: WIB    —   
indikator  I  

Saling asah asih asuh

Oleh Suprayitno
Saling asah asih asuh

Dalam falsafah Jawa, ada petuah saling asah asih asuh. Ini pula yang kami terapkan dalam mengelola Bank Pembangunan Daerah (BPD) Jawa Tengah.

Di sini, kami saling asah. Artinya: kami berusaha mengasah kemampuan bersama untuk membangun BPD Jateng ini. Adapun, saling asih artinya mengasihi. Kami menjaga kebersamaan, saling mengingatkan.

Sedangkan saling asuh adalah kami semua berupaya untuk menempatkan diri agar merasa sebagai bagian dari keluarga besar yang saling mengasihi.

Jabatan direktur utama, bagi saya, hanya sebuah jabatan saja. Inti dari jabatan tersebut, menurut saya, agar bisa menggerakkan birokrasi sebuah organisasi.

Karena saya di bank daerah, jabatan saya ini untuk menggerakan roda organisasi agar bank ini bisa berjalan baik.

Dalam bekerja, saya selalu mengingat bahwa semua rekan kerja adalah teman. Hal ini penting karena akan menumbuhkan budaya kerja yang nyaman bagi semuanya. Bagi saya, lebih asyik bekerja dengan teman, tak ada batasan saya atasan.

Ketika bekerja, memang harus ada fleksibilitas jarak. Dengan ini diharapkan karyawan bekerja bukan dari paksaan dan takut tapi lebih karena kesadaran diri.

Kunci utama dalam pengembangan perusahaan adalah saling hormat antara satu karyawan dengan yang lain. Jadi ketika karyawan berhasil dalam pencapaian tertentu hal ini harus menjadi pengakuan tertentu.

Karena orang memiliki kapasitas masing-masing maka kami juga tidak menyamakan kinerja semua karyawan. Ada pembagian tertentu dalam perusahaan untuk menilai kinerja.

Selain itu, dalam memimpin, saya juga menerapkan prinsip harmoni. Seperti alat musik, yang memiliki tempo, ritme dan melodi, begitupula kepemimpinan.

Melodi adalah gaya kepemimpinan saya, kadang bisa keras, menghentak. Tapi ter kadang juga harus lunak. Kadang saya juga bisa lambat tapi saya juga bisa bekerja secara cepat, tergantung permintaan dan kondisi bisnis yang ada.

Ini yang saya sebut prinsip harmoni, terkadang perlu tempo cepat, lambat dengan ritme dan melodi yang pas.

Saya menyadari, di tiap karyawan, ada namanya daya berlebih. Ketika dalam bahaya, semisal, orang kan memiliki tenaga yang lebih besar dibanding keadaan normal.

Ini juga kami implementasikan dalam perusahaan. Adanya energi lebih ini bisa melahirkan energi baru dalam perusahaan. Ini terbukti, dalam empay tahun kepemimpinan saya bersama teman-teman lain.

Aset BPD Bank Jateng ketika saya masuk Rp 30 triliun. Saat ini, sudah sudah naik dua kali lipat yaitu Rp 60 triliun. Padahal awalnya untuk mencapai Rp 30 triliun, sebelum saya masuk membutuhkan waktu 52 tahun.

Untuk terus kinerja kedepan, diperlukan pengelolaan SDM. Saya memberi pilihan ke karyawan menjadi yang biasa saja atau jadi yang terbaik. Tentu karyawan banyak yang ingin agar bisa bekerja dengan usaha maksimal.

Selain rekrutmen dari dalam, kami juga melakukkan memasukkan tenaga bankir dari luar yang berpengalaman. Hal ini agar menjadi penyegaran dalam perusahaan.

Ke depannya industri perbankan, termasuk BPD memang harus terus menyesuaikan dan terbuka dengan perubahan dan teknologi. Kalau tidak bisa menyesuaikan bank akan tergilas dengan perubahan itu sendiri. Dan, kami siap melakukannya.


Close [X]