Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Membentuk budaya bekerja disiplin

Oleh Suwaluyo
Membentuk budaya bekerja disiplin

Saya sejatinya sudah pensiun sejak tahun 2013 dari pekerjaan saya terdahulu di PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI). Tahun ini usia saya 60 tahun. Tapi dua tahun setelah saya purnabakti saya diminta oleh pihak BNI untuk memperbaiki kinerja PT BNI Multifinance.

Pada November 2015, saya resmi menjabat direktur utama di BNI Multifinance. Saat pertama kali masuk perusahaan ini, kinerja keuangan sangat buruk. Perusahaan ini merugi Rp 12 miliar.

Kerugian ini sudah terjadi dalam lima hingga enam tahun. Alasannya merugi karena memang salah urus. Sebab saat pertama kali masuk kinerja sumber daya manusia pun kurang terpantau dan terkontrol.

Kalau boleh saya bilang karyawannya kurang disiplin. Salah satu contohnya adalah BNI Multifinance menerapkan jam kerja yang fleksibel. Jadi misalnya ada yang masuk jam 8.00 maka bisa pulang jam 17.00. Atau mulai kerja jam 9.00 pulang pukul 18.00.

Kebijakan tersebut langsung saya ubah. Saya minta semua karyawan masuk pukul 08.00 WIB. Jika terlambat masuk akan saya beri surat peringatan.

Strategi tersebut dimaksudkan agar karyawan disiplin. Dari situ pun, saya menjadi tahu siapa karyawan yang memang ingin serius dan ikhlas bekerja serta mana karyawan yang memang malas. Cara tersebut juga menjadi seleksi alam bagi mereka.

Strategi mendisiplinkan karyawan tersebut membuat sebagian orang tidak betah bekerja di bawah saya. Ada sembilan orang mengundurkan diri. Semuanya di level manager. Kalau menurut saya itu tidak masalah. Saya memang ingin bekerja dengan orang seirama.

Bahkan dari sisi biaya pun lebih ringan bagi perusahaan. Saya bisa mencari karyawan baru yang lebih bersemangat ketimbang karyawan lama yang suka mengeluh.

Tak hanya itu, saya juga membuat target tertentu. Target tersebut tak hanya target perusahaan namun juga target kepada setiap karyawan. Jika karyawan mampu memenuhi target maka penghargaan berupa kenaikan gaji dan jabatan.

Saya sebagai pimpinan tidak lepas tangan juga. Untuk memantau kinerja setiap karyawan saya mengadakan pertemuan setiap minggu. Dari hasil rapat tersebut saya memantau kinerja dan hambatan dari tiap karyawan.

Hasilnya kini karyawan kian rajin dan lebih disiplin. Dan makin kreatif untuk mengembangkan bisnis. Efeknya kinerja perusahaan ini pun ikut terangkat.

Ini terbukti dengan laba BNI Multifinance sepanjang tahun lalu yang berhasil mencetak untung Rp 8,1 miliar. Menurut saya ini adalah pencapaian yang luar biasa dan hasil kerja keras bersama.

Pada tahun ini kami berharap bisa menaikkan laba bersih menjadi Rp 26 miliar. Target ini melonjak 220,99% dari tahun 2016. Salah satu caranya yakni dengan menaikkan penyaluran pembiayaan Rp 1,2 triliun.

Target tersebut juga lebih tinggi tiga kali lipat dari tahun lalu yang hanya menyalurkan kredit Rp 389 miliar.

Salah satu cara yang kami lakukan adalah memperluas pangsa pasar. Jika sebelumnya menawarkan kredit kepada karyawan BNI. Kami akan mencoba menggaet beberapa klien bank yang segmennya lebih pada korporat.

Ini karena karyawan kami masih sangat sedikit yakni baru 80 orang. Kami tahu benar keterbatasan infrastruktur dan SDM.

Tak hanya itu, BNI Multifinance juga memperluas pasar dengan menambah cabang di Bandung, Banjarmasin Pekanbaru dan Denpasar.

 

Sumber: Harian KONTAN edisi 11 Maret 2017