: WIB    —   
indikator  I  

Kami tidak harus berkompetisi

Oleh Randeep Singh Sekhon
Kami tidak harus berkompetisi

Berhasil memenangkan lelang frekuensi, PT Hutchison 3 Indonesia atau Tri berencana meningkatkan layanan 4G mereka.

Kepada jurnalis KONTAN Ahmad Febrian dan Agung Jatmiko, Presiden Direktur Tri, Randeep Singh Sekhon menceritakan strategi dan langkah Tri memantapkan bisnis di industri telekomunikasi.

Akhir bulan Oktober 2017 boleh dibilang menjadi saat-saat yang menggembirakan bagi kami. Sebab, kami berhasil memenangkan lelang frekuensi 2.100 MHz.

Dengan kemenangan lelang ini, ke depan, kami akan semakin agresif dalam menyediakan layanan 4G. Selama ini, sebagian besar atau sekitar 50% trafik kami, masih berasal dari 3G.

Besaran nilai lelang yang kami menangkan adalah sebesar Rp 423,084 miliar yang semuanya akan didanai dari kas internal perusahaan.

Sebenarnya, untuk lelang ini, kami sudah bersiap sejak 2015 silam. Saya sendiri yakin, lelang ini tidak akan mengganggu arus kas kami, melainkan justru akan semakin efisien.

Pemanfaatan frekuensi 2.100 MHz baru bisa dirasakan tahun depan, setelah penataan ulang kanal (refarming). Saat ini, kami sedang menunggu refarming agar bisa menempatinya sesuai ketentuan.

Kami nanti akan menempati blok 1, 2, dan 3 di frekuensi 2,1 GHz. Refarming sendiri akan selesai 25 April 2018. Jadi, setelah April 2018, frekuensi baru ini baru akan terasa.

Bicara tentang industri telekomunikasi, nature atau sifat alamiah industri ini adalah sangat kompetitif, tidak hanya di Indonesia, namun di seluruh dunia.

Perubahan teknologi serta semakin banyaknya pemain over the top (OTT) menjadi tantangan tersendiri bagi para pemain industri ini, termasuk kami.

Semua pemain, menurut saya, mengincar hal yang sama, yaitu menghadirkan pengalaman (experience) menyenangkan pada konsumen.

Saya meyakini, langkah strategis Tri adalah mencari posisi yang pas di tengah ketatnya persaingan industri telekomunikasi Indonesia.

Selalu meningkatkan layanan yang menghadirkan pengalaman yang menyenangkan adalah sesuatu yang terus kami lakukan.

Tantangan dalam berinvestasi di Indonesia tentu saja hadir dalam bentuk geografis. Seperti yang Anda tahu, Indonesia adalah negara kepulauan berbeda dengan negara yang kecil atau negara yang wilayahnya mayoritas daratan, tentu mengembangkan industri telekomunikasi di sini membutuhkan investasi yang tidak sedikit.

Apalagi, penyebaran penduduk di Indonesia juga tidak merata. Nah, ini tentu menjadi tantangan bagi kami selaku pemain industri telekomunikasi.