, saya malah akan membuat sekolah alam yang memadukan unsur-unsur alam dalam pembelajaran. Saya akan mencari investor, tapi jika tidak ada yang mau, biar kami saja yang investasi.

Keempat, kami akan menjadikan Kota Deltamas sebagai regional centre. Dengan begitu, akan membantu penghuni dalam mendapatkan semua kebutuhannya di satu kawasan. Contohnya, kami sudah membuat one stop service di lingkungan pemerintahan Kabupaten Bekasi. Jadi, semua perizinan satu atap. Inilah yang membuat masyarakat dan para investor menyukai kawasan kami.

Terakhir atau kelima, kami juga akan menjadikan Kota Deltamas sebagai kawasan perbankan, kuliner, dan sport centre dengan membangun enam lapangan bulutangkis bertaraf internasional dan dua lapangan futsal. Rencananya, April ini akan kami resmikan.

Harga tanah naik terus

Soal harga tanah, sejatinya, kami juga tidak menyangka harga lahan di sini bisa naik begitu cepat. Tapi, karena kami punya tim manajemen yang cukup andal dalam menjalin komunikasi dengan investor atau klien, mereka tetap tertarik membeli di sini kendati harganya semakin mahal.

Harga tanah untuk permukiman, misalnya, delapan tahun lalu hanya Rp 250.000 per meter persegi (m²), sekarang sudah mencapai Rp 2 juta per m². Untuk kawasan industri, tahun lalu masih US$ 45 per m², kini sebesar US$ 80 per m².

Kenaikan harga tersebut memang cukup signifikan, lantaran banyak sekali perusahaan Jepang dan China yang menginginkan membangun pabrik di sini. Ekonomi makro Indonesia yang sangat menguntungkan membuat perusahaan asing  banyak mencari lahan.

Karena harga lahan terus naik, tentu kami meningkatkan layanan kepada investor. Apalagi, rencananya pemerintah akan membangun jalan tol Cikarang-Tanjung Priok alias Karang-Tanjung yang akan mendukung jalur distribusi bagi kawasan industri di wilayah Bekasi.

Dalam tujuh tahun ke depan, saya akan mengupayakan membangun 50% dari total lahan yang kami miliki. Jadi, ketajaman dalam melihat peluang adalah kunci keberhasilan kami membuat para investor membeli lahan di Kota Deltamas. Tentu saja, atas bantuan lebih dari 30 kontraktor yang memang sudah ahli dalam pembangunan.



Komentar