Sejak akhir Juni lalu, Roy Sembel resmi bergabung dalam jajaran direksi…"/>

EXECUTIVE CORNER CEO TALK
Executive Corner
Kami tak takut kompetisi asal adil dan wajar

Kami tak takut kompetisi asal adil dan wajar

Kami tak takut kompetisi asal adil dan wajar

 Sejak akhir Juni lalu, Roy Sembel resmi bergabung dalam jajaran direksi PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ). Sebagai orang yang sudah lama berkecimpung di dunia pasar modal, Roy, bersama direksi lainnya, punya seabrek rencana untuk memajukan BBJ yang selama ini masih terseok-seok. Roy, yang juga bergelar profesor,  menuturkan upayanya memperbaiki BBJ kepada wartawan KONTAN Harris Hadinata, beberapa waktu lalu.

Perdagangan berjangka di Indonesia memang masih dalam perkembangan. Apalagi, perdagangan berjangka memang lebih advance bila dibandingkan dengan saham, misalnya. Jadi, tidak heran kalau butuh waktu bagi perdagangan berjangka untuk menjadi sesuatu yang dikenal masyarakat.

Bahkan, kalau kita berkaca pada perdagangan saham, bursa saham juga butuh waktu sekitar 13 tahun untuk berkembang. Itu sudah didukung habis-habisan oleh pemerintah. Adapun BBJ ini dari awal langsung tanpa modal pemerintah. Jadi, istilahnya baru lahir langsung disuruh lari. Makanya, di awal tersendat-sendat.
Saat ini, kondisi sudah lebih baik. Tapi, memang dari sisi total transaksi, belum seperti yang diharapkan. Jadi, seperti banyak dilaporkan media, rata-rata transaksi harian saat ini sekitar 19.000–20.000 lot. Itu sudah gabungan transaksi multilateral dan over the counter.

Sebagai direksi baru, kami akan meneruskan apa yang sudah dirintis direksi lama. Direksi yang lama di bawah kepemimpinan Bapak Hasan Zein Mahmud bisa dibilang sebagai pembuka hutannya. Sekarang hutannya sudah dibuka, kami melanjutkan dengan membangun kotanya.

Untuk itu, kami mempunyai slogan BBJ Berbenah Meraih PRESTASI. PRESTASI itu singkatan, supaya gampang diingat. Hal-hal yang akan kami benahi ada di PRESTASI itu. Apa saja PRESTASI tersebut?

“P” adalah product development. Sebelum ini, prinsipnya, pokoknya, produk ada dulu, baru nanti diperbaiki. Nah, kini, kami mulai memperbaiki. Pembenahan produk ini kami mulai dari standard operating procedure (SOP). Kemudian kami lihat, apa sih sebenarnya yang dibutuhkan pasar? Kenapa dulu sampai stagnan?

Kami juga meminta masukan dari anggota bursa dan juga dari orang yang terkait di komoditas tersebut. Dari situ, kami lihat produk apa yang perlu kami prioritaskan pembenahannya. Saat ini, untuk tahap pertama, prioritas kami adalah mempercantik produk yang sudah ada supaya lebih sesuai dengan keinginan pasar.

Dus, kami buat produk dengan kontrak mini. Misalnya, olein, ada dua produk. Selain produk lama yang kontraknya 20 ton, ada produk baru yang kontraknya lebih mini, yaitu 10 ton. Kontrak emas juga, yang tadinya satu kilogram, kami buatkan yang cuma 250 gram. Kontrak mini ini sudah diluncurkan pada Oktober lalu dan peminatnya cukup banyak.

Tahap kedua, “R”, ada revitalisasi. Produk yang dulu pernah ada  akan kami lihat potensinya apakah bisa direvitalisasi atau tidak. Juga ada permintaan-permintaan kontrak yang baru lagi. Kami akan kaji dulu, jangan sampai, nanti begitu diluncurkan tidak jalan.

Kami memang sedang menggodok beberapa produk baru. Kami juga sudah berbicara dengan beberapa asosiasi. Tapi,  apa produk barunya belum bisa saya sebut. Sekarang, kami fokus pada produk yang ada di depan mata dulu. Targetnya tahun depan nanti produk baru akan kami luncurkan.

