: WIB    —   
indikator  I  

Tiga prinsip warisan ayah

Oleh Nicolas Kanter
Tiga prinsip warisan ayah

Dalam memimpin perusahaan sebesar PT Vale Indonesia Tbk, saya hanya belajar beberapa prinsip hidup yang diwariskan oleh ayah saya.

Pertama, yang diajarkan oleh ayah saya adalah pemimpin harus jujur. Prinsip ini menjadi kunci krusial. Salah satu bentuk jujur yang paling sederhana adalah selalu mengikuti apa kata hati.

Lagi pula saya adalah orang yang berani berbicara bahwa benar itu benar dan salah itu salah. Sikap ini tidak akan berubah meskipun berada di bawah tekanan maupun mendapat ancaman.

Pilihan selalu berpihak pada kebenaran lewat tingkah dan ucapan pasti menimbulkan sebuah kepercayaan dari pihak lain. Bagi perjalanan karier profesional, kepercayaan jelas sangat berharga dan tidak bisa dibeli.

Yang kedua, prinsip memimpin adalah memberikan yang terbaik saat bekerja, terlepas dari apapun bentuk pekerjaannya dan posisinya.

Prinsip ini juga menjadi bukti sebuah komitmen dan kualitas profesionalisme seseorang. Dengan memberikan yang terbaik, semua tantangan yang dihadapi oleh seorang pemimpin dapat diselesaikan dengan baik.

Saya secara pribadi tak pernah menolak tugas apapun yang diberikan kepada saya saat bekerja. Sebagai lulusan hukum, saya pernah bekerja di bagian penjualan dan juga mengurus Sumber Daya Manusia (SDM).

Meski tidak sesuai dengan latar belakang, hal ini tetap saya jalani dan tak mengurangi semangat saya untuk bekerja dengan baik.

Dalam sudut pandang yang lebih luas, prinsip ini juga berarti menolak berada dalam zona nyaman. Kalau sudah merasa nyaman berada di satu tempat, kita tak akan mungkin bergerak meski ada yang terlihat lebih baik.

Prinsip ketiga, senantiasa bersyukur dan menjaga emosi agar tetap positif. Bersyukur adalah hakikat manusia agar setiap hal yang dikerjakan bisa memiliki nilai. Nilai ini memang subjektif. Namun dengan rasa syukur pikiran kita bisa selalu positif.

Imbas dari rasa syukur ini adalah kita bisa menjaga emosi dan menghindari energi negatif muncul. Pasalnya, energi negatif bila disalurkan tidak akan memberikan dampak positif.

Salah satu upaya saya agar tidak melecut energi negatif dalam bekerja adalah berusaha terus mengurangi sikap menghakimi orang lain secara sepihak.

Saya berusaha selalu ingin mendengarkan alasan di balik sebuah kejadian. Saya berupaya tidak langsung bertindak hanya dengan argumen yang disampaikan satu pihak.

Dengan tidak menghakimi orang lain, secara tidak langsung sebagai pemimpin bisa menciptakan rasa adil dan perlindungan bagi seluruh karyawan yang saya pimpin.

Berkat ketiga prinsip dasar memimpin inilah saya dipercaya memimpin perusahaan sebesar Vale Indonesia. Gaya kepemimpinan ini sejatinya muncul bukan ketika menjadi bos Vale Indonesia, tapi juga saat memulai karier saya di perusahaan lain.

Kendati begitu, gaya ini baru terasa aplikatif ketika saya benar-benar menjadi pemimpin perusahaan. Sebab prinsip ini bisa langsung dirasakan dampaknya.

Meski masih ada kekurangan, saya percaya dengan tiga prinsip dasar memimpin yang dipelajari dari ayah saya bisa mengantar saya pada keberhasilan. Setidaknya membuat karyawan merasa kondusif bekerja.


Close [X]