: WIB    —   
indikator  I  

Saya ingin menghilangkan budaya sungkan

Oleh Josephus K. Triprakoso
Saya ingin menghilangkan budaya sungkan

Bagi saya pribadi, bisnis Bank Mandiri Taspen Pos (Mantap) sangat menantang. Bank ini merupakan sebuah transformasi, dari Bank Sinar Harapan Bali yang semula berkonsentrasi menyalurkan kredit usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) jadi bank dengan fokus menggarap pasar para pensiunan. Kami ditugaskan membangun bank ini dari nol.

Kami percaya, keberhasilan dalam menjalankan korporasi atau bisnis ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia (SDM). Bagi kami, pegawai merupakan aset utama.

Kami melakukan rekrutmen pegawai profesional berkualitas dan pembenahan SDM secara berkelanjutan. Kami melakukan pelatihan secara berjenjang dan berkelanjutan.

Pelatihan ini bagian peningkatan kompetensi yang sesuai bidang masing-masing SDM. Kami juga sudah membentuk officer development program (ODP) untuk mencetak pemimpin-pemimpin Bank Mantap di masa depan.

Prinsip saya adalah ketika mendapatkan tanggungjawab harus menyenangi tugas yang diberikan. Selain itu, juga dapat memberikan nilai tambah berbeda dan meninggalkan warisan yang baik.

Nah, dalam memberikan nilai tambah yang berbeda tersebut, tidak bisa dilakukan seorang diri, harus bersama-sama pegawai.

Prinsipnya, yang bekerja yang berkeringat. Artinya semua dari atas hingga bawah harus berkeringat untuk kemajuan perusahaan.

Karena itulah, sebagai pemimpin saya selalu menerapkan sistem komunikasi yang terbuka. Saya ingin menghilangkan budaya sungkan. Semua pegawai bisa berkomunikasi langsung dengan atasan mereka, asalkan sesuai koridor dan tata tertib.

Dengan sistem terbuka, akan cepat mendapatkan informasi. Semua pegawai bebas berkomunikasi bahkan keluhan agar solusi segera bisa didapatkan.

Untuk menjalin komunikasi terbuka tersebut, jajaran direksi Bank Mantap wajib keliling ke cabang-cabang untuk mendengarkan pegawai dan bahkan juga nasabah.

Saya selalu yakin, kunci keberhasilan kerja terbentuk karena tim yang solid, komunikasi lancar antara atasan dengan bawahan.

Kami juga memberikan kebebasan bagi pegawai untuk bertindak sesuai dengan kewenangan mereka. Jika tidak sesuai dengan kewenangan, harus melaporkan ke atasan masing-masing. Hal ini untuk menciptakan alur kerja yang jelas.

Dalam pengambilan keputusan sesuai dengan kewenangan ini, kami juga telah membuat sistem komunikasi yang sederhana.

Mereka bisa melakukan melalui aplikasi percakapan. Kami juga sudah membangun sistem mobile internal yang mempercepat komunikasi dan pengambilan keputusan, sehingga proses bisa cepat.

Waktu memulai bisnis ini, memang tidak mudah. Kami menemukan beberapa kegagalan, tetapi terus melakukan perubahan-perubahan agar bisa menjadi lebih baik. Perubahan pola pikir pegawai juga tidak mudah dari segmen UMKM menjadi pensiunan.

Berdasarkan kendala di awal, kami menemukan sesuatu yang menjadi kekuatan bisnis pensiunan. Bisnis ini hampir tidak memiliki risiko kredit.

Pembayaran gaji para pensiunan ini jelas setiap bulan. Risiko hanyalah risiko operasional, karena ada persyaratan administrasi yang lupa dilengkapi, asuransi yang lupa ditutup ketika meninggal dan dokumen yang diajukan tidak layak.

Intinya, bisnis pensiunan ini cukup menjanjikan untuk kami kembangkan.


Close [X]