 

Buat commodity desk

Kemudian “R” itu untuk relationship improvement. Memperbaiki hubungan dan kerjasama dengan stakeholder juga menjadi prioritas kami. Waktu baru buka hutan dulu, mau tidak mau, pasti ada sikut kiri sikut kanan, banyak friksi.

Jadi, sekarang, kami mulai meningkatkan hubungan baik dengan stakeholder, baik dengan regulator di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dengan kliring di Kliring Berjangka Indonesia (KBI), dengan anggota bursa, investor, dan media. Jadi sekarang tidak ada lagi friksi.

Lalu “E” dan “S” dari PRESTASI adalah education dan socialization. Edukasi dan sosialisasi ini merupakan faktor yang penting untuk memperdalam dan memperluas basis investor. Edukasi dan sosialisasi ini bukan cuma ke luar, tapi juga di internal BBJ sendiri.

Kami juga meminta setiap anggota bursa untuk mengembangkan apa yang namanya commodity desk. Ini orang-orang yang secara khusus bertanggung jawab untuk mengembangkan transaksi komoditas. Mereka bertugas memberi gambaran pada masyarakat bagaimana transaksi komoditas itu.

Untuk itu, kami mengadakan pelatihan khusus bagi anggota commodity desk ini, supaya tahu apa yang harus dilakukan. Yang memberi pelatihan dari BBJ sendiri, juga ahli dari luar. Jadi, mereka bisa mendapat gambaran yang tepat. Tentu, ada insentif bagi mereka.

Jadi, nanti jelas siapa yang tanggungjawab atas perkembangan transaksi. Dulu, kan, ditanya siapa yang bertanggungjawab? Oh, itu tanggungjawab semua. Akhirnya, malah tidak jelas siapa yang tanggungjawab. Dengan adanya commodity desk, jelas leher siapa yang harus dipegang.

Lalu, “T” adalah technology enhancement, atau peningkatan dari sisi teknologi. Kami sudah mengembangkan Jakarta Futures Electronic Trading System (JAFeTS) 3. Sekarang kami sudah melakukan perdagangan dengan cara remote trading.

Kami juga mendorong anggota bursa menyediakan online trading bagi nasabahnya. Kami pun membantu menyediakan perangkat awalnya. Saat ini kami sedang mengembangkan software asalnya.

Selain untuk transaksi multilateral, kami juga mengembangkan sistem single platform untuk perdagangan di over the counter. Sistem ini dalam proses pengembangan yang intensif agar bisa cepat selesai.

Setelah itu ada “A” atau accountability. Kami berusaha memperbaiki good corporate governance di BBJ, sehingga nanti bisa bertumbuh cepat.

Berikutnya “S”, yaitu system of organization. Kami membenahi tata kelola manajemen. Waktu pertama diangkat jadi direksi, saya langsung melakukan one-on-one interview dengan karyawan, sampai ke office boy. Saya kumpulkan apa yang menjadi concern mereka. Dari situ bisa dirangkum apa yang jadi kebutuhan organisasi ini.

Kami juga membenahi divisi yang kurang optimal. Kalau ada kebutuhan penambahan divisi, kami buat yang baru. Tidak perlu menambah SDM baru, karena di dalam ada yang bisa dialokasi ulang. Tapi, ada juga yang memang butuh SDM.

Kami juga buat koperasi karyawan. Namanya Koperasi Prestasi. Jadi, kesejahteraan karyawan juga diperhatikan.

Lalu, “I” untuk integrity of market. Kami mencoba membangun integritas pasar. Caranya dengan menegakkan aturan. Kami bina yang melanggar.

Dengan pembenahan itu, kami harap BBJ bisa terus tumbuh. Apalagi, kami melihat potensi pengembangan perdagangan berjangka masih luar biasa. Seperti ditulis KONTAN, tahun ini produk domestik bruto (PDB) per kapita Indonesia sudah US$ 2.900.  Biasanya, angka psikologis PDB per kapita itu US$ 3.000. Tahun depan, mestinya, angka itu sudah tembus. Begitu tembus, biasanya bisnis jasa keuangan yang non-standar akan berkembang.

Memang, sekarang kami sudah punya pesaing. Tapi, kompetisi itu punya sisi positif, bisa membuat makin bergairah untuk berkembang. Karena, kami jadi punya pembanding. Kami tidak takut berkompetisi, asal adil dan wajar. Apalagi kami punya SDM yang sudah berpengalaman.    




Komentar