Open
Close(X)


EXECUTIVE CORNER CEO TALK
Executive Corner
Menanam kultur baru dan membidik peluang lain

Menanam kultur baru dan membidik peluang lain

Menanam kultur baru dan membidik peluang lain

Akhir tahun lalu (28/12), Maryono resmi menjabat Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN). Mantan Direktur Utama PT Bank Mutiara Tbk tersebut menggantikan Iqbal Latanro, pejabat sebelumnya. Apa saja strategi dan gaya kepemimpinan yang akan diterapkan Maryono selama menjadi nakhoda bank spesialis kredit perumahan itu? Berikut penuturan Maryono kepada wartawan KONTAN Nurul Kolbi, Kamis (7/2), di kantornya.

Ketika memperoleh mandat memimpin Bank Tabungan Negara (BTN), yang paling pertama saya perhatikan adalah budaya perusahaan – corporate culture. Saya sangat meyakini, nilai dan budaya berhubungan erat dengan pencapaian kinerja.

Korelasi antara kultur dan kinerja bisa kita lihat pada pengalaman perusahaan-perusahaan legendaris asal Jepang, Eropa, maupun Amerika Serikat (AS). Dengan memiliki karakter khas, perusahaan tersebut membedakan dirinya dengan kompetitor mereka. Beberapa perusahaan besar di Indonesia juga memiliki hal seperti itu, dan bisa sukses.

Berdiri sejak 63 tahun silam, BTN tentu punya kultur tersendiri. Budaya yang sudah mengakar di BTN ini mempengaruhi cara berpikir pimpinan dan para pekerja tingkat lapangan. Mengubahnya tentu tidak mudah, selain membutuhkan proses lama. Maka, saya akan melakukan penyesuaian. Kultur yang baik akan saya tingkatkan. Yang kurang pas akan saya perbaharui.

Nilai-nilai baik itu, misalnya seperti loyalitas pegawai terhadap perusahaan, militansi dalam bekerja, dan kesungguhan melayani. Hal-hal inilah yang sangat menonjol di BTN.

Kultur baru yang perlu saya tanamkan seperti kecepatan kerja dan keberanian menciptakan inisiatif. Pekerja yang terlalu konservatif, dan tidak berani menjajal hal-hal baru, bukan sesuatu yang bagus. Untuk itu, saya akan mencoba merangsang pegawai berkreasi dan memunculkan ide-ide baru. Jika kultur itu terwujud, produk dan layanan yang kami tawarkan juga semakin beragam.

Agar kultur baru ini cepat mengakar, saya harus memberikan contoh. Ini penting karena anak buah akan mengikuti pemimpin, jika sudah ada hasil dari upaya yang dilakukan. Kalau mereka suka, apa saja dilakukan pemimpin, pasti diikuti.

KPR bersubsidi informal

Kalau mendengar nama BTN, yang langsung terlintas di benak konsumen, saat ini, adalah bank spesialis perumahan. Image ini tentu positif dan harus dirawat. Tapi, bukan berarti kami terlalu bertumpu pada bidang ini, sehingga tidak gesit melihat peluang-peluang lain. Diversifikasi bisnis penting, agar sumber pendapatan kian beragam.

Kami menargetkan portfolio produk nonproperti berkontribusi 20%, lebih tinggi daripada posisinya saat ini, sebanyak 15%. Persentase ideal pendapatan nonproperti sebesar 25%. Sedang kredit pemilikan rumah (KPR) komersial atau nonsubsidi akan kami tingkatkan porsinya menjadi 55%, dari posisi saat ini sebesar 45%.

Perubahan komposisi ini bukan berarti kami menilai kredit bersubsidi sudah tidak menarik. Perlu Anda tahu, dari total penyaluran KPR dengan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), kami menyumbang hingga 98%.

Kami juga tengah merancang KPR bersubsidi untuk sektor informal, seperti pedagang pasar, penjual bakso, dan pelaku usaha mikro lain. Mereka punya kemampuan mengangsur pinjaman, tapi tidak bisa memenuhi sisi persyaratan kredit.

Kami dan Kementerian Perumahan Rakyat (Kempera) tengah merampungkan skim kredit supaya masyarakat berpenghasilan rendah bisa punya rumah. Di sisi lain, bank aman dari potensi lonjakan kredit bermasalah (NPL).

