EXECUTIVE CORNER CEO TALK
Executive Corner
Saya ingin membangun Cipaganti jadi Astra mini

Saya ingin membangun Cipaganti jadi Astra mini

Saya ingin membangun Cipaganti jadi Astra mini

Berawal dari usaha jasa penyewaan mobil, Cipaganti menjelma menjadi sebuah kelompok usaha yang membawahi beberapa lini usaha. Salah satu bidang yang tengah getol mereka garap adalah tambang batubara. Untuk mengungkap rencana-rencana dan strategi bisnis Cipaganti Group, wartawan KONTAN Dessy Rosalina Pasaribu mewawancarai pemilik dan sekaligus Presiden Direktur Cipaganti Group Andianto Setiabudi, Rabu lalu (2/3).

Tahun ini bakal menjadi lompatan besar bagi Cipaganti Group. Bisa dibilang, lewat serangkaian ekspansi, kami mempunyai rencana bisnis (business plan) yang besar. Kondisi makro-ekonomi yang relatif cerah tahun ini saya jadikan momentum untuk melakukan ekspansi bisnis. Tahun ini, saya memasang target (pertumbuhan) double digit ke semua lini bisnis Cipaganti.

Saat ini, kami punya lima divisi usaha, yaitu Cipaganti Otojasa, Cipaganti Property, Cipaganti Heavy Equipment, Cipaganti Resources, dan BPR Cipaganti Syariah.

Untuk mendukung langkah ekspansi ini, Cipaganti sedang mempersiapkan diri menjadi perusahaan terbuka lewat penawaran saham perdana. Paling lambat Juli mendatang kami bakal melantai di bursa. Lewat hajatan initial public offering (IPO) ini,  kami targetkan bisa meraup dana sekitar Rp 500 miliar–Rp 1 triliun.

Meski membangun Cipaganti dari nol, saya tidak berat hati melepas saham ke publik. Karena, saya ingin mimpi Cipaganti sebagai korporasi nasional terwujud.

Salah satu langkah kita adalah merambah sektor pertambangan batubara. Prospek bisnis batubara sangat menjanjikan. Apalagi, harga komoditas sedang naik.

Melalui PT Cipaganti Inti Resources, sejak akhir 2010 lalu, kuasa pertambangan (KP) Cipaganti di Penajam, Kalimantan Timur, mulai berproduksi. Hingga akhir tahun nanti, kami menargetkan bisa memproduksi sekitar satu juta ton batubara. Itu baru satu KP. Nantinya, pada 2012, kami yakin bisa memproduksi sekitar dua juta ton batubara dan setiap tahun terus bertambah.

Ke depan, divisi pertambangan akan menjadi lini bisnis yang mempunyai kontribusi besar bagi Cipaganti. Perhitungan saya, dengan kisaran harga jual batubara sebesar US$ 70 per ton, pendapatan kami dari sektor ini saja bisa mencapai
Rp 630 miliar pada 2011. Bandingkan dengan total pendapatan Cipaganti Group sepanjang 2010 yang cuma Rp 700 miliar.

Saat ini, kami memiliki enam KP yang tersebar di Kalimantan. Semua lahan ini mengandung cadangan batubara sebesar 220 juta ton dengan total lahan sekitar 35.000 hektare. Dari keenam KP ini, kami memiliki empat KP. Sisanya merupakan joint operation.


Tak lupa yang lain

Saya berani masuk bisnis pertambangan berbekal pengalaman yang panjang bersama para pelaku bisnis ini. Niat saya mulai mencuat tatkala Cipaganti Heavy Equipment mulai merambah pasar Kalimantan.

Interaksi dengan sejumlah pengusaha pertambangan sedikit banyak memberi saya pelajaran tentang seluk-beluk bisnis pertambangan. Akhirnya, pada 2008, kami masuk ke bisnis batubara diawali dengan akuisisi konsesi lahan.

Kami tidak main-main masuk ke bisnis ini. Karena, bisnis ini perlu modal besar dan berisiko tinggi. Karena itu, saya putuskan untuk bersinergi  dan belajar dengan PT United Tractors Tbk. Saya memilih United Tractors karena kami telah menjadi mitra sejak tahun 1995. United Tractors kerap memasok alat berat kepada kami.

Bentuk kerjasamanya adalah pelatihan dan transfer of knowledge untuk memastikan laju bisnis pertambangan Cipaganti berjalan lancar.

