: WIB    —   
indikator  I  

Kami tidak harus berkompetisi

Oleh Randeep Singh Sekhon
Kami tidak harus berkompetisi

 

Keduanya pun memiliki pangsa pasar tersendiri. Nah, ini yang saya katakan dalam suatu industri tidak perlu bertarung, namun dengan kemampuan yang ada, perusahaan harus mampu menciptakan pasar atau menetapkan pangsa pasar sendiri.

Setiap perusahaan harus fokus menghadirkan layanan yang terbaik untuk pangsa pasar yang dibidik.

Jika AirAsia memutuskan untuk bertarung melawan Singapore Airline, bisa dipastikan ia akan kalah karena bertarung di ranah yang bukan spesialisasinya.

Kami juga sudah menentukan segmen dan kami berusaha menjadi perusahaan yang efisien di segmen tersebut.

Jadi, kami tidak akan bertarung atau berkompetisi dengan nomor satu dan dua, melainkan melakukan yang terbaik di segmen kami dan memberikan nilai tambah bagi konsumen maupun bagi investor.

Kami sangat paham, pangsa pasar kami dan kami ingin menjadi “AirAsia” telko (telekomunikasi), menjadi perusahaan yang efisien, namun tetap memberikan layanan yang terbaik bagi konsumen.

Pangsa pasar kami utamanya adalah anak-anak muda, baik yang masih berada di bangku sekolah menengah maupun perguruan tinggi.

Kemudian, pengusaha awal (first entrepreneur), para profesional muda yang baru mulai menapaki karier. Secara total, 80% dari pelanggan kami merupakan orang-orang berusia 15 tahun–25 tahun.

Ada sekitar 47 juta pelanggan adalah anak-anak muda. Untuk tahun ini, kami menargetkan akan mampu meraih 60 juta pelanggan.

Strategi kami di tahun 2018 sangat sederhana, yaitu menghadirkan layanan 4G yang memuaskan.

Gaya partisipatif

Gaya kepemimpinan yang saya terapkan adalah kepemimpinan partisipatif yang mengedepankan peran tim. Jika diibaratkan, saya bukan dirigen dalam orkestra yang memberikan arahan, namun saya adalah seorang kapten dalam tim sepak bola.

Maksudnya, saya tetap bermain dalam tim dan memiliki peran tersendiri serta menjaga tim tetap fokus dalam memenangkan pertandingan.

Dengan memiliki gaya yang partisipatif, artinya setiap saat saya memberikan kebebasan kepada orang lain untuk melaksanakan ide.

Komunikasi, menurut saya, memegang kunci dalam meneruskan (deliver) strategi yang dicanangkan manajemen kepada segenap karyawan Tri. Untungnya, budaya dalam tubuh Tri lebih mengarah kepada start-up, bukan korporasi besar.

Maksudnya begini, sebagai entitas bisnis, kami memiliki struktur organisasi yang ramping, tidak ada struktur hierarki yang serba rumit dan berjarak.

Selain itu, di gedung Tri sendiri, tidak ada lantai khusus direktur. Setiap direktur berkantor di tengah-tengah timnya. Jadi, mereka bisa berinteraksi langsung dengan bawahannya.

Setiap orang pun bebas mengetuk pintu direktur maupun saya sebagai pimpinan. Jika ada karyawan yang ingin mengutarakan idenya, mereka bisa langsung bertemu saya atau bercakap-cakap via media sosial.

Untuk yang satu ini, kami memiliki laman Facebook khusus, yakni Satria yang merupakan panggilan kami bagi karyawan-karyawati Tri.

Kami juga punya banyak forum, seperti leaders dialogue, dimana kami dewan direksi bicara kepada level pimpinan di bawah kami secara langsung, empat mata dan diskusi grup.

Di forum ini, kami bicara apa saja, mulai dari apa yang sedang mereka kerjakan, mengenai rencana jangka pendek dan menengah juga kami diskusikan di forum ini.

Untuk rencana jangka panjang, kami tidak memilikinya sebab kami meyakini di industri yang perubahannya sangat cepat seperti telekomunikasi akan sangat riskan jika kami menetapkan rencana jangka panjang.

Bagi kami, strategi jangka pendek dan menengah merupakan strategi yang pas untuk mengantisipasi perubahan yang setiap saat dapat terjadi.

Kami selalu berkomunikasi kepada setiap pimpinan di setiap departemen, mulai dari departemen legal sampai sales.

Lewat komunikasi yang intens via forum leaders dialogue, kami bisa berdiskusi mengenai arah perusahaan, apa yang sedang dilakukan, tantangan apa saja serta bagaimana kami secara tim mampu mengatasi tantangan tersebut.

Mereka tak hanya bisa mengutarakan ide terkait departemennya, tetapi juga untuk departemen lain.

Tentu saja sebuah ide tidak akan langsung diimplementasikan, tetapi akan kami diskusikan terlebih dahulu, terkait apakah ide ini bisa diterapkan dalam jangka pendek atau jangka menengah, serta kami diskusikan pula mengenai biayanya.

Kami punya slogan: Semua Pasti Bisa. Slogan ini, menurut saya, memiliki dampak yang besar. Sebab, kami percaya bahwa sebagai tim, kami yakin bisa memberikan yang terbaik bagi konsumen dan bagi perusahaan.

* Artikel ini sebelumnya sudah dimuat di Tabloid KONTAN edisi 27 November - 3 Desember 2017 . Selengkapnya silakan klik link berikut: "Kami Tidak Harus Berkompetisi"