: WIB    —   
indikator  I  

Mencoba kesempatan berbeda

Oleh Budi Kaliwono
Mencoba kesempatan berbeda

Sejatinya saya bukanlah ahli dalam bidang transportasi. Sebab, sebagian besar karier justru saya habiskan di bidang otomotif dan pembiayaan. Saya resmi ditunjuk Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menjadi Dirut PT Transportasi Jakarta (TransJakarta) pada Januari 2016.

Kami bertemu secara profesional dan beliau meminta saya untuk memberi pelayanan terbaik untuk seluruh warga Jakarta. Awalnya tawaran ini tidak langsung saya terima.

Namun, keinginan Pemprov DKI Jakarta untuk membenahi pelayanan Transjakarta membuat saya yakin untuk bergabung. Kapan lagi bergabung dan berkesempatan mengelola banyak bus, punya kegiatan sosial, dan akhir bulan diberi gaji juga.

Sejak awal berkarier saya memang tak pernah punya kriteria khusus mengenai bidang pekerjaan yang akan digeluti. Bagi saya, ditempatkan dimanapun, jika tahu objek dan bisa mengarahkan pegawai seharusnya tidak ada masalah.

Setelah lulus kuliah saya lama bekerja di perusahaan pembiayaan. Di antaranya pernah di Astra Credit Companies (ACC) dan Mega Finance. Sebagai sarjana teknik mesin, tentu saya harus banyak belajar di bidang ini.

Selain belajar memahami soal alur pembiayaan kredit otomotif, saya juga belajar soal interaksi menghadapi atasan dan juga klien. Hal ini menjadi tantangan tersendiri. Alhamdulillah karier terakhir saya di dua perusahaan ini berada di puncak sebagai Direktur Utama.

Setelah itu, saya sempat bisnis dan gagal. Nah, satu-satunya pengalaman saya berhubungan dengan dunia transportasi saat saya diajak seorang rekan bergabung di Citra Maharlika Nusantara Corpora Tbk atau dahulu dikenal dengan Cipaganti.

Saya ditunjuk menjadi Wakil Presiden Direktur di perusahaan ini. Namun, posisi ini tak lama, Januari 2016 saya pindah setelah ditunjuk menjadi Dirut TransJakarta.

Pekerjaan yang saya jalani saat ini sangat menantang. Sebab, menjadi bos TransJakarta berarti menjadi pelayan bagi 450.000 penumpang yang menggunakan armada TransJakarta setiap hari. Dengan begitu, pelayanan prima tak bisa ditawar lagi.

Selain soal pelayanan, tugas berat saya sebagai pimpinan Transjakarta adalah dari sisi pengadaan bus yang berkualitas dan akhirnya berujung pada kenyamanan penumpang. Tantangan ini telah saya laksanakan sepanjang tahun lalu, dimana TransJakarta berhasil memasukkan 575 bus baru untuk dioperasikan.

Namun, dengan kondisi yang tidak layak, beberapa bus ditiadakan dan tersisa 375 dan ditambah 50 bus baru. Pengadaan harus cepat tapi tetap harus memikirkan spesifikasi yang cocok.

Proses pengadaan bus akan terus dilakukan pada tahun ini. Hingga akhir tahun ini, ditargetkan TransJakarta bisa mengoperasikan 3.000 bus di berbagai koridor dan juga rute di Jakarta. Sebagai gambaran, saat ini baru ada 1.100 bus yang beroperasi di seluruh Jakarta.

Tak hanya menambah rute dan bus, saya juga sudah menyiapkan bus khusus wanita di koridor 1 dan 9. Disamping itu, ada juga bus vintage bagi para pengguna bus yang ingin bernostalgia tentang suasana naik bus di zaman dahulu.

Selain bus khusus wanita dan bus vintage, saya juga sudah menyiapkan TransJakarta Cares untuk para penumpang yang memiliki keterbatasan fisik atau kaum difabel.

Konsep dan program yang akan dilaksanakan ini tidak dilakukan dalam sehari. Kesuksesan program ini juga merupakan andil seluruh karyawan TransJakarta.

Sumber: Harian KONTAN edisi 4 Maret 2017


Close [X]