EXECUTIVE CORNER CEO TALK
Executive Corner
Tanah Abang bisa menjadi contoh bagi negara lain

Tanah Abang bisa menjadi contoh bagi negara lain

Tanah Abang bisa menjadi contoh bagi negara lain

Pasar Tanah Abang berambisi menjadi pusat perdagangan terbesar di Asia. Pelbagai jurus pun disiapkan, mulai dari menjemput pembeli di titik-titik keramaian sampai menjaring wisatawan di bandara. Radiza Djan, Chief Executive Officer PT Priamanaya Kelola, pengelola Pasar Tanah Abang Blok A dan Blok B, mengungkap detail strateginya kepada wartawan KONTAN Hendra Gunawan, Selasa (5/4) lalu.

Tahun ini, ada beberapa target yang ingin kami capai. Pertama-tama, menyelesaikan Pasar Tanah Abang Blok B yang sudah dibangun sejak 2007. Rencananya, bulan depan Blok B sudah bisa beroperasi semua.

Sebetulnya, saat ini, Blok B sudah beroperasi. Cuma, dari total 4.000 pedagang yang memiliki kios, baru 1.600 pedagang yang membuka kiosnya.

Target pembukaan di Mei besok kami tetapkan agar para pedagang bisa berjualan sebelum bulan puasa. Cuma, berbeda dengan Blok A, Blok B kami khusus untuk pedagang yang berjualan secara grosir.

Dengan beroperasinya Blok B seluruhnya bulan depan, tentu akan semakin mengukuhkan Pasar Tanah Abang sebagai pusat perbelanjaan terbesar. Tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di kawasan Asia.

Saat ini saja, Blok A yang dihuni 8.000 pedagang sudah menjadi pusat perdagangan terbesar di Asia Tenggara. Jadi, bukan tidak mungkin, nanti Pasar Tanah Abang akan menjadi yang terbesar di Asia.

Saya sempat jalan-jalan ke beberapa pusat perbelanjaan yang ada di sejumlah negara, dan saya bandingkan dengan Pasar Tanah Abang. Ternyata, tidak ada yang menyamai Pasar Tanah Abang, terutama jumlah pedagang atau kios.

Semisal di Turki, pusat perbelanjaan terbesarnya hanya memiliki sekitar 1.000 kios saja, jauh lebih sedikit ketimbang Pasar Tanah Abang.

Nah, dengan jumlah pedagang yang bertambah, nilai transaksi jual beli di Pasar Tanah Abang tentunya juga akan meningkat. Dari Blok A saja, omzet satu pedagang rata-rata sebesar Rp 5 juta per hari. Jadi, total transaksi di Blok A mencapai Rp 40 miliar sehari atau Rp 1,2 triliun per bulan.

Dengan beroperasinya Blok B yang bakal dihuni setengah dari jumlah pedagang di Blok A, kami perkirakan akan ada kenaikan transaksi jual beli sekitar 50%. Makanya, jangan heran kalau perbankan berlomba-lomba membuka kantor cabang di Pasar Tanah Abang.

Meski Pasar Tanah Abang sudah terkenal, kami sebagai pengelola tidak berpangku tangan saja. Kami tetap berupaya untuk terus bisa menarik pembeli. Caranya, dengan menambah promosi dan bekerjasama dengan pihak ketiga.

Misalnya, menggandeng maskapai AirAsia. Bentuk kerja samanya bisa bermacam-macam, seperti memberikan kupon belanja kepada penumpang. Sebagai gantinya, kami bisa berpromosi di pesawat mereka.

Kami tengah melakukan negosiasi dengan AirAsia. Intinya, kami berupaya menarik penumpang AirAsia supaya berbelanja di Pasar Tanah Abang.

Selain itu, kami juga ingin menjadikan Pasar Tanah Abang sebagai salah satu tempat tujuan wisatawan bagi turis lokal maupun asing. Untuk itu, kami akan menyediakan shuttle bus di bandara yang bisa mengantar mereka langsung ke sini.

Kami juga akan menyiapkan shuttle bus di beberapa titik di wilayah Jakarta untuk menarik pengunjung. Soalnya, banyak calon pembeli yang sebenarnya ingin berbelanja ke Pasar Tanah Abang tapi mengurungkan niatnya. Mereka punya alasan susah cari parkir dan macet.

