Setelah konsolidasi, kami siap masuk era globalisasi
Oleh Budi Tirtawisata - Jumat, 31 Agustus 2012 | 10:38 WIB
Bermula dari sebuah garasi dengan karyawan hanya lima orang 40 tahun lalu, kini Panorama Group bertekad menjadi perusahaan tingkat dunia. Bagaimana kisah kelompok usaha ini merencanakan strategi jitu untuk mewujudkan mimpinya itu dalam jangka panjang? Berikut penuturan Chief Executive Officer (CEO) Panorama Group, Budi Tirtawisata, kepada wartawan KONTAN Andri Indradie, Kamis (16/8), dua pekan lalu.
Tahun ini, Panorama Group sudah berusia 40 tahun. Selama itu, Panorama sudah mengalami masa-masa sulit dan kondisi naik-turun. Namun, itu bagian dari proses. Dalam perjalanannya hingga saat ini, tentu, kami punya cita-cita dan harapan. Namun, harapan yang bagaimana? Setelah 40 tahun, lantas mau ke mana?
Untuk itulah, menjelang akhir tahun 2011 lalu, dalam rangka mempersiapkan “perjalanan” 40 tahun ini, saya bersama 30 direktur membahas ulang visi dan misi Panorama Group. Bukan cuma saya yang menentukan.
Saya menjadi peserta juga pada waktu itu selama beberapa hari. Kami menetapkan visi, misi, nilai-nilai perusahaan, dan roh yang menjadi pijakan semangat pelayanan kami, para Panoramanian, istilah untuk mereka yang bergabung dalam keluarga Panorama Group.
Hasil itu kemudian menjadi pedoman kami. Lantas, kami terapkan ke seluruh anak perusahaan. Tapi, tentu, ini istilahnya konsepnya dulu, undang-undang dasarnya.
Setelah itu, kami baru menerapkannya ke dalam business plan dan road map. Masing-masing pilar kami minta road map-nya seperti apa. Bahkan, kami sudah membuat road map sampai 2030.
Dahulu, kami cuma bertumpu pada dua pilar bisnis, yaitu inbound dan transportation. Saya pernah mengalami menjemput tamu sendiri di bandara, jual tiket, dan sebagainya.
Waktu pertama berdiri, karyawan cuma 4 orang sampai 5 orang. Sekarang, jumlahnya sudah 3.700 karyawan dengan 20 lebih anak perusahaan. Ada anak perusahaan langsung, ada juga yang pembentukannya bersama dengan pihak lain.
Saat ini, kami sudah memiliki lima pilar binis: inbound, transportation, travel & leisure, meeting and exhibition, dan hospitality. Dengan lima pilar itu, boleh dikatakan, kami merupakan satu-satunya perusahaan di Indonesia dengan lima bisnis terintegrasi.
Bisa saya sebutkan kompetitor Panorama, tetapi mereka itu pesaing kami di salah satu pilar bisnis tertentu. Kompetitor yang punya lima pilar bisnis dalam satu konsolidasi, saya kira, tidak ada.
Sekarang kami sudah konsolidasi, fine tuning, menjadi perusahaan publik dan siap masuk ke era globalisasi. Panorama menjadi milik dunia. Membuat dunia menjadi milik Panorama merupakan salah satu visi baru kami. Mungkin terdengar heroik atau arogan, tapi bukan itu maksudnya.
Di Indonesia, berapa banyak perusahaan asing yang masuk dan berapa banyak perusahaan Indonesia yang ke luar negeri? Dulu, kami pernah ditantang Pak Joop Ave, kenapa Panorama cuma berani jadi jago kandang? Saya pikir, benar juga beliau. Saya kira sudah waktunya perusahaan nasional juga berani membawa nama Indonesia ke tingkat global.
Jadi, jelas bahwa kami siap menjadi salah satu perusahaan yang dikenal dunia. Kami ingin menjadi pemimpin pasar, dengan cara menerapkan nilai-nilai perusahaan yang baru, yaitu SPIRIT.
Pertama, Sinergy. Bagaimana Panorama melengkapi dan bisa memanfaatkan kekuatan yang dimiliki perusahaan guna mencapai efek pengganda (multiplier effect) yang lebih baik.
Kedua, Pursuit of Excellence. Maksudnya, Panoramanian selalu melakukan yang terbaik. To be the best in everything we do.
