: WIB    —   
indikator  I  

Tidak ada ide yang terlalu bodoh

Oleh Loemongga Hoemasan
Tidak ada ide yang terlalu bodoh

Kendati termasuk pemain baru, PT Asiana Lintas Development mampu tampil menonjol. Bagaimana mereka tetap bisa menjaring pasar properti dalam situasi ekonomi seperti sekarang?

Loemongga Hoemasan, sang president director, berbagi strateginya pada jurnalis KONTAN Agung Jatmiko.

Perjalanan karier saya sebenarnya tidak bermula di sektor properti, melainkan di dunia keuangan. Maklum, latar belakang pendidikan saya ekonomi.

Selepas menyelesaikan studi di Boston College tahun 1992, saya bekerja di PricewaterhouseCoopers (PwC). Tak lama menjadi auditor, saya kemudian bergabung dengan ING Barings dari 1995 hingga 1998.

Saya berhenti dari ING Barings bertepatan dengan kondisi ekonomi Indonesia yang mengalami krisis. Atasan-atasan saya yang rata-rata orang asing, satu demi satu meninggalkan Indonesia. Melihat hal tersebut plus kondisi memang serba tak pasti, saya memutuskan untuk keluar dan rehat hingga 1999.

Memasuki 1999, saya tak serta merta terjun ke sektor properti. Saya sempat membuka usaha sendiri, baik di bidang kuliner, seperti kaf dan restoran sampai usaha garmen join dengan teman, dan buka daycare. Tapi tidak berhasil.

Saya mengalami jatuh bangun. Akhirnya saya bertemu teman yang sudah berkecimpung di properti. Dia bangun kompleks kecil-kecil yang satu kluster berisi enam hingga delapan rumah.

Sebenarnya saya memang memiliki ketertarikan pada bidang properti sejak dulu, makanya sewaktu remaja saya bercita-cita untuk menjadi arsitek.

Namun, apa daya orangtua meminta saya untuk mempertimbangkan rencana tersebut dan menyarankan untuk mengambil jurusan keuangan. Alasannya, bidang keuangan merupakan bidang yang pasti dibutuhkan oleh perusahaan mana pun.

Nah, karena bekal pendidikan saya adalah finance serta berpengalaman menjadi auditor maka saya diajak oleh teman saya tadi bergabung untuk mengurus bidang keuangannya. Mulai saat itu, kami bertiga membuat kluster-kluster.

Setelah itu, baru 2011, saya bergabung di Asiana. Meski bermain di segmen menengah atas dengan pengembangan apartemen luxury, sebenarnya Asiana tak jauh berbeda ketimbang pengembang pada umumnya.

Maksudnya, di sektor properti, yang utama kita harus disiplin soal operasional. Kan, banyak pihak yang terkait, mulai dari desain hingga konstruksi. Jadi, manajemen proyek harus rapi dan on time.

Utamakan kejujuran

Untuk merekatkan berbagai talent di Asiana, saya menggunakan prinsip keterbukaan. Semua yang dilakukan oleh tim Asiana dilakukan secara terbuka dan mengalir, dengan mengutamakan diskusi.\

Semua orang memiliki kreativitas dan ide, sehingga apa yang kami lakukan adalah hasil diskusi. Jadi, saya tidak pernah datang ke kantor terus berkata pokoknya saya ingin bikin seperti ini, titik, tidak begitu.

Dari mulai pemilihan bahan, setiap individu di kantor bebas mengusulkan lahan yang menurutnya cocok. Nanti, berkasnya diberikan kepada divisi business development.

Nah, divisi ini yang nanti mengolah dan membuat SWOT analysis. Setelah itu, proposal akan dipresentasikan ke semua pihak terkait, mulai dari divisi keuangan, marketing dan desain. Masing-masing akan dibedah keunggulan serta kelemahannya.

Semua urun suara. Misal soal arsitek, kan, masing-masing orang memiliki pandangan yang berbeda soal arsitek mana yang bagus. Nah, nanti kami memanggil arsitek-arsitek yang diusulkan dan pandangan tiap arsitek yang dipanggil tersebut akan di telaah lagi oleh satu tim yang akan membuat summary.

Keputusan akan melalui proses voting, meski keputusan final tetap berada di tangan saya. Keputusan final memang betul ada di tangan saya, tapi untuk memutuskan tersebut harus ada proses. Tidak bisa kita sebagai pimpinan serta merta memutuskan segala sesuatu tanpa mendengar pandangan dari orang lain.


Close [X]