EXECUTIVE CORNER CEO TALK
Executive Corner
Saya minta para manajer menganggap saya anak TK

Saya minta para manajer menganggap saya anak TK

Saya minta para manajer menganggap saya anak TK

Lewat kepemilikan di PT Marga Mandala Sakti, PT Astra International Tbk masuk bisnis jalan tol dengan mengoperasikan ruas Tangerang–Merak sepanjang 72,45 km. Sebagai pemain baru, Astra menyerahkan tampuk pimpinan MMS ke Wiwiek Dianawati Santoso, pegawai karier Astra. Mengaku masih terus belajar bisnis jalan tol, Wiwiek mengungkapkan strateginya mengembangkan MMS kepada jurnalis KONTAN Azis Husaini, di kantornya, Senin, 29 November lalu.

Posisi saya sebagai presiden direktur di Marga Mandala Sakti (MMS) seolah memang bukan dari Astra International, tapi dari kalangan profesional. Sebab, saat itu, Astra belum menjadi pemegang saham mayoritas di MMS. Namun, karena seluruh pemegang saham setuju, saya bersedia menjadi pimpinan di MMS.

Ini juga karena saran dari almarhum Michael D. Ruslim (CEO Astra waktu itu) untuk berani menerima tantangan baru. Saya tertantang masuk bisnis jalan tol, meski saya awam di industri ini. Bahkan mungkin bukan buat saya saja, tapi juga bagi Astra. Maklum, MMS juga merupakan anak bungsu Astra sekarang ini. Jadi, belum ada ahli yang bisa mengajarkan bisnis ini kepada saya.

Saat masuk ke MMS, saya bilang kepada semua manajer untuk menganggap saya sebagai anak TK. Saya minta mereka mengajarkan apa saja tentang bisnis jalan tol karena saya memang tak tahu apa-apa, mulai dari aturannya, rimba industrinya, sampai soal teknis.

Satu hal yang saya tahu, kondisi jalan tol Tangerang–Merak saat itu rusak berat, sekitar 85% beton pengeras pecah dan harus diperbaiki segera, jika kami tidak mau rusaknya menjalar. Setelah tahu itu, saya langsung mengecek kondisi keuangan MMS. Saat itu kondisinya sehat, tetapi secara operasional jalan tol itu sepanjang 72,5 kilometer itu memang boros.

Saya juga belajar soal beton. Bagaimana cara memperbaikinya. Memang ada direktur operasional, tapi saya mesti juga tahu seluk-beluk bisnis ini karena saya yang akan memutuskan semuanya, berkaitan dengan perusahaan ini. Saya pun belajar teknis jalan tol, dibantu oleh tim pemeliharaan jalan.

Perusahaan ini sebenarnya mempunyai pekerjaan rumah yang banyak. Undang-Undang Nomor 38 tentang Jalan Tol, berikut peraturan presiden menyebutkan bahwa Jasa Marga tidak lagi menjadi regulator, tapi hanya operator. Regulator industri ini adalah Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT). Persoalannya, seluruh perjanjian kami masih dengan Jasa Marga. Jadi, kami harus merombak ulang semua perjanjian tersebut.

Sesuai dengan perjanjian baru yang kami tandatangani April 2009, kami punya batas waktu memperbaiki jalan tol maksimal sampai tahun 2014. Sejak saat itu, kami meyakinkan pemegang saham agar memberikan kami suntikan modal untuk memperbaiki jalan tol itu. Mereka setuju dengan memberikan dana Rp 765 miliar guna memperbaiki jalan yang rusak tersebut. Perbaikan kami targetkan bisa selesai tahun 2012 dan bisa menjadi jalan tol yang sesuai dengan standar.

Dengan modal perjanjian itu juga, kami juga mendapatkan konsesi lahan sampai tahun 2048. Kebetulan, Astra secara bertahap menjadi pemegang saham mayoritas MMS dengan penguasaan sampai 79%.


Trafik akan naik

Setelah kami teliti, kerusakan jalan tol terjadi karena pengerasan yang tidak memakai beton hamparan, tapi berupa potongan beton berukuran
3,6 meter x 4 meter. Sejak beroperasi, jalan tol ini tak pernah dirawat. Padahal, beton gampang sekali retak jika kerap dilewati kendaraan, apalagi kendaraan yang kelebihan muatan.