Untuk penyediaan fasilitas shuttle bus ini, kami akan berkongsi dengan Cipaganti selaku perusahaan transportasi. Sebagai tahap awal, kami akan mulai di empat titik terlebih dulu. Salah satunya, di Pusat Grosir Cililitan, Jakarta Timur.

Target lain yang juga ingin kami selesaikan adalah masalah kemacetan di sekitar Pasar Tanah Abang. Contoh, di daerah Kebon Jati yang letaknya tepat di depan Blok B. Kini, lahan itu sudah penuh dengan pedagang kakilima. Kami sedang berupaya agar jalan yang mereka pakai bisa berfungsi lagi.

Memang, tidak mudah melakukan itu karena pedagang kakilima di Kebon Jati rata-rata masyarakat yang tinggal di sekitar Pasar Tanah Abang. Namun, kami berupaya untuk bisa memfasilitasi mereka. Salah satunya, dengan menarik mereka agar berjualan di dalam Blok B.

Jadi, kami ingin memberikan kesempatan kepada pedagang kecil agar bisa ikut berdagang di Pasar Tanah Abang.

Tak merasa tersaingi

Tapi, banyak orang yang mengatakan, kehadiran pusat perbelanjaan baru menggerus penjualan di Pasar Tanah Abang. Ya, sekarang memang banyak sekali bermunculan pusat perbelanjaan baru, terutama di Jakarta dan sekitarnya.

Sebenarnya, kemunculan pusat perbelanjaan tersebut justru menguntungkan kami. Sebab, rata-rata pedagang di sana membeli produk dagangannya dari Pasar Tanah Abang. Dan, itu otomatis meningkatkan penjualan pedagang Pasar Tanah Abang.

Begitu juga dengan pusat-pusat perbelanjaan yang ada di kota-kota lain di Indonesia. Ambil contoh di Makassar, Sulawesi Selatan. Beberapa pedagang di Kota Angin Mamiri itu yang saya tanya mengaku membeli barang dagangannya dari Pasar Tanah Abang.

Sekarang, tantangannya adalah bagaimana kami selaku pengelola bisa membuat pembeli dan pedagang di Pasar Tanah Abang merasa nyaman dalam melakukan transaksi.

Itu sebabnya, kami terus melakukan perbaikan, mulai dari memasang penyejuk udara atau AC hingga menjaga eskalator dan lift berfungsi baik.

Ke depan, kami juga ingin menjadikan Pasar Tanah Abang sebagai contoh bagi pusat-pusat perbelanjaan di negara lain. Untuk itu, tidak hanya soal kenyamanan dan pelayanan saja, tetapi juga segala bentuk standar keamanan dan keselamatan gedung juga akan menjadi perhatian utama kami.

Untuk urusan yang satu ini, saya sangat cerewet kepada para tenant yang menyewa kios di sini. Kalau ada salah satu dari mereka menyimpan barang dagangannya di tengah jalan, yang otomatis membuat jalan menjadi sempit, akan kami tegur.

Pasalnya, selain mengganggu pengunjung, jalan juga tidak aman. Contohnya, jika ada sesuatu hal yang tidak diinginkan seperti kebakaran, tentu itu akan mengganggu proses evakuasi ke luar gedung.

Agar bisa menjadi contoh negara lain, kami juga tengah menggandeng para pedagang menjadi anggota Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jakarta Pusat. Tujuannya supaya eksistensi pedagang di sini lebih meningkat dan memudahkan mereka dalam mendapatkan akses pasar ekspor dan impor.

Jadi, saya tidak ingin mereka cuma jadi pedagang, tetapi mendorong mereka untuk lebih berkembang lagi. Saya tidak berharap banyak memang, tapi paling tidak setengah dari pedagang di Pasar Tanah Abang mau bergabung dengan Kadin.

Di luar Pasar Tanah Abang, rencananya kami akan membangun pusat perbelanjaan lagi di daerah Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Kami akan menjadikan pusat perbelanjaan di Cipulir seperti Pasar Tanah Abang. Tapi, saat ini, saya belum bisa bercerita banyak soal Cipulir karena masih dalam proses desain.

Di luar pusat perbelanjaan, kami juga akan melakukan peremajaan terhadap Stasiun Kota. Peremajaan ini tidak melakukan perubahan total, tetapi kami tetap mempertahankan sentuhan-sentuhan sejarah yang ada. Karena, selain sebagai sebuah stasiun pada umumnya, Stasiun Kota juga merupakan objek wisata.



Komentar