Produsen susu asal Belanda PT Frisian Flag Indonesia terus melakukan ekspansi di Indonesia.…"/>


EXECUTIVE CORNER CEO TALK
Executive Corner
Prospek bisnis susu di Indonesia sangat cerah

Prospek bisnis susu di Indonesia sangat cerah

Prospek bisnis susu di Indonesia sangat cerah

Produsen susu asal Belanda PT Frisian Flag Indonesia terus melakukan ekspansi di Indonesia. Produsen susu tertua ini berniat mengembangkan pasar di Papua. Meski terbilang ekspansif, Frisian Flag tetap berkomitmen tidak mempromosikan susu formula untuk bayi. Presiden Direktur Frisian Flag Cees H.M. Ruygrok mengutarakan strategi bisnisnya kepada jurnalis KONTAN Azis Husaini di kantornya, awal November lalu.
 

Sebagai perusahaan internasional, kami memiliki banyak jaringan di berbagai negara. Kami juga memiliki banyak pengetahuan soal susu. Apalagi, sejak berdiri di Indonesia pada 1922 hingga sekarang, Frisian Flag hanya fokus berbisnis sebagai produsen susu.

Sebagai perusahaan susu tertua di Indonesia, kami telah memiliki pakar susu, pakar pemasaran dan penjualan, juga pakar komunikasi yang baik. Dengan bantuan sumber daya manusia yang kami miliki, kami mampu menjadi perusahaan yang besar.

Kami bukan cuma berkomitmen serius berbisnis di Indonesia. Kami juga berkomitmen soal tenaga kerja, dengan memberdayakan lebih banyak tenaga kerja lokal. Dari 1.900 karyawan perusahaan, karyawan asing hanya lima orang.

Dalam pengambilan keputusan saya selalu profesional, yakni selalu melihat pendapat dari bawah, bukan dari atas. Sebab, tim penjualan di lapangan yang melihat kesempatan bisnis. Dari sana baru masuk kerangka kerja. Selanjutnya, kami menyusun strategi bisnis.

Kami melihat prospek bisnis susu di Indonesia masih sangat cerah. Volume produksi susu sapi nasional tahun ini tumbuh  4%. Efeknya, pertumbuhan penjualan susu sapi nasional dari peternak mencapai 6%. Bila tahun lalu konsumsi susu nasional cuma 10 liter per kapita per tahun, sekarang, angka itu sudah tumbuh 10% menjadi 11 liter per kapita per tahun.

Melihat pertumbuhan konsumsi tersebut, kami pun menyusun sejumlah strategi agar bisnis kami juga berkembang.  

Pertama, meningkatkan kapasitas produksi. Untuk itu, Frisian Flag telah menginvestasikan dana US$ 15 juta. Saat ini, kami memproduksi susu dari dua pabrik yang terdapat di Ciracas dan Pasar Rebo, Jakarta. Kapasitas produksi dari kedua pabrik ini sudah mencapai 2,5 juta liter per hari, tumbuh 15% dari kapasitas produksi tahun lalu.

Dengan penambahan kapasitas produksi pabrik tersebut, kami berharap pendapatan tahun ini bisa mencapai Rp 7 triliun. Jumlah ini tumbuh dari penjualan tahun lalu yang sebesar Rp 6 triliun. Ini akan mempertahankan posisi Frisian Flag di pasar susu domestik dengan pangsa pasar 30%, naik dari tahun lalu di 29%.

Kami juga melakukan ekspansi ke Papua. Kami sudah membuka cabang di sana. Kami menilai, Papua memiliki potensi besar karena pasokan susu Frisian Flag selalu habis di toko.

Daya beli masyarakat di sana juga cukup besar, tetapi mereka banyak mengonsumsi minuman keras. Berarti ada kesia-siaan konsumsi masyarakat yang berpotensi besar untuk dialihkan ke konsumsi susu.

Sebelum ada kantor cabang di sana, penjualan Frisian Flag dilakukan melalui dua distributor. Kini, selain mendirikan kantor cabang, kami juga menambah distributor menjadi enam. Susu Frisian Flag yang tadinya hanya dipasarkan di Jayapura, nantinya juga bisa ditemukan di Nabire, Timika, Sorong, Wamena, dan Manokwari.

Dengan perluasan jalur distribusi ini, Frisian Flag berharap,  penjualan di Papua bisa meningkat menjadi Rp 10 miliar per bulan di sisa tahun ini. Jumlah ini tumbuh empat kali lipat dari penjualan selama ini yang sebesar Rp 2,5 miliar per bulan. Di 2011, kami menargetkan penjualan Papua bisa mencapai Rp 150 miliar.