Pemerintah mengusulkan, skema penyertaan dana di FLPP sebesar 90% berbanding 10%. Jadi, kalau total kebutuhan dananya mencapai Rp 1 miliar, sebanyak Rp 900 juta berasal dari pemerintah, sementara kami menyetor Rp 100 juta. Produk ini juga mendapat jaminan dari Askrindo.

Bagi kami, gagasan ini cukup bagus karena dapat mengentaskan jumlah masyarakat miskin yang belum punya rumah. Namun, kami tetap harus merampungkan studi kelayakan dan menyusun aturan main yang perinci, agar penyaluran kredit ke segmen ini memenuhi unsur kehati-hatian.

Sekali lagi, komitmen kami untuk KPR bersubsidi tak luntur. Kalau kami meningkatkan KPR komersial, itu hanya upaya meningkatkan pengaruh di ceruk pasar yang lebih besar.

Anda tahu, hampir semua bank besar menjadikan KPR sebagai produk unggulannya. Mereka menggenjot bisnis tersebut untuk menyiasati lini lain yang sedang lesu, seperti kredit ke sektor komoditas, pembiayaan dagang, dan sebagainya.

Kebutuhan rumah memang masih sangat tinggi. Permintaan mencapai 800.000 unit per tahun, sementara pengembang hanya mampu memasok 400.000 unit per tahun.

Angka kekurangan rumah ini terus berakumulasi, sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk berusia produktif yang membutuhkan tempat tinggal. Kesenjangan antara permintaan dan pasokan ini menjelaskan mengapa harga rumah di beberapa lokasi di kota besar naik cepat sekali.

Untuk memperbesar kredit nonperumahan, kami akan menyasar supply chain di bisnis properti.

Intinya, semua aktivitas usaha yang terkait dengan rumah akan kami biayai. Seperti kredit modal kerja untuk toko material, produsen genteng, distributor cat, desain interior, pemasok taman, hingga perajin besi. Mereka ini terbiasa bekerja sama dengan pengembang rekanan BTN. Dari situ pula kami bisa tahu kelayakan mereka menerima kredit.

Tahun lalu, kredit BTN naik sekitar 30%, lebih tinggi daripada rata-rata pertumbuhan industri, yang berkisar 22%–24%. Berdasarkan laporan keuangan tahun 2011, kredit BTN mencapai Rp 63,6 triliun.

Kami juga akan meningkatkan sinergi dengan BUMN, terutama lembaga asuransi, Jam-sostek dan dana pensiun seperti Taspen, Asabri. Jadi, mereka kami ajak menyimpan sebagian dana kelolaannya di BTN.

Selain memberikan bunga yang kompetitif, kami juga akan menyiapkan penawaran KPR yang menarik bagi anggota dana pensiun itu, seperti bunga yang lebih rendah dan proses KPR yang lebih cepat.

Dari sinergi tersebut, kami mendapatkan pasokan likuiditas dan debitur. Sedangkan lembaga Jamsostek, Asabri, Taspen, dan sejenisnya dapat memberikan manfaat lebih banyak bagi anggota mereka.

Tahun ini, kami juga berencana mengembangkan layanan wealth management atau BTN Prioritas. Produknya bakal berbeda dari layanan yang sejenis. Selain memutar dana di produk bancassurance, kami juga menawarkan nasabah untuk berinvestasi di proyek properti.

Jadi, kami akan selalu meng-update nasabah, jika ada penawaran rumah, apartemen, dan ruko yang baru. Informasi yang kami berikan bukan cuma harga, tapi juga prospek produk.

Kami sudah punya 13 outlet prioritas. Yang terbaru, outlet di Bandung dan Bogor. Tahun ini, kami menargetkan 10 outlet baru. Sebagian besar di luar Jakarta. Kami membidik nasabah di daerah yang angka pertumbuhan ekonominya tinggi karena bersaing di Jakarta bukan prioritas kami.

Total dana kelolaan produk ini Rp 3,5 triliun per akhir 2012. Jumlah nasabahnya 5.000 orang. Sebanyak 2.800 adalah nasabah existing, sisanya nasabah baru. Nilai simpanan rata-rata sebesar Rp 600 juta per nasabah. Produk ini mensyaratkan nilai simpanan minimal Rp 250 juta per nasabah.



Komentar