: WIB    —   
indikator  I  

Seperti tersenyum di kegelapan

Oleh Faik Fahmi
Seperti tersenyum di kegelapan

Memimpin perusahaan pelat merah bukan hal mudah. Mental sebagai priyayi pada sebagian pegawai acap menjadi ganjalan terberat.

Faik Fahmi, President Director PT ASDP Indonesia Ferry, mengisahkan pengalaman mengikis kendala itu kepada jurnalis KONTAN Agung Jatmiko.

Saya berlabuh di ASDP Indonesia Ferry pada September 2016 dan ditunjuk menjadi pimpinan per 21 Desember 2016. Jadi, baru tiga bulan saya menjadi nakhoda perusahaan jasa angkutan penyeberangan dan pengelola pelabuhan penyeberangan ini.

Sebelum masuk ASDP, saya berkarya di PT Angkasa Pura sebagai pengelola bandar udara. Dibandingkan perusahaan tempat saya berkarya dulu, tentu ASDP berbeda. Berbeda baik dari segi bidang maupun organisasi.

Bagi saya pribadi, dipercaya memimpin ASDP merupakan sesuatu yang menantang. Dua puluh tahun berkutat di industri penerbangan, kini saya masuk dunia baru.

Dari segi kompetensi sumber daya manusia, misalnya, Garuda jauh lebih siap. Di ASDP dulu, pengelolaannya masih sangat konvensional. Mental pegawai masih setengah pegawai negeri. Saya tak bicara kemampuan teknis lo. Yang saya maksud, sense of business internal ASDP masih kurang.

Karena itu saya mendorong internal ASDP mengubah paradigma, mulai mindset, perilaku dan keterampilan, serta pengetahuan. Saya menanamkan pemahaman baru bahwa seharusnya ASDP bisa menjadi perusahaan yang lebih besar, asal dikelola lebih profesional dan sanggup mengantisipasi peluang di masa mendatang.

Di ASDP saya mendorong karyawan bekerja secara tim, mengutamakan teamwork. Saya sendiri hanya memberikan contoh serta sedikit panduan mengenai apa yang mesti dilakukan. Operasional saya tidak bisa terlalu mendetail.

Saya juga belajar di dunia yang baru ini. Segenap jajaran ASDP, mulai direksi hingga pegawai di level bawah sekali pun, kini tengah berubah demi mewujudkan ASDP sebagai perusahaan yang lebih besar dan lebih baik di masa mendatang.

Contoh sederhana, demi memotivasi karyawan saya sering terjun ke lapangan, ke operasional di cabang-cabang. Kadang-kadang orang di cabang saja jarang turun ke lapangan.

Saya bilang seeing is believing. Jangan hanya menunggu laporan anak buah, harus proaktif. Dengan melihat langsung, kita bisa mengetahui apa problem di lapangan. Dari situ solusi yang dicetuskan bisa lebih efektif.

Saya juga menginisiasi program ASDP Bersih untuk menjaga supaya integritas karyawan tak rusak. ASDP ini, kan, melayani 242 kota dari Sabang sampai Merauke, dengan 35 pelabuhan. Sementara pola bisnisnya masih konvensional. Maka, potensi adanya kebocoran pendapatan cukup besar.

Program ini saya buat untuk mengarahkan karyawan menjaga integritas, menghindari kegiatan yang merugikan perusahaan, dan pengguna jasa atau konsumen. Implementasi program ini cukup keras.

Selain itu, program ASDP Bersih ini saya canangkan agar karyawan ASDP bisa menjaga alat produksi, baik yang ada di pusat maupun cabang. Kemarin saya minta seluruh cabang kerja bakti bersih-bersih kapal bersama, serentak.

Ini upaya menumbuhkan semangat baru bahwa kita harus bisa berbenah, memperbaiki diri. Tak hanya membersihkan alat produksi, tetapi juga membersihkan diri dari niat tak baik.


Close [X]