: WIB    —   
indikator  I  

Kami mendengarkan customer

Oleh Achmad S. Sofwan
Kami mendengarkan customer

Pada era digital, perusahaan-perusahaan berlomba melakukan transformasi bisnis dengan memanfaatkan dunia digital. Managing Director PT Fujitsu Indonesia achmad Sunuadji sofwan berbincang dengan jurnalis KONTAN Marantina Napitu, bagaimana perusahaannya memanfaatkan peluang besar ini.

Sebelum saya memimpin perusahaan ini, tampuk kepemimpinan selalu dipegang oleh perwakilan dari Jepang. Lantas, kantor pusat melihat bahwa untuk bisa bersaing di suatu negara, posisi puncak perusahaan sebaiknya diserahkan pada orang lokal. Tentunya, orang lokal lebih tahu mengenai bisnis di tempat ia beroperasi.

Saya kemudian terpilih menjadi orang lokal pertama yang memimpin perusahaan asal Jepang ini pada 2007. Saya sendiri bergabung di Fujitsu sejak 2005 sebagai sales director. Pada 2007, saya sudah berkecimpung selama 24 tahun di dunia IT.

Saya merasa sudah cukup punya pengalaman dan pengetahuan untuk memimpin perusahaan sebesar Fujitsu. Sebelumnya, saya juga berpengalaman di jajaran direksi perusahaan, sehingga tak terlalu gamang lagi. Mandat dari kantor pusat, tentu saya diharapkan mengembangkan bisnis Fujitsu. Apalagi, potensi IT di Indonesia sangat besar.

Dengan kepemimpinan saya, diharapkan solusi IT yang dihadirkan Fujitsu membantu orang bisa bekerja lebih baik, untuk menjalani kehidupan sosial yang lebih baik. Ini juga dikukuhkan dengan slogan Fujitsu tahun ini, yakni human centric intelligent society. Jadi, kami percaya bahwa IT bisa memberi manfaat kepada masyarakat, baik secara sosial maupun secara bisnis. Faktor manusia harus jadi fokus.

Selama sembilan tahun kepemimpinan saya, banyak perubahan dihadirkan Fujitsu. Seperti kita tahu, IT menghadirkan perubahan yang sangat besar di Indonesia untuk semua bidang bisnis maupun sosial.

Yang jadi tantangan ialah kreativitas tim Fujitsu untuk membuat suatu nilai tambah pada pengguna Fujitsu, terutama dengan transformasi digital, misal dengan konektivitas, big data, internet of things yang sekarang jadi tren.

Pada 2007, transformasi digital belum terlalu terasa. Dulu tantangannya sebatas bagaimana produk maupun layanan Fujitsu membuat pekerjaan atau pun bisnis klien menjadi lebih efisien dengan IT. Saat ini, tantangannya lebih kompleks dan lebih sulit. IT mengubah model bisnis perusahaan serta cara orang bersosialisasi. Kemungkinan yang terjadi di perusahaan menjadi tak terbatas.

Selama sembilan tahun mengemban posisi managing director, menurut saya, tiga tahun terakhir merupakan tahun yang paling berat. Tahun 2014 menjadi tahun paling berat karena merupakan tahun pemilu. Pendapatan perusahaan turun saat itu.


Close [X]