kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.107
  • LQ45958,38   4,52   0.47%
  • SUN97,12 0,58%
  • EMAS621.140 0,49%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Ada masalah regenerasi di industri tekstil

Oleh Alexander Foe
Ada masalah regenerasi di industri tekstil

Industri tekstil dianggap sebagai sunset industry. Namun, di bawah kepemimpinan Alexander Foe, PT Nagasakti Kurnia Textile Mills mulai memantapkan langkah menuju go public.

Kepada jurnalis KONTAN, Agung Jatmiko, generasi kedua ini memaparkan langkahnya membenahi organisasi serta merintis IPO.

Awal saya masuk ke Nagasakti itu tahun 2003. Tantangan saya waktu itu adalah kesulitan bermanuver. Sebab, pimpinan Nagasakti waktu itu bukan saya, melainkan ayah saya.

Jadi, kalau mau melakukan modernisasi tentu susah. Saya hanya bisa melakukan pembenahan secara mikro namun segala macam urusan menyangkut uang itu dipegang oleh orangtua. Model bisnis seperti ini bisa ditemui di hampir seluruh perusahaan keluarga.

Tongkat estafet kepemimpinan baru diserahkan kepada saya pada tahun 2010. Nah, setelah menjadi pimpinan, barulah saya bisa bebas bermanuver. Langkah pertama yang saya lakukan adalah melakukan audit dan membenahi organisasi.

Selama tujuh tahun masuk Nagasakti, saya selalu berkeliling tiap bagian dan saya melihat harus ada pembenahan terutama terkait soal budaya korupsi yang mengakar di perusahaan.

Contoh, ada orang teknis yang tidak pernah membuat preventive maintenance, melainkan menjaga kerusakan, ada kerusakan yang selalu di-maintain sama dia.

Tujuannya apa? Ya, supaya dia bisa bermain di biaya pemeliharaan dan pengadaan suku cadang. Pasalnya, dulu di Nagasakti tidak ada sistem procurement yang bagus, tidak di-locking sehingga orang teknis bisa melakukan pembelian.

Praktik-praktik seperti ini sudah berjalan lama, lebih dari satu dekade.

Namun, karena dulu profil perusahaan tekstil itu sangat bagus, perusahaan masih mampu meraih margin yang sebesar-besarnya plus tidak ada saingan sebab barang dari China waktu itu tidak masuk.

Tahun 1980-an bahkan harga satu meter kain bisa setara satu gram emas. Zaman sekarang, China sudah masuk dan sudah ada standardisasi produk dan harga sehingga banyak perusahaan yang terlena.

Nah, balik lagi ke soal audit. Periode audit keuangan serta melakukan transparansi keuangan itu sekitar dua tahun. Selama masa itu merupakan periode yang berdarah-darah dan banyak keributan.

Orangtua sampai bilang, saya memimpin perusahaan bukan makin maju, malah makin ribut.


Close [X]