: WIB    —   
indikator  I  

Tahun ini target kami memang ambisius

Oleh Dendi Anggi Gumilang
Tahun ini target kami memang ambisius

Membenahi perusahaan pelat merah dengan aroma birokrasi yang kental butuh kiat tersendiri. Selain membangun kultur perusahaan yang lebih mampu bersaing, terobosan-terobosan bisnis praktis juga kudu segera dilakukan.

Baru mengemban peran itu selama dua bulan, Dendi Anggi Gumilang, Direktur Utama PT Perikanan Nusantara (Perinus) berbagi pengalaman kepada jurnalis Tabloid KONTAN Agung Jatmiko.

Secara resmi saya diangkat menjadi pimpinan PT Perikanan Nusantara (Perinus) pada tanggal 2 Februari 2017. Jadi, hampir baru dua bulan saya menjabat sebagai Direktur Utama Perinus. Sebelumnya, saya menjabat Direktur Operasional Perum Perikanan Indonesia atau Perindo.

Memimpin perusahaan yang bergerak di bidang perikanan yang mengkhususkan diri pada penangkapan serta pengolahan, tentu menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Amanah yang harus saya pegang, secara sederhana, adalah memperbaiki kinerja; baik peningkatan pendapatan, perbaikan infrastruktur, maupun perbaikan kualitas sumber daya manusia.

Perbaikan kinerja menjadi fokus utama. Selama ini Perinus berada dalam kondisi kurang optimal. Pencapaian profit cenderung stagnan selama lima tahun berturut-turut. Peningkatan profit tidak begitu besar. Demikian pula dengan pendapatan.

Aset memang naik karena Perinus mendapatkan Penyertaan Modal Negara (PMN). Namun, sisi produksi atau penangkapan ikan cenderung landai, bahkan tak sesuai target per tahun 10.000 ton. Tahun 2016 lalu, produksi Perinus hanya mencapai 6.000 ton.

Melihat besarnya potensi perikanan di Indonesia, tentu pencapaian Perinus itu tergolong kecil. Menurut saya, meski ada sepuluh perusahaan perikanan seperti Perinus pun, potensi ikan di Indonesia tak akan habis karena sedemikian besarnya.

Segera setelah saya diangkat sebagai pimpinan Perinus, saya langsung bergerak cepat. Tak menunggu lama, Perinus segera mengamankan satu kontrak yang sangat berharga dengan perusahaan Jepang, yaitu Ajirushi.

Kontrak dengan Ajirushi ini merupakan kontrak ekspor gurita 1.000 ton per tahun senilai Rp 50 miliar. Kerjasama ini secara resmi kami dapatkan akhir Februari lalu, hampir sebulan setelah saya menjabat. Pengiriman pertama 30 ton, dua kontainer, akan dilakukan pada bulan April ini.

Sebenarnya, antara Perinus dengan Ajirushi sudah menandatangani kerjasama sejak setahun lalu, cuma entah kenapa Perinus belum melaksanakan kerjasama tersebut. Padahal, Ajirushi sudah menanamkan investasi alat-alat.

Nah, supaya kepercayaan mereka tidak hilang, saya bergerak cepat. Ternyata ada beberapa alat produksi yang tidak dikerjakan Perinus, seperti air blast freezer (ABF) dan cold storage, padahal alat ini sangat penting.

Yang saya lakukan pertama adalah membangun ABF dan cold storage secepatnya, kemudian melakukan negosiasi harga dengan Ajirushi. Begitu harga cocok dan Perinus berhasil menunjukkan niat baik melengkapi ABF dan cold storage, kami melakukan perjanjian kontrak. Untuk membuat ABF ini kami mengeluarkan dana Rp 2,5 miliar dan cold storage kurang lebih Rp 3 miliar.

Ini semua dilakukan dalam waktu tiga minggu. Memang, meski hanya kontrak setahun, kalau Perinus berhasil tidak menutup kemungkinan di tahun-tahun mendatang mereka akan lebih banyak percaya kepada kami.

Program lain yang kami jalankan adalah kerjasama dengan pemerintah daerah dan perbankan untuk pengelolaan perikanan kawasan. Saya sudah melakukan kerjasama dengan 17 Kabupaten dan Kotamadya di Teluk Bone.

Kerjasama ini meliputi penangkapan, pemberdayaan nelayan, dan kalau perlu investasi alat-alat pendukung seperti cold storage, mobil boks, dan mobil pendingin.


Close [X]