: WIB    —   
indikator  I  

Kami tidak harus berkompetisi

Oleh Randeep Singh Sekhon
Kami tidak harus berkompetisi

 

Tri boleh dikata sudah melakukan yang seharusnya, yaitu hadir di seluruh Indonesia, minus Maluku dan Papua. Kami sudah hadir di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, bahkan sampai Lombok.

Tak hanya hadir di banyak tempat, kami juga fokus dalam memberikan layanan internet cepat (broadband) yang setara.

Maksudnya, layanan broadband sebuah kampung di Aceh misalnya, harus setara kualitasnya dengan Jakarta.

Hal ini menjadi fokus, sebab kami menyadari bahwa arus informasi harus setara sehingga anak-anak muda di Aceh dapat menikmati pengalaman berinternet dan berkomunikasi yang baik. Tidak hanya kota-kota di Jawa saja yang mendapatkan kenikmatan ini.

Kami sendiri sudah meluncurkan mega project di tahun 2011 silam dan kami juga sudah berinvestasi dengan pembangunan jaringan-jaringan untuk memastikan layanan Tri yang didapat di tiap-tiap daerah setara.

Investasi di teknologi yang memudahkan konsumen melakukan upgrade dari 2G ke 3G juga sudah kami lakukan, demi memastikan pengalaman yang dirasakan konsumen cukup memuaskan.

Kami memang terlihat kecil dari luar, namun di dalam kami bukanlah perusahaan yang kecil. Dari segi traffic, kami menempati urutan kedua di Indonesia.

Kami juga yang tertinggi dalam hal penggunaan media sosial oleh konsumen. Artinya, banyak yang mengakses media sosial adalah pengguna Tri. Kebanyakan pelanggan kami merupakan anak-anak muda.

Relasi dengan konsumen pun kami tergolong responsif. Kami tak hanya mengandalkan call center, tetapi juga memiliki WeChat, Facebook, BBM, e-mail. Mereka (konsumen) bisa memilih cara untuk menjangkau kami dan kami sangat menyambut.

Dari segi jumlah pelanggan, kami menempati urutan ketiga dengan jumlah pelanggan mencapai 59,2 juta. Anda bertanya, bagaimana kami bisa berkompetisi dengan urutan nomor satu dan dua?

Jawaban saya, kami tidak harus berkompetisi dengan mereka. Dalam industri apapun bentuknya, saya meyakini tidak harus bertarung melawan nomor satu atau nomor dua. Sebab, setiap pemain memiliki pangsa pasarnya sendiri.

Saya berikan sebuah contoh di industri lain, industri penerbangan misalnya. Katakanlah maskapai Singapore Airlines yang merupakan premium airline dan tiketnya tergolong mahal.

Kemudian, ada AirAsia yang merupakan low cost carrier dengan tiketnya yang murah. Keduanya sama-sama menghasilkan uang bukan?