Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Pacu kompetisi anak usaha agar berprestasi

Oleh Dasuki Amsir
Pacu kompetisi anak usaha agar berprestasi

Menjadi pempimpin di holding perusahaan perkebunan, saya sejatinya melanjutkan apa yang disusun pendahulu saya. Tapi ada tambaan penajaman, pemfokusan, dan memperkuat visi. Intinya, kami akan mempertahankan kinerja yang sudah baik dan tidak menjadi menurun.

Hal utama adalah melanjutkan pembenahan kinerja keuangan. Tahun 2015, holding PTPN III mencatatkan kerugian konsolidasi Rp 613 miliar. Saat dilakukan penyajian ulang (restatement) kerugian membengkak Rp 1,082 triliun.

Ada juga masalah utang ke perbankan. Totalnya Rp 33 triliun. Utang ini terjadi dari 2010- 2015.

Untuk menyelesaikan masalah ini, kami menerapkan program corporate turn around. Hasilnya, bank besar mau melakukan restrukturisasi utang. Bahkan mau memberikan pinjaman.

Fokus yang saya tambahkan: pertama, peningkatan efisiensi agar bisa berkontribusi pada laba. Struktur biaya perusahaan harus efisien.
Kedua, produktivitas. Ini kami lakukan bertahap dan sesuai proses.

Bisnis kebun beda dengan bank. Jika bank, target produktivitas bisa dikejar sehari. Dalam bisnis kebun, ada prosesn dan membutuhkan waktu yang panjang.

Contoh di tanaman sawit, karet dan teh. Jenis tanaman ini belum menghasilkan hingga empat tahun sejak ditanam.

Tanaman baru bisa menghasilkan pada tahun kelima atau TM 1. Tapi ini belum menghasilkan karena buahnya belum maksimal. Hasil optimal baru didapatkan pada TM ke- 11-12.

Guna mendorong produktivitas dan efisiensi, kami membuat ranking internal anak usaha. Setiap bulan, kami menyurati mereka mengenai peringkat dari sisi produksi, HPP, hingga kontribusi mereka ke kinerja keuangan holding.

Dengan cara ini, direksi anak usaha akan berpikir dan mencoba melakukan perubahan. Jika lancar, kami akan membuat ranking dengan kompetitor.

Ketiga, pengembangan hilirisasi dan optimalisasi aset. Kami memiliki produk teh celup, kopi, dan gula kemasan tapi belum begitu dikenal masyarakat.

Harusnya, produk ini bisa berkontribusi besar pada kinerja keuangan. Bahannya tidak kalah bersaing dengan produk yang sama.

Hilirisasi juga akan kami lakukan pada kelapa sawit. Kami ingin masuk pasar minyak goreng dengan meluncurkan produk sendiri. Rencananya, pabrik bakal beroperasi mulai tahun 2018.

Agar semua target ini tercapai, perlu perubahan budaya pada karyawan. Kami sedang melakukan internalisasi terhadap penerapan budaya perusahaan yakni jujur, tulus dan ikhlas.

Budaya perusahaan ini harus diikuti juga implementasi pengetahuan, kecepatan dalam melakukan pekerjaan, dan keberanian untuk mengambil keputusan.

Dalam perkebunan, faktor sumber daya manusia (SDM) sangat penting. Merekalah yang merawat tanaman sehingga bisa menghasilkan.

Kami meneruskan pengisian talent pool bagi calon pemimpin di Grup Perkebunan Nasional, mengembalikan marwah Lembaga Pendidikan Perkebunan sebagai corporate university, serta memperkuat riset dan pengembangan.

Pemimpin tidak cukup hanya memberikan arahan. Dengan keteladanan, mereka akan lebih bisa menerima dan menjalankan perintah atasan.

Perlu juga membangun lingkungan kerja yang nyaman bagi karyawan. Lingkungan tersebut harus didukung budaya kompetisi yang produktif. Jadi tidak, akan terbentuk zona nyaman. Tentunya, bekerja juga harus menerapkan integritas dan profesional.