: WIB    —   
indikator  I  

Kami lebih selektif dan hati-hati

Oleh Ishak Herdiman
Kami lebih selektif dan hati-hati

Kebutuhan masyarakat akan rumah membuka peluang penyediaan produk pembiayaan pembelian properti. PT Citra Tirta Mulia, tak mau kehilangan peluang itu.

Tahun ini, perusahaan multifinance ini mulai masuk pembiayaan multiguna properti. ishak herdiman, Direktur Utama perusahaan yang lebih dikenal dengan Citifin Multifinance Syariah itu berbagi strategi pada jurnalis Tabloid KONTAN Agung Jatmiko.

Saya masuk ke PT Citra Tirta Mulia atau lebih dikenal dengan Citifin Multifinance Syariah bersamaan dengan transformasi perusahaan, dari perusahaan pembiayaan konvensional menjadi berbasis syariah. Secara resmi, Citifin mulai bertransformasi pada 20 Februari 2013. Saat itu saya didapuk menjadi pimpinan.

Citifin merupakan perusahaan pembiayaan yang secara penuh menerapkan prinsip syariah. Di Indonesia, baru ada tiga perusahaan yang menerapkan prinsip syariah secara penuh. Salah satunya Citifin. Selebihnya adalah perusahaan pembiayaan konvensional yang memiliki unit usaha syariah. Jumlahnya sekitar 40 unit.

Ketika diajak bergabung di Citifin, saya langsung menyanggupi. Sebab, saya melihat masuk di Citifin sebagai tantangan baru.

Meski saya sudah berpengalaman selama 20 tahun di perbankan syariah, namun industri pembiayaan syariah tentu berbeda, dari budaya, produk, maupun sistem. Selain itu, saya juga tergugah dengan keinginan para investor yang benar-benar ingin mewujudkan perusahaan dengan prinsip murni syariah.

Tantangan tentu dalam bentuk adaptasi. Sebab, meski cukup berpengalaman di industri keuangan, tapi industri pembiayaan merupakan baru buat saya. Jadi, saya datang dengan membawa gelas kosong. Saya harus banyak belajar, mendengar, dan bertanya mengenai seluk-beluk pembiayaan. Saya juga memetakan, baik dalam hal sumber daya manusia dan infrastrukturnya.

Saya juga perlu membangun mitra strategis, khususnya perbankan sebagai mitra strategis terpenting. Lantaran Citifin bernafaskan prinsip syariah, mitra strategis kami adalah perbankan syariah.

Saya bersyukur, karyawan Citifin saat saya masuk memiliki budaya kerja yang baik serta memiliki kesadaran tinggi. Segenap jajaran Citifin mudah dibentuk dan upaya transformasi bisa berjalan dengan mulus, relatif tanpa hambatan.

Dalam memimpin perusahaan ini, prinsip yang saya gunakan adalah mengomunikasikan komitmen bahwa kami, seluruh jajaran Citifin, harus sepakat dan berkomitmen sebagai sebuah tim. Untuk bisa mewujudkan tim yang baik tentu harus didukung dengan komunikasi yang baik pula. Cara saya adalah menerapkan komunikasi aktif dua arah.

Sejak dulu, saya tidak menyukai sekat-sekat atau batasan dalam dunia kerja, baik dalam bentuk kepangkatan ataupun senioritas. Karena itu, salah satu ciri khas organisasi Citifin adalah tidak ada batas.

Siapapun bisa berinteraksi dengan mudah. Misalnya, staf marketing ingin berkonsultasi atau mengungkapkan gagasan, tak mesti melewati birokrasi yang berbelit-belit. Ia bisa langsung datang ke ruangan direksi. Pintu ruangan saya tidak pernah ditutup.

Komunikasi ini bisa secara langsung, tatap muka, atau lewat pesan pendek atau email. Ini yang menjadi salah satu kekuatan Citifin dan kami berhasil mewujudkan tim yang solid.

Saya juga memiliki lima nilai yang saya terapkan dalam memimpin dan terus saya komunikasikan ke karyawan Citifin. Lima nilai tersebut dibingkai dalam kata HALUS.

Pertama, huruf H adalah kita harus memakai hati dalam bekerja. Artinya, kita mencintai pekerjaan dan melakukannya dengan tulus.

Kedua, huruf A artinya kita harus aktif dan proaktif dalam bekerja. Aktif ini dalam segala hal, mulai dari saat menyusun rencana, berinisiatif sampai saat mengeksekusi rencana. Jangan selalu menunggu, tetapi harus aktif memberikan kontribusi.

Ketiga, huruf L, artinya lurus jalannya. Nilai yang ketiga ini melambangkan integritas yang harus dijunjung tinggi. Lurus menjalankan aktivitas yang ada, sesuai aturan, sesuai norma-norma, dan jangan melanggar aturan serta kesepakatan yang telah ditetapkan.

Keempat, huruf U yang artinya usaha atau upaya. Meski memiliki niat, lalu melakukan pekerjaan dengan lurus, belum tentu prosesnya sesuai harapan karena selalu ada rintangan atau hambatan teknis.

Nah, yang harus dilakukan adalah terus berupaya, terus berusaha. Upaya ini bisa dalam bentuk evaluasi diri manakala hasil yang dicapai tak sesuai harapan. Mengevaluasi diri demi mengetahui kekurangan apa saja yang harus diperbaiki.

Kelima, huruf S, yakni syukur, apapun hasilnya. Jika sudah berusaha dengan niat yang benar serta diiringi upaya yang lurus dan berhasil mencapai apa yang ditargetkan, kita harus bersyukur.

Saat hasil tidak tercapai, tetap harus bersyukur, diiringi dengan upaya. Bersyukur yang diiringi dengan evaluasi. Jangan sampai hasil bagus, takabur, lalu saat hasilnya tidak sesuai harapan mencari kambing hitam, menyalahkan keadaan atau orang lain.


Close [X]