Open
Close(X)


EXECUTIVE CORNER KOPI PAGI
Executive Corner
Lebih ringan berbagi beban

Lebih ringan berbagi beban

Lebih ringan berbagi beban

Karakter paling menonjol family business ialah pemilik sentris. Semua bertumpu di pundak pemilik. Ya dari sisi operasional, pengembangan, serta urusan keuangannya.

Dengan karakter family business seperti itu, mau enggak mau banyak sekali tugas yang harus dilakukan pemilik usaha. Kita harus selalu siap sedia dengan setumpuk jalan keluar dan ide bisnis. Padahal problem bisa datang setiap saat. Dari yang besar sampai masalah remeh.

Persoalannya, berapa banyak energi yang harus dibuang kalau semuanya harus ditangani satu pihak? Apa enggak lebih baik energi tersebut digunakan untuk memikirkan langkah strategis pengembangan usaha?

Mengelola family business jelas lebih susah daripada bikin usaha sendiri. Aset sangat kuat namun resources belum tentu sesuai dengan apa yang kita maui. Yang sudah ada dan bagus tetap dipertahankan, tapi ke depannya ada budaya baru.

Nah, saya datang dari organisasi bisnis seperti itu. Ini tantangan besar bagi saya.

Terus terang saya enggak mau semua beban menumpuk di saya. Bukan persoalan enggak mau capek. Saya ingin berada di posisi benar sebagai owner; lebih fokus di aspek strategis. Kalau semua ditumpuk ke saya, jalannya bisnis malah lambat. Makanya saya mikir, bagaimana caranya biar tugas itu menyebar, tidak melulu beban itu menumpuk di owner.

Salah satu strategi yang saya terapkan adalah memacu intrapreneurship. Memacu semangat entrepreneurship di dalam perusahaan, tanpa terkecuali ke dalam tubuh karyawan. Bagaimana jiwa usaha itu tumbuh di kalangan karyawan sendiri.

Prinsip utama yang dikembangkan intrapreneurship adalah empowerment dan accountable. Ada reward and punishment. Remunerasi selalu terhubung ke hal itu agar motivasi pegawai keluar.

Mereka bukan melulu bekerja menjalankan perintah, namun punya persepsi entrepreneurship. Ada tanggung jawab di sini.

Punya pegawai seperti itu kan enak. Pola pikirnya seperti pengusaha.  Mereka bisa berjalan sendiri. Terus berpikir bagaimana usahanya berkembang. Mereka jadi selalu terpacu berkompetisi karena  tingginya sense of belonging terhadap perusahaan.

Semua divisi di Sintesa Group punya proyek bisnis sendiri. Mereka bebas menjalankannya tanpa harus menunggu keputusan saya. Saya hanya menetapkan targetnya.

Hasilnya bagus. Mereka lebih kreatif dan jiwa usahanya tumbuh. Mereka lebih bertanggung jawab. Bagaimana tidak terpacu tanggung jawabnya, mereka mengambil risiko keuangan atas terjadinya kerugian atau keuntungan.

Prinsip-prinsip "berbagi" beban ini juga diterapkan dalam bermitra. Tujuan kerja sama kan untuk saling melengkapi. Satu sama lain saling mendukung. Jadi, mestinya lebih enteng setelah punya mitra.

Oleh sebab itu, Sintesa mau bermitra dengan Metro AG, perusahaan grosir terbesar dunia asal Jerman. Saya melihat perusahaan ini membawa spirit bagus, tidak sekadar membangun toko, dan membuka lapangan kerja. Praktik bisnisnya memecahkan banyak hal, dan meringankan banyak beban. They go beyond the business.

Ambil contoh, selama ini kita bicara corporate social responsibility (CSR). Tapi, konteksnya masih sebatas bagi-bagi uang, belum ke pemberdayaan.

Program star farm yang dikembangkan Metro, lebih dari sekadar CSR (beyond CSR). Mereka mendidik petani dan membeli hasilnya sebagai pasokan ke gerai Metro. Model ini ideal karena saling menguntungkan. 



Komentar