: WIB    —   
indikator  I  

Transformasi untuk masuk ke bisnis Baru

Oleh Zainuddin Fanani
Transformasi untuk masuk ke bisnis Baru

 

Jadi, transformasi yang terjadi dalam tubuh Bankaltimtara ini bukan disebabkan karena adanya suatu masalah, melainkan bertransformasi untuk menjadi institusi keuangan yang mampu mengabdi kepada masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Transformasi ini tentu membuka pintu yang lebar bagi kami untuk secara aktif berperan sebagai agen pembangunan dengan masuk ke bisnis-bisnis baru.

Salah satunya adalah penjualan surat utang atau obligasi yang sudah dilakukan oleh kawan-kawan kami, BPD-BPD se-Indonesia.

Nah, mungkin ini yang menjadi langkah kami ke depan yang tentunya akan didahului dengan penetapan peringkat atau rating.

Peluang lainnya, saya sudah menandatangani perihal kerjasama dengan Badan Pengelola Keuangan Haji.

Sebenarnya, tiga tahun yang lalu, kami sudah ditunjuk sebagai bank penerima setoran haji namun dianulir lantaran peraturan dari Kementerian Agama menyebutkan bahwa yang mengelola dana haji harus berstatus PT, jadi kami tidak bisa.

Padahal, Bankaltim saat itu sudah hadir di semua kecamatan yang ada di Kaltim dan Kaltara, sehingga bisa memberikan kesempatan yang luas bagi masyarakat untuk menunaikan ibadah haji.

Nah, setelah kami bertransformasi menjadi PT, kami mendapatkan kesempatan untuk mengulang apa yang menjadi pencapaian kami tiga tahun lalu, yaitu dipercaya sebagai bank penerima setoran haji.

Mudah-mudahan dua hal ini menjadi peluang bisnis bagi kami untuk menghimpun dana masyarakat.

Tentu kita semua memahami apabila ada banyak dana di bank, maka bank akan mengembalikan dana tersebut kepada masyarakat dalam bentuk pembiayaan, investasi, dan sebagainya.

Di sinilah fungsi intermediasi Bankaltimtara akan semakin meningkat dan masyarakat akan mampu menikmati jasa keuangan dari Bankaltimtara.

Kami sendiri ditargetkan hingga akhir 2018 sudah hadir di seluruh 153 kecamatan yang ada di Kaltim dan Kaltara.

Meski kondisi geografis dua provinsi ini cukup menantang, di mana beberapa kecamatan hanya bisa dilalui lewat jalur udara, namun kami optimistis kami bisa hadir dan melayani seluruh masyarakat di 153 kecamatan ini.

Jaringan kantor kami sampai dengan September 2017 ada 346 titik kantor dengan jaringan layanan untuk ATM dan EDC kurang lebih 795 unit.

Jadi, total jaringan kantor dan layanan kami kurang lebih 1.141 unit yang tersebar sampai ke pedalaman dan batas negara.

Bankaltimtara merupakan BPD yang memiliki cakupan wilayah operasional terluas di Indonesia, dengan luas total wilayah 129.066,64 kilometer persegi (km²).

Dengan bentang luas wilayah satu setengah kali luas Pulau Jawa tersebut, saat ini kami sudah hadir 122 kecamatan.

Di antara 27 BPD yang ada di Indonesia, yang bentuk badan usahanya adalah Perusahaan Daerah (PD) per Oktober 2017 adalah kami, Bankaltim.

Namun, posisi Bankaltim di antara BPD se-Indonesia tahun lalu dengan total aset Rp 22,5 triliun kami berada di urutan keenam.

Posisi satu sampai empat berada di pulau Jawa, yaitu BJB, Bank Jatim, Bank Jateng, dan Bank DKI. Sementara nomor lima ditempati Bank Sumut baru kami. Itu secara aset dilihat dari posisi akhir tahun 2016.

Sampai pada posisi per September 2017, aset kami sudah meningkat menjadi Rp 25,5 triliun ada pertumbuhan Rp 2,9 triliun atau 12,9%.

Target kami di akhir tahun 2017 sebenarnya aset kami ditargetkan berada di angka Rp 23,1 triliun, jadi kami sudah melampaui target dari segi aset.

Pembentuk utama dari kinerja ini adalah, dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai Rp 19,02 triliun sampai akhir September 2017.

Untuk penyaluran kredit dan pembiayaan sampai akhir September 2017 mencapai Rp 14,14 triliun. Secara pembiayaan, sebesar 55,35% adalah kredit konsumtif dan lain-lain sedangkan sisanya 44,60% adalah kredit produktif.