: WIB    —   
indikator  I  

Visi kami adalah masuk 10 bank terbesar

Oleh Ahmad Irfan
Visi kami adalah masuk 10 bank terbesar

Sebagai bank pembangunan daerah, Bank BJB yang semula berskala daerah telah menjelma menjadi bank skala pasar nasional. Kini, BJB menduduki peringkat ke-18 dari 130 bank di Indonesia.

Kepada jurnalis KONTAN, Merlinda Riska, Ahmad Irfan, Direktur Utama PT Bank BJB, menjelaskan kiat membangun BJB.

Saat ditunjuk sebagai Direktur Utama PT Bank BJB Tbk (dulu bernama PT Bank Pembangunan Jawa Barat dan Banten Tbk) pada Desember 2014, langkah pertama yang saya lakukan untuk membenahi perusahaan ini adalah membangun budaya kerja. Salah satunya dengan budaya silaturahmi.

Dengan adanya budaya silaturahmi, relationship akan terbangun dengan baik. Jadi, pondasi pertama adalah membenahi sumber daya manusia (SDM).

Ketika pertama kali memimpin BJB, banyak beredar surat kaleng atau fitnah hampir di semua lini organisasi. Karena itu, platform pertama yang kami terapkan ialah perbaikan SDM.

Yang saya ciptakan pertama adalah jargon mempersatukan teman-teman di segala lini organisasi untuk mengubah image-nya.

Tadinya image yang tertanam di benak karyawan itu bekerja dengan cara lobi sana lobi sini, dia bisa langsung jadi seorang pimpinan, baik cabang atau wilayah.

Lalu saya ubah image dengan kinerja. Cara saya menghargai karyawan adalah dengan melihat kinerjanya. Ada perubahan yang saya lakukan dari subjektif menjadi objektif.

Demi memompa semangat, saya ciptakan motivasi setiap bertemu dengan para staf di BJB melalui yel-yel “Selamat Pagi”. Staf harus menjawabnya dengan ucapan “Sukses Luar Biasa 130%!”

Kalimat motivasi itu saya gaungkan kepada para staf mulai dari level terendah, level divisi hingga level pimpinan cabang. Tentu, ada makna di balik yel “Sukses Luar Biasa 130%”.

Pesan itu menjadi mindset para direksi agar target pencapaian yang diraihnya bisa 130%, bukan 100%. Mereka harus lari dari convergent untuk berinovasi dan mengejar target 130%.

Dalam waktu satu setengah tahun sejak diterapkan pada Juni 2015 sampai September 2016, kami sudah berhasil meraih target tersebut.

Bagi saya, bekerja tanpa target itu sama saja bekerja tanpa tantangan atau challenge. Padahal, challenge adalah motivasi. Target bukan 100%, hasilnya 90%, biasanya begitu.

Kalau target challenge 130%, kalau tidak berhasil mencapai itu, tetap bisa mencapai 100%. Artinya, kinerja tetap optimal karena sudah 100%.


Close [X]