EXECUTIVE CORNER KOPI PAGI
Executive Corner
Ojo dumeh!

Ojo dumeh!


Ojo dumeh!

Ojo dumeh! Dua kata ini menjadi latar layar telepon seluler saya. Ini istilah Jawa, yang artinya jangan mentang-mentang.

Ojo dumeh adalah ajakan berperilaku rendah hati. Jangan mentang-mentang kaya, kita berlaku sombong. Jangan mentang-mentang sedang memimpin, kita berlaku semena-mena terhadap bawahan.

Lebih dari sekadar penghias layar handphone, ini adalah semacam pengingat bagi saya. Reminder agar dalam posisi dan kondisi apa pun,  saya harus selalu ingat untuk tidak menjadi "orang yang mentang-mentang".

Apalagi kebetulan sekarang sedang menjadi pemimpin. Maklum, godaan untuk mengabaikan sikap rendah hati begitu besar manakala kita memiliki kekuasaan.

Kita perlu ingat bahwa tinggi rendahnya posisi, pangkat, dan jabatan itu hanya label struktural dalam dunia profesional dan pekerjaan. Sementara hakekat manusia adalah setara, sederajat dan sejajar. Jadi, buat apa kita merasa lebih tinggi daripada orang lain?

Nah, dengan sikap rendah hati dan ojo dumeh itu, kita akan merasa bahwa dalam menjalani keseharian bisa tetap peduli dengan sesama. Terlebih ketika menghadapi masa-masa sulit, kerendahan hati ini akan banyak menolong kita melalui kesulitan.

Ada satu pengalaman yang pernah saya saksikan betapa kesombongan seseorang itu menutup banyak peluang. Saat memimpin, dia pongah. Begitu hilang jabatannya, nyaris tiada lagi yang mengingatkan. Nasibnya merana tanpa kawan yang peduli.

Jangan pernah berpikiran bahwa sikap rendah hati akan menghilangkan wibawa. Kerendahan hati bukan lawan ketegasan dan bukan pula perlu dipertentangkan.
Pemimpin yang rendah hati bukan berarti tidak tegas dan lembek. Kalau memang ada yang salah dan perlu ketegasan untuk memperbaikinya, ya, tegas saja.

Justru dalam banyak hal kita lebih mudah membawa gerbong organisasi menuju target yang ingin dicapai. Karena merasa ojo dumeh, kita lebih mudah mendengarkan  apa kata orang, belajar menghargai pendapat orang lain, bisa memahami keinginan, dan legawa menerima kritikan.

Kita mudah memilah antara yang baik dan buruk sebab telinga ini terbiasa mendengar. Keputusan yang diambil pun lebih masak, sementara komunikasi antarsesama juga berjalan lebih lancar.

Tantangan baru lebih mudah kita lalui bila kita bersikap ojo dumeh. Tanpa bermaksud untuk menyombongkan diri, prinsip ini menjadi modal berharga bagi saya untuk memimpin perusahaan yang sebenarnya bukan bidang keahlian saya.  Dan hasilnya, Alhamdulillah, bagus dari ukuran kinerja.

Satu contoh, beberapa waktu selepas dari Bank BNI, tahun 2008 saya ditunjuk Menteri BUMN memimpin Jasindo. Duh, dalam batin saya, ini seperti "bencana". Sebab saya merasa benar-benar buta dengan industri asuransi.

Sekali lagi, prinsip ojo dumeh dan kemauan untuk rendah hati menjadi pegangan utama saya memimpin Jasindo. Saya belajar kepada staf, banyak bertanya dan menimba ilmu kepada mereka.

Alhamdulillah, Jasindo bisa lebih baik. Awal masuk Jasindo, perolehan labanya belum pernah tembus Rp 100 miliar. Setahun kemudian, laba bersihnya mencapai  Rp 117,23 miliar, bahkan  mendekati Rp 200 miliar saat saya pindah ke Bank DKI. Kalau saja saya bersikap mentang-mentang dan sok pintar, mungkin fakta akan berbicara lain.

Nah, sikap positif ini yang kami kembangkan pula di Bank DKI, bidang baru bagi karier saya. 



Komentar