Kini, Cipaganti Heavy Equipment memiliki 500 armada alat berat. Ini menjadi modal utama kami lantaran dalam bisnis tambang, sekitar 60% modal dialokasikan ke alat berat.

Untuk itu, kami bakal terus menambah armada alat berat. Hingga akhir tahun ini, kami menargetkan bakal memiliki armada hingga 1.000 unit. Selain membantu bisnis pertambangan, tambahan armada ini juga bisa memperbesar kapasitas bisnis sewa alat berat.

Dalam berbisnis, saya mempunyai prinsip tidak mau bersandar pada satu jenis usaha saja. Itu berbahaya. Ini berdasarkan pengalaman saya berbisnis selama puluhan tahun.

Karena itu, saya tidak melupakan lini bisnis yang lain. Khususnya bisnis transportasi yang identik dengan nama besar Cipaganti. Lewat divisi Cipaganti Otojasa, saya menargetkan bakal menambah sekitar 2.000 unit armada. Selain itu, cabang Cipaganti akan saya tambah sebanyak 30 cabang sehingga secara total ada 100 cabang di akhir tahun ini.

Tidak cuma itu, Cipaganti sudah membuka pangsa pasar baru dengan merambah Bali. Alasannya karena Bali merupakan pusat pariwisata Indonesia. Sebelumnya, kami cuma fokus di pasar Jawa saja.

Supaya bisnis transportasi Cipaganti tetap berjalan, kami menerapkan konsep bisnis transportasi terpadu di Cipaganti Otojasa. Jadi, jenis usaha transportasi yang kami sediakan terbilang lengkap. Ada rental mobil, travel,  taksi, hingga kargo.

Yang terbaru, kami segera masuk pasar Malaysia. Saat ini kita dalam proses mengurus perizinan dari pemerintah setempat. Mudah-mudahan, tahun ini sudah beroperasi. Ini artinya kami sudah merambah pasar regional.

Layanan transportasi terbaru kami adalah taksi. Kami sudah menjalani bisnis ini sejak Juli lalu. Supaya bisa bersaing, kami menyediakan fasilitas internet dan Wi-Fi gratis di dalam taksi Cipaganti. Saat ini, kami memilik 400 armada dan bakal menjadi 700 armada di penghujung tahun ini. Oh, iya, akhir Maret nanti, kami akan meluncurkan Max Cipaganti di Surabaya dengan armada 200 unit.

Divisi lain yang tidak luput dari perhatian adalah properti dan pembiayaan. Cipaganti Property muncul pada 1994. Selama ini, Cipaganti Property masih berperan sebagai kontraktor dan bukan pemilik lahan perumahan. Kami baru menggarap   dua perumahan di kawasan Bandung. Ekspansi bisnis properti memang tidak secepat lini bisnis yang lain. Alasannya karena saya lihat perputaran uang di properti lambat.

Tapi, bukan berarti lini bisnis ini mati. Justru, saat ini Cipaganti Property sedang memperbesar landbank. Saya yakin bisnis properti bisa menghasilkan untung tinggi bila menguasai lahan dalam skala besar.

Lini bisnis terakhir dan sekaligus terbaru adalah bisnis pembiayaan. Cipaganti masuk ke pasar melalui BPR Cipaganti Syariah pada pertengahan 2009 setelah kita mengakuisisi BPR Dana Tijarah. Kami bakal memindahkan kantor pusat BPR Cipaganti dari Cimahi ke Bandung supaya lebih optimal.

Saya tertarik masuk bisnis pembiayaan karena Cipaganti bisa besar berkat bermitra dengan bank syariah yang memakai sistem bagi hasil. Apalagi,  konsumen Cipaganti di lini usaha lain terbilang besar. Mereka lah yang jadi target pasar kami.

Kami bakal serius di bisnis pembiayaan ini. Sampai 2015 nanti, BPR Cipaganti bakal  memiliki 29 kantor cabang yang menyasar konsumen berpenghasilan tetap semacam karyawan dan pensiunan.

Apa yang sudah saya lakukan di Cipaganti Group ini adalah jawaban akan mimpi besar saya. Saya ingin membangun Cipaganti menjadi perusahaan berskala nasional. Saya yakin Cipaganti bisa melangkah ke arah sana karena saya tahu kondisi Cipaganti sebenarnya.

Saya percaya Cipaganti Group bisa jadi seperti PT Astra International Tbk atau, setidaknya, menjadi Astra mini yang bergerak di banyak bidang.



Komentar