 

Menjamin pasokan

Kedua, kami juga melihat, tahun depan, produksi susu nasional bisa tumbuh 10%–12%. Agar bisa mengikuti pertumbuhan pasar, Frisian Flag akan menginvestasikan US$ 20 juta. Uang ini akan kami pakai untuk kembali meningkatkan kapasitas pabrik sebesar 10%.

Kami juga berusaha menjamin pasokan susu untuk bahan baku produksi. Saat ini, 75% dari bahan baku pabrik masih merupakan susu impor. Sementara itu, 25% sisanya berasal dari 12 koperasi peternak susu sapi yang tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Demi menjaga pasokan susu sapi di dalam negeri, perusahaan kerap mengadakan pelatihan bagi para peternak sapi. Misalnya, pelatihan mengenai cara meningkatkan produktivitas susu sapi serta cara menjaga agar mutu sapi terjamin.

Yang sering terjadi pada peternak sapi lokal adalah: mereka tidak sadar bahwa kebiasaan memandikan sapi sebelum memerah itu berpotensi memasukkan kuman dari kulit ke puting sapi. Selain itu, ketika sapi sakit, peternak kerap menyuntikkan antibiotik ke sapi.

Padahal susu sapi yang mengandung antibiotik otomatis tidak akan lolos kualifikasi pabrik. Peternak harus menunggu seminggu agar pengaruh antibiotik dari susu yang diperah hilang. Pengetahuan peternak sapi lokal soal hal-hal ini minim sekali.

Kami juga menyalurkan bantuan senilai Rp 4,49 miliar kepada peternak sapi perah yang tergabung dalam Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KBPS). Target kami adalah 6.500 peternak di Bandung Selatan. Bantuan tersebut telah disalurkan dalam bentuk pembangunan laboratorium analisis susu, percontohan kandang higienis, serta pelatihan dari pakar susu asal Belanda.

Upaya ini selalu kami lakukan guna mendapat susu yang berkualitas. Hasilnya, jika sebelum ini satu sapi menghasilkan sekitar 15 liter susu sekali perah, dengan pelatihan yang sudah diberikan, peternak bisa mendapat 30 liter susu sekali perah.

Ketiga, kami selalu berkomitmen untuk tidak mempromosikan susu formula seperti keputusan Menteri Kesehatan dan World Health Organization (WHO). Jika ada karyawan kami yang terbukti ketahuan mempromosikan susu formula, hukumannya adalah pemecatan.

Kami menegaskan, kami tidak pernah melanggar aturan tersebut. Sebab kami meyakini, air susu ibu (ASI) tidak pernah bisa tergantikan oleh susu formula. Tapi, sebagian kaum ibu memang mengalami kesulitan menyusui, sehingga tambahan nutrisi sangat diperlukan bagi bayi. Tapi, tentu hal itu berdasarkan rujukan tenaga medis.

Kami memiliki komitmen dalam memenuhi perundangan dan ketentuan WHO terkait kegiatan pemasaran makanan pengganti ASI. Kepatuhan kami terhadap peraturan tadi dimonitor secara teratur. Tentu saja, keberadaan aturan tersebut tidak akan mengganggu bisnis kami. Sebab, kami membuat susu formula hanya bagi para ibu yang tidak bisa memberikan ASI karena alasan darurat.

Keempat, kami juga terus memberikan bantuan bagi masyarakat di lingkungan pabrik. Misalnya, kami bekerja sama dengan sekolah-sekolah dan memberi informasi soal nutrisi, memberi kesempatan bagi anak-anak sekolah untuk melakukan kunjungan ke pabrik, juga kesempatan bagi mahasiswa untuk melakukan praktek kerja di perusahaan kami.

Selain itu, kami pun memberdayakan masyarakat sekitar. Misalnya, kami memberikan bantuan dana Rp 30 juta kepada warga Kelurahan Gedong, Jakarta Timur, awal tahun lalu.

Kami membantu warga membudidayakan jamur.  Hasilnya, saat ini sudah ada satu RW dengan 50–100 rumah yang sukses berbisnis jamur. Dari keuntungan tersebut, sekarang mereka sudah menularkan bisnis jamur tersebut kepada beberapa RW lain yang ada di wilayah Kelurahan Gedong.    



Komentar