: WIB    —   
indikator  I  

Transformasi untuk masuk ke bisnis Baru

Oleh Zainuddin Fanani
Transformasi untuk masuk ke bisnis Baru

 

Kinerja produktivitas dan rentabilitas, kami bisa mencatatkan laba kotor sebesar Rp 535,19 miliar. Jadi, kalau akhir tahun lalu, kami berhasil membukukan laba kotor Rp 621 miliar, sampai September 2017, kami sudah di angka Rp 535,19 miliar.

Jadi, masih ada sekitar Rp 86 miliar-an yang harus dikejar dalam waktu tiga bulan jika ingin menyamakan kinerja dengan tahun lalu. Kami optimistis bisa tercapai.

Dari sisi permodalan, Bankaltim yang sekarang menjadi Bankaltimtara 100% murni milik dua pemerintah provinsi dan 14 pemerintah kabupaten/kota di Kaltim dan Kaltara dengan setoran modal Rp 3,21 triliun.

Di antara 27 BPD se-Indonesia setoran modal ini menempati urutan ketiga. Nomor satu adalah Bank DKI diikuti oleh Bank Jatim.

Ini sebagai bukti komitmen dari seluruh pemerintah daerah yang ada di Kaltim dan Kaltara untuk terus memperbesar dan memperkuat Bankaltimtara sehingga memberikan rasa aman kepada masyarakat untuk terus bertransaksi dengan kami.

Bangga mengabdi

Pangsa pasar kami di Kaltim dan Kaltara juga tergolong besar. Ada 46 bank umum yang beroperasi di wilayah ini, tidak termasuk BPR, dilihat dari total aset dan kredit yang disalurkan share kami mencapai 22%.

Sementara, dilihat dari total DPK share kami mencapai sekitar 20%. Sisanya dibagi antara 45 bank yang lain.

Saya bangga menjadi bagian dari bank yang telah berusia 52 tahun ini, yang telah melewati banyak dinamika dan perubahan namun tetap mampu menjawab kebutuhan, baik itu kebutuhan pemerintah daerah maupun masyarakat.

Saya pun bangga bahwa transformasi ini disikapi dengan sangat baik oleh segenap jajaran Bankaltimtara. Mindset pegawai sudah kami bangun untuk menjadi profesional sejati sejak lama dan memang para pegawai Bankaltimtara menunjukkan kompetensi untuk menjadi profesional sejati yang mampu memberikan yang terbaik bagi nasabah.

Kami memiliki management statement, yaitu mengabdi untuk kesejahteraan bersama. Ini diterjemahkan bahwa kami bekerja itu tidak sia-sia, melainkan amanah untuk mengabdi. Untuk kesejahteraan, tentu semua pihak mengejar kesejahteraan.

Nah, terakhir poin bersama maksudnya, dari pengabdian kami akan memberikan kesejahteraan untuk tiga pihak.

Pertama, pemilik yang tak lain pemerintah daerah yang mendapatkan dividen yang penting karena masuk dalam komponen pendapatan asli daerah (PAD).

Kedua, masyarakat harus sejahtera dengan adanya kami. Makanya, Bankaltimtara hadir sampai kecamatan supaya masyarakat bisa melakukan transaksi dengan mudah dan cepat.

Dengan hadirnya Bankaltimtara, semua sasaran di Indonesia bisa tergapai oleh masyarakat Kaltim dan Kaltara serta meringankan biaya.

Untuk komunikasi, kami menerapkan komunikasi dua arah. Kami mengombinasikan antara arah strategi yang disampaikan oleh RUPS dengan ide yang disampaikan oleh divisi dan cabang yang menghimpun permintaan dan kebutuhan masyarakat yang ada di cabang.

Baru setelah itu, kami lakukan rapat koordinasi rencana bisnis tahunan. Masukan dari cabang dan cabang pembantu sangat penting, karena mereka yang mengenal betul profil nasabah.

Dalam membuat kebijakan, bank itu harus berdasar atas permintaan dan kebutuhan masyarakat, bukan atas permintaan bank saja.

Jadi, permintaan akan kami analisa apakah sesuai koridor hukum atau tidak, serta tentunya analisa dari segi kelayakan bisnis. Saya tidak mungkin mengambil kebijakan yang bertentangan dengan kebutuhan masyarakat.

 

*Artikel ini sebelumnya sudah dimuat di Tabloid KONTAN edisi 20 November -26 November 2017. Selengkapnya silakan klik link berikut: "Transformasi untuk Masuk ke Bisnis Baru"