: WIB    —   
indikator  I  

Mau meninggalkan zona nyaman

Oleh Freddy Setiawan
Mau meninggalkan zona nyaman

Bagi saya memimpin sebuah perusahaan dibutuhkan keberanian, kemampuan, dan tentu saja pengalaman. Namun, mengurus perusahaan juga butuh pula kemauan meninggalkan zona nyaman yang sudah dinikmati selama ini.

Tak mudah menjadi figur yang mau meninggalkan zona nyaman. Padahal, hal ini akan menjadi nilai tambah sekaligus keunggulan bagi perusahaan yang dipimpinnya nanti.

Dengan bergerak dari zona nyaman, berarti pemimpin tersebut mau melihat potensi dan peluang yang bisa dikembangkan perusahaan.

Setelah melihat potensi dan peluang yang bisa menjadi jalan sukses perusahaan, barulah keberanian seorang pemimpin dibutuhkan untuk mengeksekusinya.

Namun, keberanian tersebut bukan berarti nekat, melainkan cermat dan penuh perhitungan serta mengetahui risiko yang ditimbulkan.

Poin berikutnya adalah kerja keras, hal ini berkaitan dengan kemampuan. Faktor ini bisa dipelajari seiring dengan jam terbang dan seringnya turun ke lapangan.

Tak perlu menjadi seorang ahli, pemimpin cukup mengetahui pola kerja dan praktik di lapangan untuk mengukur tingkat keberhasilannya.

Selanjutnya, dengan semakin terasahnya kemampuan dan mempelajari lebih banyak praktik ketimbang teori, maka pengalaman akan diperoleh si pemimpin.

Pengalaman akan menjadi penopang bagi pemimpin untuk mengambil keputusan strategis. Saya meyakini bahwa pengalaman adalah tempat belajar sesungguhnya bagi tiap orang untuk meraih kesuksesannya.

Selain ketiga faktor utama tadi, saya juga menilai ada faktor lain yang bisa jadi pegangan bagi seorang pemimpin. Salah satunya mempelajari karakter orang lain.

Cara ini hanya bisa diperoleh oleh pemimpin yang rajin turun ke bawah dan berhubungan dengan banyak orang, baik relasi maupun karyawannya sendiri.

Tipikal pemimpin yang bisa membaca karakter orang lain ini hampir dipastikan bakal menjadi pemimpin yang bijak dan mengambil setiap hal baik dari tiap karyawannya.

Menurut saya, seorang pemimpin yang mampu menjalankan semua hal tersebut, setidaknya tak perlu mencari sosok inspirasi atau panutan lagi karena bekalnya sudah cukup kuat untuk menjadi pemimpin perusahaan yang ideal.

Saya bisa mengatakan, dengan menjalankan prinsip-prinsip tersebut, maka pemimpin perusahaan bisa membuat hubungan kerja bernuansa kekeluargaan.

Menurut saya, dengan menjadi keluarga, maka karyawan dan atasan tak akan terasa ada jarak dan hal ini membuat suasana kerja menjadi menyenangkan.

Dengan begitu, pegawai juga bisa mengungkapkan harapan dan keinginannya secara terbuka. Dari konsep tersebut, saya berhasil mengembangkan karyawan saya menjadi lebih baik.

Umumnya, mereka yang berada di level bawah ingin berkembang asalkan diberi peluang dan pelatihan.

Di Forza Land Indonesia sudah banyak office boy (OB) yang telah berkembang menjadi staf di perusahaan ini. Saya ingin hal ini terus dilanjutkan, terutama pengembangan karyawan ini.

Saya menilai pemimpin yang baik itu adalah yang bisa terus berkomunikasi dengan semua karyawannya tanpa ada batasan.

Dari sana, bisa dilihat bahwa banyak hal yang bisa digali dari seorang karyawan yang selama ini punya potensi namun belum ada kesempatan untuk unjuk kemampuan.

 


Close [X]