EXECUTIVE CORNER CEO TALK
Executive Corner
Kami berusaha mengembangkan diri dan fokus di sektor ritel

Kami berusaha mengembangkan diri dan fokus di sektor ritel

Kami berusaha mengembangkan diri dan fokus di sektor ritel

Jika tidak ada aral melintang, Juni tahun ini, Bank Muamalat akan mulai menerbitkan sukuk dengan total nilai Rp 1,5 triliun secara bertahap. Berbekal modal yang kuat dan aset yang kian besar, bank ini juga ingin menjadi bank syariah modern. Seperti apa strategi Muamalat? Berikut wawancara wartawan KONTAN Andri Indradie dengan Arviyan Arifin, Direktur Utama PT Bank Muamalat Tbk, dalam beberapa kesempatan.

Saya tidak takut menghadapi kompetisi. Hanya satu harapan saya terhadap Bank Muamalat, yaitu menjadi bank modern yang syariah. Dengan kata lain, Bank Muamalat menjadi bank syariah modern.

Artinya apa? Bank Mualamat mampu melayani masyarakat secara optimal dengan layanan perbankan yang memuaskan, tanpa meninggalkan bisnis syariah.
Layanan itu mencakup semuanya, dalam segala hal, baik itu layanan produk, pengembangan infrastruktur teknologi dan informasi, kantor, sumber daya manusia, dan sebagainya.

Untuk mencapainya, hanya dua hal yang menjadi strategi bisnis saya. Pertama, bagaimana Bank Muamalat mempunyai daya saing atau competitiveness. Kedua, fokus dalam dalam kerangka pengembangan.

Berdasarkan data terakhir Bank Indonesia per Februari 2012 lalu, aset bank syariah naik 34,08%, dari Rp 95,99 triliun menjadi Rp 145,62 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pembiayaan perbankan syariah tumbuh 31,10%,  dari Rp 71,45 triliun menjadi sekitar Rp 103,71 triliun, sementara dana pihak ketiga (DPK) naik 34,49% dari Rp 75,09 triliun menjadi Rp 114,62 triliun.

Rata-rata, angkanya sudah di atas 30%. Artinya, pertumbuhan industri syariah cukup pesat karena ada di atas rata-rata pertumbuhan perbankan konvensional.
Global Islamic Financial Report (GIFR) juga baru saja menempatkan Indonesia sebagai negara yang memiliki potensi bisnis perbankan syariah yang terbesar keempat di dunia. Iran ada di posisi pertama, lantas Malaysia, dan selanjutnya Saudi Arabia. GIFR memprediksi, Indonesia bisa berada di posisi atas sekitar tahun 2012 atau tahun 2013.

Pertumbuhan rata-rata 30% serta hasil riset GIFR ini menunjukkan, tren perkembangan di industri syariah masih akan berlanjut ke depan. Perbankan syariah bisa tumbuh besar di Indonesia. Tren ini, sebenarnya,  sudah terlihat lima tahun belakangan ini.

Di Bank Muamalat, saat ini aset sudah mencapai sekitar Rp 32,5 triliun. Pembiayaan yang tersalur sekitar Rp 22,47 triliun dengan DPK sekitar Rp 26,66 triliun.

Oleh karena itu, ke depan, setidaknya ada tiga target utama Bank Muamalat. Pertama, secara finansial, kami ingin masuk di jajaran 10 bank terbesar di tahun 2020. Kedua, saya berharap Bank Muamalat bisa masuk menjadi pemain utama di industri perbankan untuk kawasan lokal dan regional (Asia Tenggara). Ketiga, Bank Muamalat sudah bisa mempunyai standar layanan kelas satu atau layanan premium yang bisa menjangkau semua lapisan masyarakat dengan layanan perbankan yang modern dan berkelas internasional.

Bagaimana mencapainya? Kembali lagi, Bank Mualamat harus fokus dan berani menghadapi persaingan bisnis, punya daya saing. Ini yang penting.

Secara lebih detail, memang kami sudah menyiapkan beberapa strategi bisnis. Beberapa di antaranya terlaksana tahun ini. Misalnya, penambahan saham di anak usaha kami, PT Al Ijarah Indonesia Finance (Alif), penerbitan sukuk, lalu mulai memfokuskan diri ke sektor ritel, serta investasi untuk penyempurnaan jaringan, terutama infrastruktur teknologi informasi.

