Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Terus terang kami terlalu terlena

Oleh M. Arsjad Rasjid P.M
Terus terang kami terlalu terlena

Menyadari kesalahan lalu berusaha bangkit memperbaiki, merupakan tindakan terpuji. Itulah yang berlangsung di Grup Indika Energy saat ini.

M. arsjad Rasjid P.M, Presdir PT Indika Energy, blak-blakan berkisah saat berkunjung ke KONTAN. Wartawan KONTAN Agung Jatmiko menyarikannya untuk Anda.

Saya diangkat sebagai Presiden Direktur PT Indika Energy, Tbk pada April 2016 lalu melalui RUPS dan secara efektif bertugas sejak Mei 2016. Namun, sebenarnya, sebelumnya, saya juga pernah dipercaya memegang jabatan yang sama pada tahun 2000 silam. Jadi, boleh dikata, kali ini saya kembali dipercaya menjadi nakhoda Indika Energy.

Semenjak Mei 2016 memang terjadi perubahan dalam tubuh Indika Energy. Jumlah direksi dikurangi dari sebelumnya tujuh orang, tinggal menjadi tiga orang. Perubahan ini kami perlukan karena kondisi bisnis dan pasar pada saat itu tergolong berat. Dan kami, terus terang, melakukan kesalahan fatal, yakni, terlalu fokus pada growth atau pertumbuhan.

Fokus terpaku mengejar pertumbuhan itu lah yang menyebabkan kami terlena dan tidak bisa melihat ke depan. Kami silau oleh harga batubara yang membubung tinggi di masa lalu, sehingga tak menyangka harga bisa terjun bebas. Imbas dari jatuhnya harga batubara tentu berdampak juga pada kinerja perusahaan.

Kami juga mengurangi jumlah karyawan dari yang saat peak pada tahun 2010 pernah mencapai 10.000 orang, kini menjadi 8.000 orang. Berat, memang, namun penurunan harga batubara saat itu harus kami respon secara cepat pula.

Selama beberapa tahun terakhir kami terus melakukan efisiensi biaya, mengoptimalkan struktur biaya, mengadakan pencadangan dana, memperketat belanja modal, meningkatkan usaha non-batubara dalam portofolio bisnis, serta rasionalisasi kegiatan operasional yang rentan terhadap perubahan drastis harga batubara.

Kini, harga batubara bergerak naik, walau masih diselingi dengan penurunan yang cukup tajam pula. Tren kenaikan harga batubara ini tak serta merta membuat kami kembali terlena. Meskipun harga batubara sempat mencapai US$ 103 per metrik ton, tapi tetap ada kemungkinan harga kembali turun, bahkan bisa saja turun tajam. Jadi, kami bakal lebih fokus menyelesaikan proyek-proyek yang ada dulu.

Tahun lalu memang tahun yang berat. Saya belum bisa memberikan angka pasti karena kinerja sepanjang tahun belum keluar; yang jelas angka masih merah. Sampai kuartal ketiga, kinerja kami masih negatif, rugi bersih sebesar US$ 16,31 juta. Kinerja negatif ini sudah kami alami sejak 2013 silam.