Seharusnya, setiap tahun, retakan itu ditutup oleh semen. Kondisi ini mengharuskan kami membongkar beberapa beton yang rusak. Yang parah kami suntik dengan semen dan memasang beton bertulang agar tak cepat rusak. Untuk meminimalisasi kerusakan lagi, untuk kendaraan yang melebihi angkut kami beri kartu supaya keluar di gerbang terdekat. Jika mereka tidak mau keluar, kami kenakan denda termahal.

Tahun depan, saya mencanangkan beberapa strategi agar bisnis jalan tol Astra membaik. Pertama dengan meningkatkan trafik kendaraan. Lalu lalang kendaraan sekarang sudah naik menjadi 82.000 kendaraan per hari, dari sebelumnya hanya 70.000 kendaraan. Salah satu cara menaikan trafik adalah  bekerjasama dengan Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dan Dinas Pariwisata Banten untuk mempromosikan daerah wisata di Serang dan daerah sekitarnya.

Semester I 2009, akibat krisis, banyak pabrik di Banten tutup. Mau tidak mau, ini mempengaruhi bisnis kami. Namun, semester II 2009, trafik kembali normal dan semakin membaik. Makanya, kami berani menargetkan pendapatan Rp 400 miliar tahun ini, naik dari tahun lalu yang hanya Rp 300 miliar.

Apalagi, kami juga berhasil meningkatkan pelayanan. Jika BPJT mengharuskan layanan maksimal 11 detik, kami lebih cepat, hanya 7 detik. Kami juga berhasil menekan angka kecelakaan dengan menambah rambu-rambu peringatan, mobil patroli menjadi tujuh unit, mengaktifkan 4 rest area, dan menanam beragam tanaman bunga di tengah dua lajur jalan tol agar para pengguna jalan merasa nyaman.

Kedua, untuk membangkitkan semangat karyawan, saya mengganti logo perusahaan dan seragam. Saya ingin momentum pergantian ini ini dirasakan semua jajaran, bukan cuma di tol manajemen.

Beruntung, saya memiliki tim muda yang energik sehingga menambah semangat untuk membangun MMS yang sekian tahun merugi. Saya bilang kepada karyawan yang mencapai 450 orang, “Kalau mau berubah, mari berubah bersama!” Saya juga berkomitmen jika mendapatkan keuntungan lebih, kami akan berikan lebih sehingga karyawan juga bisa menikmati kesejahteraan.

Ketiga, saya juga mengubah organisasi perusahaan ini. Kalau dulu senang berlama-lama di birokrasi internal, sekarang tidak lagi ada kata lama. Semua terukur. Sistem penggolongan karyawan juga kami betulkan, sumber daya manusia kami training langsung di Astra.

Kami juga merotasi beberapa orang supaya lebih kuat. Saya tak segan memberikan mereka pengalaman. Misalnya, mengirim seluruh manajer ke Malaysia untuk melihat teknologi dan sistem jalan tol mereka. Malaysia, yang dulu belajar dengan kita, sekarang lebih maju. Dengan membawa ke Malaysia, mereka menjadi tahu bahwa sebenarnya kita belum apa-apa. Makanya harus lebih baik.

Dari hasil studi banding ke Malaysia, kami membuat pintu gardu miring guna menghemat lahan serta memisahkan kendaraan barang dengan penumpang. Ada lima gardu miring yang sudah kami operasikan. Kami juga mendesain ulang gerbang di Cikupa yang memiliki 21 gardu agar orang nyaman dan aman jalan di tol kami.

Saya juga mengirim dua kepala divisi untuk belajar teknologi jalan tol di Jepang selama sebulan. Mereka harus mengetahui teknologi terbaru di sana, bagaimana mengatasi ketersedian lahan. Kami juga sedang mempelajari industri tol di Brasil. Konon, ini yang terbaik.

Keempat, karena kami prediksi tahun depan trafik jalan tol akan naik, kami akan membangun satu lajur lagi dengan estimasi dana Rp 2,7 triliun.

Industri jalan tol memang ditopang oleh berbagai faktor, terutama ekonomi makro. Saat terjadi kenaikan harga BBM tahun 2005–2006, praktis orang malas bepergian. Begitu juga saat krisis 2008 sampai pertengahan 2009, praktis trafik menurun. Jadi kondisi ekonomi sangat menentukan bisnis kami.

Saat membangun jalan tol, ada harapan daerah sekitar akan tumbuh industri. Kenyataannya lain. Pabrik yang berdiri relatif tak masif, bukan seperti di sekitar Cikampek. Hal-hal seperti inilah yang membuat investor merugi karena trafik minim. Ini adalah tanggungjawab investor, seperti kami.    



Komentar