EXECUTIVE CORNER KOPI PAGI
Executive Corner
Menjadi motivator sekaligus mentor

Menjadi motivator sekaligus mentor

Menjadi motivator sekaligus mentor

Setiap orang dilahirkan dengan potensi berbeda-beda. Bakatnya lain-lain. Namun pada dasarnya setiap individu memiliki potensi, seberapa pun takarannya. Sangat berbakat, cukup berbakat, atau bakatnya biasa saja.

Pun tidak semua orang sanggup mengoptimalkan potensinya. Adakalanya orang yang biasa-biasa saja namun tahu bagaimana memaksimalkan kemampuannya. Sehingga, dia bisa menjadi orang hebat.

Banyak pula yang sebenarnya sangat potensial, brilian, amat berbakat, namun belum bisa memaksimalkannya. Prestasinya tidak menonjol.

Coba lihat sekeliling kita. Misalnya, teman-teman di kantor. Mereka yang berprestasi pada dasarnya orang-orang yang menyadari akan potensinya. Sesekali kita bergumam menyayangkan bila seorang rekan yang sebenarnya hebat, tetapi minim prestasinya.

Di sinilah arti pentingnya kehadiran pemimpin. Tugas seorang pemimpin meletupkan potensi yang dipimpinnya. Kita tidak membutuhkan pemimpin jika semua orang sudah pintar, tahu akan potensinya dan sanggup mengoptimalkan kemampuannya.

Saya percaya, tugas ini hanya bisa dilakukan bila pemimpin bisa menjadi mentor dan seorang motivator. Mulai dari hal sepele saja,  mau menjadi teman ngobrol dan bersedia mendengarkan keluhannya.

Proses mentoring dan konseling mentransformasikan potensi menjadi kinerja. Ini bagian dari pengembangan diri manusia, sekaligus membentuk relasi positif. Anak buah lebih cakap menyelesaikan tugasnya karena termotivasi.

Di sisi sang pemimpin, proses ini adalah kesempatan menanamkan pengaruh dan kebijakannya ke dalam si anak buah. Dalam berbagai segi, saya melihat pemimpin yang hebat juga seorang motivator dan konselor yang baik.

Saya berikan contoh kekuatan sebuah motivasi. Tahun 2005, industri reksadana di Indonesia dilanda crash. Terjadi penarikan dana besar-besaran. Aset reksadana jatuh. Tahun 2004, aset industri reksadana sekitar Rp 104 triliun turun menjadi Rp 29,17 triliun di tahun 2005.

Mandiri Manajemen Investasi, tempat bekerja saya waktu itu, boleh dibilang paling parah. Bayangkan, aset sebelumnya sekitar Rp 24 triliun, tiba-tiba turun menjadi sekitar Rp 240 miliar. Banyak nasabah waktu itu yang marah-marah. Telepon tidak pernah berhenti yang isinya komplain. Efek terbesarnya adalah mental teman-teman di tim saya jatuh.

Apa yang dibutuhkan saat itu? Hanya motivasi. Tim ini harus diberi semangat lagi. Mentalnya dibangkitkan lagi. Tidak mungkin mereka bisa menghadapi kemarahan nasabah bila mentalnya sudah runtuh.

Saya minta nasabah menghubungi saya jika tak bisa lagi menangani komplen nasabah. Hasilnya? Tahun berikutnya asetnya naik dan naik  lagi menjadi Rp 6 triliun. Bahkan ada nasabah yang saat itu paling marah, sekarang menjadi teman paling baik.

Jadi, jangan sungkan menjalankan peran sebagai motivator. Saya percaya, mengembangkan kemampuan orang lain memiliki dampak positif sangat besar.

Menjadi prestasi bagi seorang pemimpin bila sanggup membawa orang lain untuk mencapai prestasi. Kita tidak akan menyesali waktu yang kita investasikan bagi orang. Hidup juga menjadi lebih berarti karena bermakna bagi orang lain. 



Komentar