Ketiga, Integrity, yakni menjunjung integritas dalam setiap business dealing dan konsisten menjunjung etika bisnis.
Keempat, Reliability atau memenuhi pesanan sesuai janji secara konsisten.
Kelima, convenIence yakni membuat hal-hal jadi mudah untuk pelanggan.
Keenam, comforT, membuat pelanggan puas.
Dengan nilai-nilai perusahaan itu, business plan kami selanjutnya adalah mengembangkan lima pilar bisnis secara paralel. Tidak secara spesifik saya sebutkan setiap pilarnya, tetapi kami melihat peluang dan mencoba inovatif dan terbuka terhadap semua strategic thinking.
Misalnya, di pilar inbound maupun travel & leisure, kami menggandeng perusahaan travel terbesar di dunia, yaitu Carlson Wagonit. Mereka kuat di segmen korporasi. Perusahaan induk biasanya akan menggunakan perusahaan travel yang sama untuk anak-anak perusahaannya di seluruh dunia.
Atau, menggandeng Chan Brothers. Kami bentuk anak perusahaan baru di Indonesia, tapi juga kami bentuk anak perusahaan baru di Singapura. Pemilik sahamnya sama: Panorama dan Chan Brothers.
Tujuannya, mereka bisa menjadi duta kami untuk membawa orang Singapura ke Indonesia, demikian pula sebaliknya. Dari pilar inbound, lantas pilar bisnis travel & leisure juga bisa mendapat bagian. Demikian juga pilar hospitality, seperti hotel dan restoran.
Di pilar transportasi, misalnya, ada juga rencana masuk ke bisnis taksi segmen menengah ke bawah. Cuma, masalah sumber daya manusia (SDM) masih jadi kendala. Bisa saja besok Panorama membeli 1.500 taksi. Tapi, apa ada supir yang baik?
Di samping SDM, kekurangan lainnya antara lain infrastruktur dan konektivitas. Coba bayangkan, ada wisatawan dari Singapura mau pergi ke Manado, tapi tidak ada rute Singapura ke Manado, harus ke Jakarta dulu.
Itu termasuk concern saya sebagai CEO terhadap kendala yang sifatnya eksternal. Sementara secara internal, saya lebih cenderung fokus pada image. Bisnis pariwisata memang harus dibangun dengan kesungguhan. Tapi, hasil sungguh-sungguh bertahun-tahun yang lama itu bisa runtuh dalam beberapa detik.
Potensi dan kendala
Tetapi, secara pribadi, dalam membangun bisnis pariwisata, saya selalu mengikuti filosofi ayah saya, pak Adhi Tirtawisata, pendiri Panorama. Di bisnis pariwisata, kami membangun something from nothing.
Saya pernah ditanya tip-tip bagaimana memimpin Panorama. Saya bilang saja, ini bukan perusahaan roket. Di industri pariwisata itu, prinsipnya modal rasional, logis, dan niat untuk melayani. Itu saja.
Yang jelas, kami bersyukur membangun bisnis di Indonesia. Dari sisi potensi, Indonesia masih sangat besar. Pertama, Amerika kena krisis, Eropa juga. Sekarang eranya Asia; lebih khusus lagi negara kita. Sekarang ini eranya Indonesia. Sudah didengung-dengungkan negara China, lantas India. Setelah India siapa? Pernah muncul nama Indonesia.
Faktanya, Indonesia adalah negara yang sangat diperhitungkan oleh dunia saat ini. Kepercayaan dunia terhadap Indonesia besar. Buktinya, saat krisis 2008, kita tetap bertahan.
Kedua, meningkatnya kaum menengah. Saya pernah baca, dalam waktu lima tahun, golongan menengah ini bisa bertambah tiga kali lipat dari sekarang. Saat ini saja, pendapatan per kapita sudah di atas US$ 3.000, bahkan mendekati US$ 4.000. Karena itulah, banyak perusahaan yang juga mengantisipasi potensi ini.
Ketiga, dukungan pemerintah dengan punya program Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Nasional (Riparnas) dengan empat fokus pengembangan, yaitu destinasi wisata, promosi wisata, industri wisata, dan kelembagaan wisata.
Saya masih optimistis industri pariwisata Indonesia masih bisa maju lantaran menyumbang devisa nomor empat.