Aksi korporasi

Pertama, penerbitan sukuk adalah untuk penambahan modal. Dari sisi permodalan, kami siap berkompetisi. Sejak beroperasi 1 Mei 1992 yang lalu atau sudah sekitar 20 tahun, Bank Muamalat selalu berusaha memperkuat permodalan untuk ekspansi bisnis. Dua tahun lalu, Bank Muamalat pernah rights issue sekitar Rp 700 miliar. Ini penambahan modal terbesar sepanjang sejarah.

Tahun ini, untuk penambahan modal, kami akan menerbitkan Sukuk Subordinasi Mudharabah sekitar Rp 1,5 triliun. Kami akan melaksanakan secara bertahap, mulai semester dua tahun ini. Langkah pertama, kami akan menerbitkan sukuk senilai Rp 800 miliar pada bulan Juni 2012 nanti. Sisanya dilakukan bertahap setelah penerbitan pada bulan Juni itu.

Dengan penerbitan sukuk ini, saya berharap dana itu bisa memperkuat struktur modal Bank Muamalat dan bisa menambah rasio permodalan atau capital adequacy ratio (CAR) dari posisi akhir 2011 lalu, yaitu mencapai 12,05%. Dengan demikian, tahun ini, kami bisa lebih ekspansif. Targetnya, semoga, kami bisa tumbuh di atas 20% tahun ini.

Semua persyaratan masih dalam proses di regulator, baik di Bank Indonesia maupun Bapepam-LK (Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan). Kami sudah menunjuk tiga penjamin emisi untuk penerbitan ini, yakni Bahana Sekuritas, Danareksa Sekuritas, serta Indopremier Securities sebagai koordinator.

Kedua, terkait Alif. Kami memang akan memperbesar kepemilikan saham di Alif, dari sekitar 33,3% menjadi di atas 90%. Selain Bank Muamalat, ada dua pemegang saham lainnya, yakni Bank Boubyan dari Kuwait dan Alpha Lease and Finance Holding BSC dari Bahrain. Kami akan memperbesar dengan membeli saham mereka.

Sebenarnya, langkah ini terkait strategi bisnis kami yang akan lebih mengembangkan diri fokus di sektor ritel. Ke depan, kami akan menambah modal Alif sekitar Rp 60 miliar.

Tapi, kami harus minta izin ke komisaris dan regulator untuk langkah ini. Selain itu, kami juga masih harus mengadakan rapat umum pemegang saham. Sebelum akhir Mei ini, semoga semua bisa terlaksana.

Perlu saya jelaskan, Bank Muamalat punya lima anak usaha. Mereka adalah Baitul Maal Al Muamalat (lembaga pembiayaan mikro), Dana Pensiun Lembaga Keuangan Muamalat, Muamalat Institute (lembaga pendidikan syariah), PT Al-Ijarah Indonesia Finance, dan First Islamic Investment Bank Ltd. yang berkantor di Kuala Lumpur, Malaysia.

Nah, Al Ijarah fokus di bisnis pembiayaan dan konsultasi investasi, perdagangan, serta keuangan internasional. Layanan Al Ijarah fokus pada pembiayaan skala menengah-besar di lingkup regional. Dengan penambahan saham di Al Ijarah, kami berharap ekspansi di sektor ritel bisa makin tinggi.

Ketiga, melanjutkan tentang ritel tadi, selain penambahan saham di Alif, Bank Muamalat juga investasi untuk pengembangan jaringan, baik penambahan kantor dan pengembangan infrastruktur teknologi.

Saat ini, kami memiliki 344 kantor cabang, 861 kantor cabang pembantu, dan 421 kantor kas. Tahun ini, kami akan menambah satu kantor cabang dan 11 kantor cabang pembantu. Prinsipnya, dengan pengembangan jaringan ini, kami bisa menjangkau lebih luas dan mewujudkan layanan sebagai bank syariah modern.

Dengan begitu, kami berharap, tahun ini, pembiayaan bisa tumbuh sampai 70%, dari Rp 1,1 triliun di akhir 2011 menjadi sekitar Rp 1,9 triliun. Sedangkan DPK bisa naik 37% menjadi sekitar Rp 2,5 triliun.

Terakhir, untuk memperluas bisnis dalam skala internasional, selain anak cabang di Malaysia, saat ini kami tengah mengkaji untuk mendirikan anak usaha baru di Timur Tengah. Di negara mana, saya belum bisa utarakan karena masih dalam proses penilaian kami.



Komentar