: WIB    —   
indikator  I  

Keseimbangan, kunci memimpin anak BUMN

Oleh Nariman Prasetyo
Keseimbangan, kunci memimpin anak BUMN

WIKA Gedung berencana IPO tahun ini. Kepada jurnalis KONTAN, Titis Nurdiana, Frassetyo Elhadi, Dina Hutauruk, dan Riska Rahman, Direktur Utama WIKA Gedung Nariman Prasetyo berbagi rencana kerja perusahaan serta filosofi kepemimpinan yang ia terapkan di tubuh WIKA Gedung.

Saya diangkat menjadi Direktur Utama PT Wijaya Karya Bangunan Gedung (WIKA Gedung) itu per 13 April 2017. Namun, saya bukan orang baru di Wijaya Karya (WIKA).

Karier saya dimulai di WIKA. Sebelum menjadi Dirut WIKA Gedung, saya menjabat sebagai Komisaris WIKA Gedung selama periode 2016-2017, kemudian sebagai Komisaris WIKA Beton 2013-2016.

Setelah itu, saya dipercaya memegang posisi General Manager Infrastruktur Sipil Umum 2014-2017.

Saya pun sudah melalui berbagai jenjang di WIKA, sebagai manager divisi, manager proyek, manager komersial. Sampai staf engineering pun semua sudah saya lalui semenjak tahun 1988. Jadi, boleh dikata perjalanan karier saya itu sudah membentang selama 29 tahun.

WIKA Gedung baru berdiri pada 24 Oktober 2008 dengan lini usaha di bidang konstruksi bangunan gedung. Setelah itu, kami terus melakukan inovasi, seperti masuk ke sektor jasa konstruksi dan kemudian lanjut ke pengembangan bisnis properti.

Dibandingkan dengan perusahaan lain yang bergerak di bidang yang sama, WIKA Gedung memiliki keunggulan dalam hal konsep dan pola solusi total.

Yang dimaksud dengan solusi total ini adalah, di WIKA Gedung, pengerjaan segala sesuatu mulai dari design and build serta perencanaan pekerjaan itu harus sesuai permintaan klien.

Kami pun meyakinkan klien dalam hal kualitas, waktu pengerjaan, serta dari sisi manfaat komersial dan biayanya.

Kemudian yang paling penting, kami mengedepankan keunggulan prosedur safety dalam setiap proyek. Urusan safety ini sekarang justru menjadi nomor satu, karena jangan bicara yang lain kalau kita tidak bisa bekerja dengan standar keselamatan yang mumpuni.

WIKA Gedung punya keunggulan di sini juga. Jadi soal safety adalah hal yang paling penting.

Sejauh ini, saya juga tidak melakukan perubahan mendasar dalam tubuh WIKA Gedung, melainkan hanya melanjutkan kebijakan yang sudah ada. Istilahnya saya hanya melakukan improvement untuk meningkatkan nilai tambah.

Bicara soal gebrakan, tentu yang paling dekat adalah kami akan masuk bursa, melangkah untuk mencatatkan initial public offering (IPO).

Sampai saat ini, semua masih sesuai jadwal. Kami sudah masuk ke tahapan registrasi di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Mudah-mudahan pencatatan akhir ini bisa dilakukan di sekitar medio November nanti.

Melalui aksi IPO ini, kami berharap mampu mendapatkan dana sekitar Rp 2 triliun sampai Rp 3 triliun. Dana IPO nantinya akan digunakan untuk menunjang rencana kerja kami. Kurang lebih 30% untuk modal kerja operasi.

Lalu sebanyak 70% lagi rencananya untuk konsensi dan investasi, misalnya di bidang property building, apartemen, hotel di bandara, serta healthcare.

Kalau bicara soal proyek, WIKA Gedung memiliki banyak proyek. Kalau yang besar-besar ada proyek dengan Agung Podomoro di Cimanggis dan Transpark di Cibubur.

Di luar Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) ada proyek Central Business District (CBD) di Surabaya.


Close [X]