: WIB    —   
indikator  I  

Nyali mengambil keputusan

Oleh Elia Massa Manik
Nyali mengambil keputusan

Saya tak pernah mengira akan keluar masuk perusahaan plat merah dan menjadi Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III. PTPN III sekarang menjadi induk usaha atau holding dari 14 perusahaan perkebunan milik negara. Tugas saya tentu tidak ringan, namun bukan sesuatu yang mustahil dilakukan.

Saya diminta untuk membenahi pengelolaan utang di seluruh unit PTPN dan membuatnya kembali untung. Dari hitungan awal saja, setidaknya dibutuhkan dana segar Rp 9 triliun untuk merestrukturisasi dan berinvestasi ulang di seluruh PTPN agar kinerjanya bisa positif.

Saya banyak belajar untuk menyelesaikan satu per satu permasalahan perusahaan. Tahap pertama yang saya lakukan adalah perubahan struktur manajemen perusahaan. Pada awal menjabat, saya memangkas jumlah direktur yang tadinya lima menjadi tiga. Sebab, dengan lima direktur menjadi kurang lincah.

Sebelum para direktur baru tersebut bekerja, saya lebih dulu melakukan mapping masalah yang ada di PTPN III. Sehingga, saat direksi baru dilantik dia sudah memberikan draf bagian mana saja yang harus mereka benahi.

Meskipun banyak mendapatkan tekanan saat melakukan perubahan direksi, saya senang karena data-data perusahaan yang selama ini dinilai kurang transparan menjadi jelas. Otomatis ini membuat saya lebih mudah untuk membuat dan memutuskan suatu kebijakan yang bakal diterapkan.

Untuk menguak permasalahan, saya menggunakan cara turun ke lapangan. Hampir setiap hari, saya mengunjungi satu persatu perkebunan untuk berkomunikasi dengan karyawan yang berada disana. Lainnya, saya juga selalu memberikan contoh untuk terus belajar. Hal ini saya tularkan kepada seluruh karyawan.

Tahap kedua adalah menerapkan speed dalam bekerja, Mengubah kultur VOC, bikin rileks dan tidak merasa intimidasi. Dengan begitu mereka akan mempunyai semangat kerja.

Terakhir, adalah keberanian untuk memutuskan kebijakan. Harus punya nyali untuk memutuskan daripada diam terus. Ini merupakan hal penting bagi seorang pemimpin untuk dapat menentukan akan dibawa kemana perusahaan yang dipimpin.

Saya sendiri menargetkan PTPN III dapat melakukan pengolahan dari hulu sampai hilir. Artinya perusahaan ini tidak hanya menjual kelapa sawit tapi juga bisa memprosesnya menjadi CPO dan produk turunannya lainnya sampai menjadi produk branded, seperti minyak goreng dan lainnya.

Makanya, saya berencana untuk membuat tim riset and development. Setelah saya hitung, butuh modal sekitar Rp 2 triliun untuk men-set up tim tersebut. Saya berencana, tim ini nantinya bakal terintegrasi untuk mendukung bisnis seluruh PTPN.

Sekarang saya baru mendatangkan satu ahli karet untuk membantu membenahi masalah. Karena sampai sekarang perusahaan masih terus mendulang rugi karena tingginya harga karet. Saya juga berencana melakukan efisiensi pabrik gula. Rencananya, kami bakal menutup sejumlah pabrik yang sudah tidak efisien karena, kapasitas produksinya rendah.

Yang jelas, perlahan tapi pasti, PTPN III mulai bangkit. Sampai akhir tahun total operating cash flow mencapai Rp 600 miliar dari tahun 2015 yang hanya Rp 100 miliar. Dan, bulan September, perusahaan sudah mampu mengantongi keuntungan 1,5%. Ini prestasi karena selama empat tahun kinerja perusahaan selalu merah.

 

Sumber: Harian KONTAN edisi 26 November 2016


Close [X]