EXECUTIVE CORNER KOPI PAGI
Executive Corner
Mitos generasi ketiga bisnis keluarga

Mitos generasi ketiga bisnis keluarga

Mitos generasi ketiga bisnis keluarga

Bisnis keluarga akan hancur di tangan generasi ketiga adalah mitos. Hidup mati perusahaan tidak ada kaitannya dengan urusan generasi.

Memang benar ada kelompok bisnis keluarga yang akhirnya bangkrut di tangan generasi ketiga. Namun kita tak bisa mengabaikan banyak bisnis keluarga yang justru bertambah besar dan maju di tangan generasi ketiga.

Bagi saya, minimal dua prinsip mengelola bisnis keluarga.

Pertama, kelangsungan bisnis keluarga terletak pada bagaimana pewarisnya mengetahui dan mempertahankan value perusahaan yang dibangun para pendirinya.

Bagaimana transformasi nilai-nilai antar generasi, akan menentukan masa depan bisnis. Bila terjadi gap antargenerasi, mungkin dari sini awal persoalannya.

Saya aktif belajar nilai-nilai perusahaan dari kakek saya, almarhum Soedarpo Sastrosatomo. Nilai-nilai perusahaan ini yang tak bisa ditawar, yakni menjaga reputasi baik dan kredibilitas, dan dapat dipercaya.

Value baik selalu up to date. Nilai-nilai yang baik tidak akan pernah lekang oleh zaman. Tidak ada yang bisa menyangkal, menjaga kepercayaan, kejujuran dan profesionalisme adalah hal yang bagus. Dari zaman dulu sampai sekarang prinsip ini terus berlaku.

Yang kedua, menjaga bisnis keluarga juga tidak harus terjebak pada emosi dan romantisme masa lalu. Tidak semua warisan itu bersifat keramat atau tidak bisa diubah. Kalau memang baik  dipertahankan. Kalau buruk, harus diubah.

Poin nomor dua ini memang gampang diucapkan tapi berat dilaksanakan. Ada pengalaman di mana saya benar-benar di posisi sulit.

Grup bisnis ini memiliki banyak anak usaha, sampai lebih dari 70 perusahaan. Karena begitu banyak, kontrol dan pengawasannya kurang optimal. Ada beberapa yang memanfaatkan celah kelemahan kontrol ini untuk kepentingan pribadi. Pelakunya adalah orang-orang yang dekat dengan kakek saya dan sudah saya anggap Om.

Saya tahu, kalau tidak segera diselesaikan akan menjadi bahaya bagi perusahaan ini. Tapi kalau mempertimbangkan emosi, melihat sejarah, mereka sudah dianggap seperti keluarga besar kami dan berjasa bagi perusahaan ini.

Saya sampai enggak bisa tidur. Ini pertentangan batin, antara profesionalisme dan sisi emosional. Akhirnya, saya berketapan hati harus bertindak tegas demi menyelamatkan kepentingan yang lebih besar. Lega rasanya.

Sekarang ini kami terus melakukan transformasi bisnis. Kami meletakkan bisnis keluarga ini dengan prinsip responsible ownership, kepemilikan yang bertanggung jawab. Ini jalan tengah antara praktik bisnis keluarga dengan perusahaan yang dikelola secara profesional.

Prinsipnya, pemilik tidak bisa begitu saja menyerahkan 100% pengelolaan perusahaan ini kepada profesional. Kita mengawasi, tapi tidak campur tangan terlalu berlebihan dalam pengelolaannya.

Para profesional dibebani target, sementara pemilik berkonsentrasi merumuskan strategi besar perusahaan ini. Ini bukan persoalan gampang. Perlu effort yang sangat besar untuk melakukannya.



Komentar